Oleh: km3community | Juni 8, 2008

TAUHID SOSIAL DALAM GERAKAN Al MAUN

Garis-garis peradaban manusia yang semakin berkembang akan selalu melahirkan sebuah hasil-hasil pemikiran yang semakin berfariasi. Fariasi pemikiran-pemikiran para pemikir bisa jadi sebuah hasil murni pemikiran mereka, bisa jadi merupakan pengembangan dari sebuah pemikiran yang sebelumnya pernah dilontarkan oleh para filsuf-filusuf yang pernah lahir pada abad-abad sebelumnya.

Pemikiran-pemikiran tersebut pada umumnya lahir dari sebuah realita masyarakat yang sering tidak sesuai dengan tatanan hidup yang unik dan tidak normal. Kondisi masyarakat yang memiliki taraf hidup yang berbeda, sering terjadi jurang pemisah antara mereka, yang merasa dirinya kaya sering enggan untuk bergaul dengan yang miskin, sebaliknya pula yang miskin, mereka merasa minder dengan kemiskinannya sehingga mereka sering mengelompok dengan kelompok yang mereka angga senasib.

Permasalahan demi permasalahan akan selalu datang, dan hampir sebagian besar permasalahan datangnya selalu di luar perhitugan dan perencanaan manusia. Oleh karena itulah manusia senagai makhluk tuhan yang paling mulia di berikan akal budi pekerti sehingga, manusia dapat berfikir bagaimana mengatasi sebuah permasalahan-permasalahan hidup, baik secara individu maupun sosial[1].

Masalah ketimpangan sosial seperti pada yang terjadi pada saat ini sudah bukan menjadi permasalahan yang baru, kondisi tersebut telah lama terjadi sejak zaman nabi-nabi terdahulu, yang mana banyak sekali kaum miskin yang secara tidak langsung tertindas oleh mereka yang memiliki harta berlebih. Problem kemiskinan hampir semua dialami oleh negera-negara di dunia, tidak terkecuali negara maju, akan tetapi standar kemiskinan antar negara satu dengan yang lainya tentu tidak sama. Dan hampir dipastikan deluruh penduduk di dunia tanpa terkecuali secara lahiriah tidak ingin terlahir dengan miskin.

Sebagai umat islam kita harus bisa introspeksi diri. Sebagai umat yang besar kita patut bertanya, apakah yang bisa kita berikan kepada saudara kita di pinggir jalan sana?apakah kita pantas memberikan bantuan dana kesana-kemari sementara saudara kita masih dalam keadaan lapar, tentu kita dapat merenungkan semuanya.

Dalam surat almaun surat 1-3 yang berbunyi:

 

            Artinya : Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?

 

            Artinya : itulah yang menhardik anak yatim,

 

            Artinya : dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.

Kalau kita cermati bersama dari ayat 1-3 surat almaun di atas di dalamnya terdapat salah satu jenis aplikasi tauhid sosial. Konsep tauhid yang intinya adalah meng-ESAkan alloh dalam konsep praktisnya adalah menjalankan semua perintah dan menjauhi larangan, dan salah satu perintah Alloh kepada manusia adalah kita memiliki sikap tenggang rasa dan kepedulian sosial sebagai aplikasi dari penerapan tauhid sosial.

Dalam kandungan ayat 2-3 terdapat salah satu bentuk sinple dari sikap kepedulian sosial dan tenggang rasa yaitu, larangan kepada siapa saja untuk tidak mengabaikan anak yatim dan orang miskin. Sebagai manusia yang telah di berikan nikmat yang cukup, tidak ada salahnya apabila dalam mensyukuri nikmat Alloh kita dapat menyisihkan senagian harta kita untuk membantu saudara-saudara kita yang kesusahan.

Sebagai umat islam memang kita diutamakan untuk memberi dari pada menerima. Dalam surat Al Insan ayat 8 yang berbunyi :

 Dan mereka memberikan makanan yang di sukainya kepada orang miskin, anak yatim yang di tawan.

Dalam surat tersebut dapat kita fahami bersama bahwa dalam memberikan bantuan jangan pilih-pilih. Selama ada orang yang membutuhkan bantuan kita entah itu mantan musuh kita, janganlah kita mengabaikannya dan menunggu disuruh dalam memberikan bantuan kepadanya, karena sekicil apapun bantuan kita apabila diniati dengan tulus ikhlas maka akan memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat bagi kita maupun pihak yang kita beri.

 

Bagaimana denga kita?

Kita sebagai cikal bakal generasi Qur’ani yang mengaku berdasarkan Al Qur’an dan sunah mulai sekarang harus memulai dari saat ini. Masih banyak saudara-saudara kita yang dalam kesusahan. Tidak usah kita harus melakukan sesuatu yang besar, akan tetapi sesuatu tersebut tidak di dasari dengan perasaan yang ikhlas karena Alloh.

Contoh tokoh yang sangat peduli dengan keadaan sosial adalah Kyiai Haji Ahmad Dahlan. Bagaimana sepak terjangnya dalam memberantas syirik yang menggelayuti keadaan umat islan saat itu. Selain kondisi tersebut penjajahan mental yang sudah terjadi berabad-abad, semakin memperparah kehidupan sosial masyarakat saat itu. Banyak pengangguran dan kemiskinan merajalela pada akhirnya dapat di tekan dengan sedemikian rupa, walaupun dengan menghadapi halangan yang cukup luar biasa dari orang yang tidak suka dengannya.

Sedikit-demi sedikit dengan gerakan Al Maun yang di dengungkan pada saat ini bisa kita lihat organisasi yang ia dirikan menjadi salah satu organisasi dan ormas yang disegani di Indonesia dan seluruh dunia.

Sebagai penutup izinkanlah kami menukil surat Al baqoroh ayat 14.

Artinya : Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.


[1] Mahasiswa PLS UNY, mantan Kabid Dakwah IMM UNY, mantan Kabid Kader KM3

[1] Pengantar ilmu pendidikan, MKU UNY

[2] Amin Rais, tauhid sosial

[3] Dari Djamaludin Al Afgani sampai Ahmad Dahlan, PP Muhammadiyah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: