Oleh: km3community | Juni 6, 2008

Globalisasi dan Tantangan Dakwah *)

      Pada era globalisasi ini kita menyaksikan terjadinya persaingan—kalau tidak dapat dikatakan pertarungan—yang tidak seimbang antara apa yang dikelompokkan sebagai Barat dan Timur, atau Utara dan Selatan. Dari segi ilmu pengetahuan, teknologi dan pandangan hidup, dunia dibagi menjadi Barat dan Timur. Barat untuk negara-negara yang maju ilmu pengetahuan dan teknologinya serta punya pandangan hidup rasional dan sekuler; Timur sebaliknya. Sedangkan dari segi ekonomi, dunia dibagi menjadi Utara dan Selatan. Utara untuk negara-negara yang maju ekonominya, sedangkan Selatan untuk negara-negara berkembang dan terbelakang. Letak geografis sama sekali tidak menjadi pertimbangan. Maroko yang terletak di Barat dimasukkan dalam kelompok Timur, sementara Jepang yang terletak di Timur dmasukkan dalam kelornpok Utara. Australia yang terletak di Selatan dimasukkan kelompok Utara. Seluruh negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI), termasuk Indonesia, masuk dalam kelompok negara-negara Timur dan Selatan. Dengan kemajuan teknologi komunikasi yang demikian hebat, masing masing anggota masyarakat dunia dapat bekerja sama, bersaing dan saling mempengaruhi dengan bebas. Sekat-sekat geografis dan jarak yang berjauhan tidak lagi menjadi hambatan. Dari segi ekonomi, setelah pasar bebas ASEAN (AFTA) kita juga menyaksikan pasar bebas Asia Pasifik (APEC) dan terakhir pasar bebas Dunia (WTO). Tetapi karena kekuatan modal, sumber daya manusia, manajemen, teknologi dan industri dikuasai oleh negaranegara Utara. Akibatnya persaingan yang terjadi persaingan yang tidak seimbang. Khusus Indonesia, jangankan untuk tingkat dunia, tingkat ASEAN pun kita kesulitan untuk memenangi persaingan. Begitu juga dari segi budaya—dan ini yang lebih berbahaya lagi—bermacammacam ideologi, paham dan gaya hidup akan saling mempengaruhi dengan cepat, mengubah dengan cepat pula tatanan masyarakat. Sekali lagi, walaupun secara teoritis semua anggota masyarakat dunia saling mempengaruhi, karena kekuatan yang tidak seimbang, yang akan menguasai dan memaksakan pandangannya adalah negara-negara Barat. Sebagai ilustrasi, kalau kita pergi ke Eropa atau Amerika, sudah dapat dipastikan kita tidak akan dapat menonton acara-acara televisi dari Indonesia. Tetapi sebaliknya jika kita buka stasiun TV Indonesia mana pun, dengan mudah akan kita dapatkan acara-acara produk Barat. Khusus untuk Indonesia, tidak hanya film-film Hollywood yang mudah kita tonton, bahkan film-film Bollywood dan Amerika Latin pun tidak pernah absen muncul di TV-TV kita! Sadar atau tidak, pengaruhnya sangat besar dalam pertarungan budaya. Pandangan dan gaya hidup yang bertentangan dcngan ajaran Islam akan mcmpengaruhi anak-anak kita, bahkan mungkin juga orang dewasa. Sebagai akibat dan pertarungan budaya yang tidak seimbang di atas, maka kita dapat menyaksikan tcrjadinya perubahan-perubahan alam pikiran yang cenderung pragmatis, materialis, dan hedonis, menumbuhkan budaya inderawi (kebudayaan duniawi yang sekuler) dalam kehidupan modern abad ke-20 yang disertai dengan gaya hidup modern memasuki era baru abad ke-21 atau abad kc-15 Hijriah sekarang ini. Penetrasi budaya dan multikulturalisme yang dibawa oleh globalisasi akan makin nyata dalam kehidupan bangsa. Mau tidak mau, suka tidak suka, setiap negara atau bangsa akan masuk dalam arus globalisasi. Yang tidak dapat berenang akan tenggalam dalam pusaran arus yang sangat deras tersebut. Apalagi negara-negara Barat atau Utara menghendaki globalisasi tentu saja bukan tanpa kepentingan nasional masing-masing, baik ekonomi, budaya maupun ideology atau paling kurang pandangan hidup. Dunia Islam yang semuanya tanpa kecuali masuk Timur atau Selatan tentu saja tidak akan mampu menahan laju globalisasi itu, apalagi menghentikannya. Karena itu, globalisasi sudah merupakan realitas sejarah yang tidak dapat ditolak. Globalisasi adalah konsekuensi logis dari kemajuan teknologi komunikasi. Globalisasi sendiri sebenarnya sejalan dengan ajaran Islam, ajaran atau agama yang diturunkan sebagai rahmat alam semesta. Jika globalisasi digunakan untuk menduniakan nilai-nilai moral islami, baik yang bersifat personal (personal morality) maupun yang public (public morality), maka kehidupan umat manusia di dunia dapat berjalan dengan tertib, aman, damai dan sejahtera. Ringkasnya, secara normatif globalisasi sebenarnya netral, tergantung siapa dan untuk apa digunakan. Dapatkah umat Islam memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan dakwah Islam? Mungkin banyak yang pesimis, apalagi melihat betapa tidak berdayanya umat Islam menghadapi tekanan negara-negara Barat atau Utara dalam berbagai aspek kehidupan. Invasi Amerika Serikat (AS) dan sekutunya ke Irak adalah bukti betapa tidak berdayanya umat Islam menghadapi kekuatan negara maju, utamanya AS sebagai satu-satunya super power sekarang ini setelah Uni Soviet runtuh. Pertanyaan yang relevan dan mendesak sekarang ini adalah bukan “dapatkah umat Islam memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan dakwah” tapi “dapatkah umat Islam bertahan menghadapi serangan globalisasi.” Apakah umat Islam akan tenggelam atau masih mampu menggapai-gapai untuk sekedar tidak tenggelam atau memperlambat kehancurannya? Umat Islam memiliki potensi yang apabila dikelola dengan baik dapat membantu setidaknya pertahanan diri, syukur-syukur mempengaruhi pandangan dan gaya hidup masyarakat dunia. Kita memiliki: (1) jumlah penduduk Muslim yang besar (1,2 Milyar

 

untuk dunia Islam, dan sekitar 200 juta untuk Indonesia); (2) sumber daya alam yang sangat menggiurkan negara-negara Barat; (3) pernah mengalami sejarah masa lalu yang gemilang (Indonesia bagian dari imperium Islam yang pernah menguasai sepertiga dunia); dan (4) ajaran Islam yang sejalan dan mendorong kemajuan dalam berbagai kehidupan serta memberi pegangan moral yang kuat. Masalahnya, jumlah penduduk dunia Islam baru besar dari segi kuantitas tapi lemah dari segi kualitas. Yang berpendidikan tinggi relatif masih kecil—Indonesia misalnya, masih di bawah 10 %. Lemahnya kualitas sumber daya manusia itu berakibat lemahnya penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam; belum lagi mental korup yang dimiliki para penguasa dan pengelola kekayaan alam. Selain itu berakibat tidak adanya persatuan umat Islam dunia dalam arti yang sebenarnya. Memang ada beberapa organisasi dunia Islam, baik yang bersifat resmi antarpemerintah (seperti OKI) ataupun yang swasta (seperti Rabithah ‘Alam Islami), tetapi belum efektif disebabkan berbagai kepentingan atau ego para pemimpinnya. Belum lagi pada dataran umat, banyaknya aliran teologi, mazhab

fikih, organisasi massa, dan partai politik terkadang bisa menyebabkan kekuatan umat menjadi tidak ada berarti. Umat Islam juga kerap tidak banyak belajar dari sejarah. Bukubuku sejarah Islam dipenuhi oleh kisah-kisah suksesi para penguasa, bukan kisah-kisah kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan. Padahal tidak jarang suksesi itu terjadi secara berdarah, yang oleh sebagian pengikut setia aliran atau kelompok tertentu luka lamanya itu dipelihara hingga sekarang bahkan diwariskan turun-temurun. Tentu saja penyebab semua masalah di atas adalah semakin jauhnya umat Islam dari ajaran Islam. Padahal ajaran Islam dalam sejarah sudah terbukti memberikan kekuatan yang luar biasa dengan kekomprehensifan, keseimbangan, menghidupkan dan berpandangan jauh kedepannya. Bangsa Arab sebagai contoh, tanpa Islam mereka hanyalah suku-suku nomaden yang sama sekali tidak diperhitungkan dunia. Tetapi dengan Islam mereka ke luar dari jazirah Arabia mengalahkan dua imperium raksasa waktu itu (Romawi dan Persia) hingga menguasai sepertiga dunia. Mari kita lihat sekarang, tatkala banyak negara Timur Tengah mengusung ideologi arabisme dan sosialisme atau sekulerisme dengan meninggalkan Islam, mereka menjadi bulan-bulanan Amerika dan sekutunya tanpa dapat berbuat apa-apa. Sejarah Turki juga dapat menjadi pelajaran bagi kita, bahwa tanpa Islam, Turki hanyalah sebuah negara berkembang yang banyak utang dengan laju inflasi yang sangat tinggi pula.

* * * *

Untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan di atas, dan mengatasi kelemahankelemahan yang dihadapi dalam rangka menghadapi tantangan globalisasi, salah satu alternatifnya adalah menguatkan dakwah Islam baik dari segi materi, pesan yang disampaikan maupun dari segi motode yang digunakan. Dakwah Islam tidak boleh hanya menyentuh kulit-kulit ajaran Islam semata, tetapi juga masuk ke inti dan esensi ajarannya. Karena ajaran Islam bersifat komprehensif, maka dakwah Islam pun haruslah bersifat komprehensif. Pemahaman dan penerapan Islam secara parsial menyebabkan kekuatan agama ini tidak kelihatan bahkan tidak efektif. Untuk ini, metode dakwah harus diperbarui agar sesuai dengan perkembangan zaman. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi harus dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Dakwah tidak hanya terbatas menggunakan media tradisional (mimbar) tapi juga menggunakan multimedia. Begitu juga jaringan dakwah harus diperkuat; kerja sama antar lembaga dakwah dunia harus ditingkatkan. Perbedaan-perbedaan aliran, mazhab atau pendekatan dakwah harus disikapi secara bijak. Lakukanlah kerja sama dalam hal-hal yang disepakati, bertoleransilah dalam hal-hal yang berbeda pendapat! Selain itu pendidikan tidak boleh diabaikan. Ini adalah aspek paling penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Umat Islam harus dapat memadukan dua sumber ilmu yang dua-duanya berasal dan Allah: ilmu-ilmu kewahyuan dan ilmu-ilmu kealaman. Khazanah Islam digali, kemajuan ilmu pengetahuan Barat dimanfaatkan. Sistem pendidikan diperbarui dan disempurnakan.

 

 

*) Tulisan ini pernah disampaikan pada diskusi publik Sciences, Yogyakarta, 19 April 2004 

oleh : Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc.  Penulis adalah doktor tafsir Al-Qur’an lulusan Universitas Islam Negeri Yogyakarta. Selain Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, penulis menjabat Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2000-2005. Aktif mengasuh rubrik keagamaan di media massa, serta menulis dan menyunting buku-buku keagamaan. Ulümuddîn Digital Journal Al-Manär Edisi I/2004.

 

 

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: