Km3community’s Weblog

Desember 17, 2008

“Islam Agama Anti Penindasan”

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — km3community @ 6:57 am

ISLAM AGAMA ANTI PENINDASAN1
Oleh: Saiful Azhar Aziz2

Pada dasarnya, semua agama tidak diturunkan dalam ruang hampa, agama diadakan sebagai rahmat untuk semesta alam. Agama dilahirkan untuk menertibkan chaos dan kekacauan yang diproduk manusia. Dalam bahasa lain, semua aturan dan syariat itu diturunkan untuk membawa manusia dari dunia gelap ke dunia terang. Dari peradaban jahiliyah ke peradaban insaniyyah.3
Kalau lebih dicermati, dalam catatan sejarah, semua agama dan juga semua Nabi selalu menjadi musuh suatu peradaban kemungkaran. Dengan alasan apapun, peradaban yang meminggirkan dan menindas sesama selalu akan dimusuhi oleh Tuhan dan para Nabi-Nya. Seluruh pemeluk Islam yakin, kalau kedatangan Muhammad sebagai Nabi adalah untuk membela dan membebaskan kaum-kaum tertindas. Dia selalu menjadi harapan dan pelindung kaum fakir, kaaum miskin, anak-anak yatim, perempuan janda yang terusir, dan juga para budak yang dianiaya tuannya. Islam dan Muhammad adalah sahabat sekaligus penolong kaum mustad’afin, kaum yang lemah secara sosial ekonomi maupun kaum yang dilemahkan oleh sistem sosial yang mungkar dan tidak adil.
Bila kita amati bersama, bagaimana roda zaman telah kembali. Ketika Islam jatuh bangun mempertahankan eksistensinya sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin. pada fase tersebut, keterpurukan secara mental menimpa bangsa jahiliyah ketika itu dan berubah menjadi bangsa yang disegani dengan kedatangan utusan-Nya hingga khulafaur rasyidin. Namun, kita bisa melihat sendiri, bagaimana keadaan umat Islam saat ini berada di sudut peradaban. Mengapa demikian?. Mari kita bertanya pada AlQur’an, “Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian,

1 Dibuat sebagai syarat mengikuti Latihan Kepemimpinan Mahasiswa Kader Bangsa yang diselenggarakan oleh BEM UAD pada tanggal 30 april-2 mei 2008.
2 Penulis adalah Gubernur BEMF. Psikologi UAD 07-08; Kabid. Kader IMM KomFak. Psikologi UAD 07-08; Koor. Dakwah KM3 Yogyakarta 07-08.
3 Kumpulan Makalah Seminar Nasional Agama dan Kemungkaran Sosial; “mengajak agama membicarakan kaum New-mustad’afin” di Gedung Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta pada tanggal 26 april 2008.


kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran” (QS. Al-‘Asr: 1-3). Secara konseptual, nilai-nilai ketuhanan telah banyak diingkari oleh umat Islam saat ini, dimana rezim yang berkuasa dan rakyat meronta-ronta mengusung makna ‘penindasan’. Ketika keimanan, kebajikan, kebenaran, dan kesabaran sudah menjadi ‘barang bekas’, banyak ditinggalkan. Maka, apa yang terjadi, kekurangan dimana-mana. Para pemimpin bangsa ini merasa sudah memberikan apa yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya kepada rakyatnya, begitu pula para rakyat ‘proletar’ berteriak, bahwa para pemimpin negeri ini tidak pernah memberikan hak-hak nya sebagai warga Negara, tidak ada konsep memanusiakan manusia, yang ada hanya pahala-pahala politik semata. Dengan demikian, menimbulkan berbagai masalah yang tak ada henti-hentinya. Apa yang bisa kita lakukan?, bertindak ataukah berbicara?.
Bukan maksud saya untuk mengatakan, bahwa sekarang ini bukan waktunya untuk bertindak dan bekerja, sebab berbicara dan bertindak, menganalisa dan mengamalkan harus erat bergandengan. Inilah praktik Rosul. Beliau tidak pernah memisahkan kehidupan menjadi dua, bagian-bagian pertama khusus untuk berbicara dan bagian kedua khusus untuk bertindak. Maka sungguh naïf mereka yang menyatakan, bahwa “kita telah cukup banyak berbicara dan bahwa sekarang adalah waktunya untuk bertindak”.
Tugas intelektual hari ini ialah mempelajari dan memahami Islam sebagai aliran pemikiran yang membangkitkan kehidupan manusia, perseorangan maupun masyarakat, dan bahwa sebagai intelektual kita memikul amanah demi masa depan umat manusia yang lebih baik. Kita harus menyadari tugas ini sebagai tugas pribadi dan apapun bidang studinya kita harus senantiasa menumbuhkan pemahaman yang segar tentang Islam dan tentang tokoh-tokoh besarnya, sesuai bidang masing-masing. Karena Islam mempunyai berbagai dimensi dari aspek maka setiap orang bisa menemukan sudut pandang yang paling tepat sesuai dengan bidangnya.4
Salah satu contoh terdapat dalam kesetaraan gender dalam peran publik, dalam diskursus feminisme dikenal istilah peran domestik dan publik. Yang pertama, berarti peran perempuan dalam rumah tangga, baik sebagai isteri maupun ibu.

4. Paradigma Kaum Tertindas, Ali Syari’ati. 2001, Islamic Center Al-Huda

Peran ini biasa disebut dengan sebutan ibu rumah tangga. Sedangkan yang kedua berarti peran perempuan di masyarakat, baik dalam rangka mencari nafkah maupun aktualisasi diri dalam berbagai aspek kehidupan; sosial-politik-ekonomi-pendidikan-dakwah dan lain sebagainya.5
Dalam konteks kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, pertanyaannya adalah apakah perempuan diizinkan mengambil peran publik sebagaimana halnya laki-laki, atau peran perempuan dibatasi di dalam rumah tangga semata, atau paling kurang dibatasi sehingga ada peran-peran tertentu tidak boleh dimainkan oleh perempuan sebagaimana halnya laki-laki?.
Hal ini menjadi perbincangan yang menarik ketika substansi keadilan tidak didapatkan oleh kedua belah pihak, yaitu laki-laki dan perempuan. Secara biologis memang kedua makhluk ini sangat berbeda, dimana dominasi kelemahan terdapat pada kaum perempuan. Hal tersebut yang menjadi bulan-bulanan kaum laki-laki yang terlihat lebih kuat dibanding perempuan untuk melakukan segala aktfitas penindasan, entah secara fisik, mental maupun peran publik. Kaum perempuan merasa, sabotase kaum laki-laki sudah berlebihan dengan tidak memberikan ruang-ruang kreatifitas dan aktifitas yang setara dengan kaum laki-laki, bahkan pengelolaan tampuk kepemimpinan pun perlu adanya keterlibatan kaum perempuan di dalamnya hingga posisi-posisi strategis pada hierarki kekuasaan.
DR. Nasaruddin Umar, MA. Dalam bukunya Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Qur’an berpendapat bahwa, ada beberapa variabel yang dapat digunakan sebagai standar menaganalisa prinsip-prinsip kesetaraan gender dalam AlQur’an. Variabel-variabel tersebut antara lain sebagai berikut:6
1. Laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai hamba.
(QS. Az-Zaariyaat 51:56), (QS. Al-Hujuraat 49:13), (QS. An-Nahl 16:97)

5 Kesetaraan gender dalam Alquran, DR. H. Yunahar Ilyas, Lc. MA. Labda Press. YK 2006
6 DR. Nasaruddin Umar, MA. Dalam bukunya halaman 247-264 dan makalah Dr. Siti Syamsiyatun pada Seminar Nasional Agama dan Kemungkaran Sosial “mengajak agama membicarakan kaum new-mustad’afin di Gedung PP. Muhammadiyah Yogyakarta pada tgl 26 april 2008.


2. Laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai hamba.
(QS. Az-Zaariyaat 51:56), (QS. Al-Hujuraat 49:13), (QS. An-Nahl 16:97)
3. Laki-laki dan perempuan sebagai khalifah di bumi.
(QS. Al-An’am 6:165), (QS. Al-Baqarah 2:30)
4. Ruh semua laki-laki dan perempuan menerima perjanjian primordial untuk mengakui Allah sebagai Rabb.
(QS. Al-A’raf 7:172), (QS. Al-Isra’ 17:70), (QS. Al-Ma’idah 5:89), (QS. Al-Mumtahanah 60:12)
5. Adam dan hawa yang mempresentasikan manusia laki-laki dan perempuan terlibat dalam drama kosmis turunnya mereka dari surga menuju ke bumi.
(QS. Al-Baqarah 2:35), (QS. Al-A’raf 7:20-23), (QS. Al-Baqarah 2:187)
6. Laki-laki dan perempuan berpotensi meraih prestasi.
(QS. Ali-Imran 3:195), (QS. An-Nisa’ 4:124), (QS. An-Nahl 16:97), (QS. Ghaafir 40:40)

Pada zaman Muhammad yang kemudian menjadi Nabi dan Rosul SAW, Islam datang membawa pencerahan kepada masyarakat jahiliyah. Pada saat itu, perempuan tak jauh beda dengan barang dagangan yang diperjualbelikan, perzinahan disana-sini, penindasan hak-hak perempuan sangat kental terjadi, mulai dari pendidikan, militer, politik, ekonomi, dan lain sebagainya. Anak yang lahir perempuan merupakan aib yang sangat nyata bagi masyarakat jahiliyah ketika itu. Namun bagaimana Islam datang membawa suatu perubahan yang sangat monumental. Hak-hak perempuan diangkat, harkat martabat sebagi perempuan serta harga diri sebagai perempuan dimuliakan dengan berbagai aturan-aturan yang menjadikan betapa pentingnya kehadiran perempuan di muka bumi ini.
Salah satu cara untuk mengatasi hal semacam itu, Islam dengan berani mengimplementasikannya ke dalam nilai-nilai kemanusiaan.
Nilai-Nilai Kemanusiaan, yaitu: ilmu, amal, kebebasan, dan keadilan.8

8 Sistem masyarakat Islam dalam AlQuran dan sunnah, DR Yusuf Qardhawi, 1997. Maktabah Wahbah Cairo. Mesir

Ilmu merupakan salah satu nilai yang luhur yang dibawa Islam dan yang tegak di atasnya kehidupan manusia baik secara moril maupun materiil, duniawi maupun ukhrawi. Islam menjadikannya sebagai jalan menuju keimanan dan yang memotivasi amal. Sekaligus karunia (ilmu) ini pula yang membuat, manusia diberi amanah sebagai khalifah di muka bumi ini. Karena dengan ilmu tersebut, Adam sebagai bapak manusia diberi kelebihan atas malaikat (dan makhluk lainnya) yang sempat penasaran sehingga mempermasalahkan pemberian amanah ini. Dengan alasan bahwa mereka (para malikat) lebih berbakti beribadah kepada Allah daripada manusia yang suka membuat kerusakan di bumi dan menumpahkan darah.
Sesungguhnya Islam adalah agama ilmu, dan AlQuran adalah kitab ilmu. Ayat-ayat AlQuran yang pertama kali turun kepada Rosulullah SAW adalah “Iqra’ bismi Robbikal ladzii khalaq”. Mambaca adalah kunci untuk memahami ilmu, dan AlQuran merupakan “Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa arab, untuk kaum yang berilmu.” (Fushshilat:3). AlQuran telah menjadikan ilmu sebagai asas dan standar kemuliaan antara manusia. Allah SWT berfirman:
“Apakah sama orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang tidak berilmu.” (Az Zumar: 9).
AlQuran telah menjadikan ilmu sebagai asas dan standar kemuliaan antara manusia. Allah SWT berfirman:
“Apakah sama orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang tidak berilmu.” (Az Zumar: 9).
Ilmu salah satu solusi yang tepat untuk meminimalisir terjadinya bentuk-bentuk penindasan dalam skala yang lebih konkret. Ketika seseorang memiliki kapasitas pengetahuan yang cukup untuk melihat adanya suatu ketidakadilan, maka individu tersebut akan mengerahkan energi-energi secara psikis maupun fisik sebagai bentuk perlawanan terhadap sesuatu yang menekan dirinya. Islam sebagai agama ilmu, menjawab persoalan itu. Bagaimana ilmu dijadikan sebuah standar kebebasan seseorang untuk mengaktualisasikan kreatifitas dan aktifitasnya dalam berinteraksi dengan masyarakat, keluarga, dan interaksi dengan dirinya maupun Tuhannya. Kemudian, apa yang terjadi sesungguhnya?. Ketertindasan seseorang merupakan kebalikan dari keberdayaan seseorang dalam melihat fenomena yang ada pada dirinya maupun lingkungan disekitarnya. Keterkungkungan pola pikir dan terbelenggunya daya gerak manusia adalah salah satu indikasi telah terjadinya suatu bentuk penindasan. Dengan ilmulah itu itu semua dapat dibebaskan.
Amal adalah buah ilmu, amal juga merupakan buah keimanan yang benar, karena tidak mungkin ada keimanan tanpa amal. Ketika ilmu sudah menjadi pijakan riil dalam bergerak dan berkarya, maka pohon akan sangat bermanfaat disaat buahnya dapat dirasakan oleh orang yang ada disekitarnya. Oleh karena itu, pengamalan ilmu sangat diperlukan sebagai implikasi dari kebebasan seseorang yang kemudian diimplementasikan ke dalam nilai-nilai kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. Seorang mahasiswa ketika melihat suatu fenomena sosial yang merugikan secara personal maupun lingkup masyarakat yang lebih luas, dengan pengetahuan tersebut ia sosialisasikan ke dalam bentuk pemahaman pola pikir masyarakat setempat. Kemudian melakukan penelitian lebih jauh dengan apa yang telah terjadi dalam suatu kebijakan-kebijakan pemerintah yang dilihat terdapat bentuk-bentuk pengekangan hak-hak kemasyarakatan, itu semua menelurkan kesadaran masyarakat yang akhirnya penolakan dan perlawanan disana sini untuk mendapatkan keadilan. Itulah amal, ketika ilmu sudah menjadi amal, maka akan sangat bermafaat bagi orang-orang disekitarnya.
Diantara nilai-nilai kemanusiaan yang juga sangat diperhatikan oleh Islam adalah “kebebasan”, yang dengannya dapat menyelamatkan manusia dari segala bentuk tekanan, paksaan, kediktatoran, dan penjajahan. Kebebasan disini meliputi: kebebasan beragama, kebebasan berpikir, kebebasan berpolitik, kebebasan madaniyah (bertempat tinggal) dan segala bentuk kebebasan yang hakiki dalam kebenaran.
Adil (keadilan), apa itu adil?. Yang dinamakan adil ialah proporsional, di dalamnya terdapat porsi-porsi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Dalam satu keluaraga, dimana terdapat tiga orang anak dengan tingkat pendidikan yang berbeda, mulai dari TK, SD, dan SMP. Dalam persoalan sederhana saja, yaitu pengeluaran kebutuhan sekolah, entah itu persoalan seragam, jajan, alat tulis, buku paket, privat dan lain sebagainya.. Orangtua yang adil, yaitu memberikan kebutuhan pengeluaran yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Apabila keadilan itu diartikan sebagai suatu yang harus sama dan seimbang. Maka, keadilan itu justru menyengsarakan anak tersebut. Mengapa?, apabila orangtua mereka memberikan dana yang sama, semisal mereka seribu rupiah (sama semua). Maka keadilan tersebut tidak didapatkan oleh masing-masing anak. Karena memang kebutuhan mereka berbeda-beda. Namun, ketika kebutuhan itu dipenuhi sesuai porsi masing-masing anak, maka penggunaannya akan sangat efektif dan bermanfaat.
Islam dalam perspektif merupakan agama anti dalam segala bentuk penindasan dan ketidakadilan. Islam sebagai rahmatan lil ‘alaamin mampu mengakomodir segala bentuk perbedaan dan mampu menjadi solusi tepat dalam berbicara maupun bertindak. Wallaahu ‘alam bisshawwab

DAFTAR PUSTAKA

Ilyas, Y. 2006. Kesetaraan gender dalam AlQuran, Penerbit: Labda Press, Yogyakarta
Syari’ati, A.. 2001. Paradigma Kaum Tertindas, Penerbit: Islamic Center Al-Huda, Jakarta
Umar, N. 1999. Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Qur’an, Penerbit: Paramadina, Jakarta
Qardhawi, Y. 1997, Sistem masyarakat Islam dalam AlQuran dan sunnah, Maktabah Wahbah Cairo, Mesir.

Juli 2, 2008

Gerakan Korps Muballigh Mahasiswa Muhammadiyah (KM3).

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — km3community @ 5:12 am

oleh : Idrus Aqibuddin

Gambaran Umum

Indonesia merupakan negara dengan penduduknya yang mayoritas beragama Islam. Artinya, dari segi kuantitatif umat Islam memberikan kontribusi yang besar dalam kehidupan bermasyarakat di negara ini. Umat yang sedemikian banyaknya ini tersebar dalam berbagai lapisan masyarakat kecil (rakyat biasa) sampai penguasa, mulai dari masyarakat marginal sampai masyarakat atas (elite) secara ekonomi (konglomerat), dari masyarakat awam (secara Intelektual) sampai golongan cerdik pandai (intelektual). Potensi yang sangat besar inilah yang seharusnya bisa menampilkan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin dari berbagai lini atau segi kehidupan, sebuah kekuatan yang diharapkan bisa membawa Indonesia menuju sebuah negara yang rakyatnya memenuhi kriteria masyarakat madani. Namun kenyataan yang kita saksikan dewasa ini ‘kurang tepat’ apabila kita masukkan dalam kategori masyarakat madani. Dan konsekuensi logis dari beberapa pemaparan diatas adalah bahwa umat Islam-lah yang paling bertanggungjawab terhadap keadaan di Indonesia tercinta ini. Yang menjadi pertanyaan adalah, kemanakah wajah Islam –yang dianut mayoritas masyarakat Indonesia- yang katanya rahmatan lil ‘alamin? Atau Islam hanya dijadikan simbol (lipstik) semata, tanpa kesadaran akan pentingnya sebuah akhlak-moral secara Islami?

Perkembangan dunia Informasi dan Tekhnologi yang mengalami kemajuan sangat pesat, telah menyebabkan tipisnya jarak antara wilayah di dunia ini. Dinding tebal dimensi ruang yang memisahkan jarak antar wilayah tersebut dapat dengan mudah ditembus hanya dalam waktu yang sangat singkat. Selain memberikan nilai positif, fenomena ini juga memberikan dampak yang kurang kondusif atau bahkan cenderung negatif. Dari gaya hidup (life style) sampai pada tataran pemikiran. Seperti yang dapat kita saksikan di sekitar kita, dimana pengaruh dari luar (Barat) telah menggelayuti (doktrinasi) gaya hidup masyarakat Indonesia. Gaya hidup yang cenderung kebarat-baratan (westernisasi) yang kadang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Kebanyakan kaum mudalah yang terkena ‘wabah’ ini, karena dalam usia-usia inilah mudah untuk menerima pengaruh yang datangya dari luar dan membuktikan kenikmatan-kenikmatan secara kasat mata. Disamping itu, ada pula fenomena pemikiran-pemikiran yang di doktrinasi oleh wacana apologis kekiri-kirian yang mengakibatkan keimanan dan ketaqwaan seseorang menjadi luntur. Masih banyak lagi pengaruh dari luar yang masuk dan menyeruak dalam sendi kehidupan masyarakat, baik dalam bidang seni, ilmu pengetahuan, kehidupan sosial ekonomi, hukum bahkan sampai pada politik.

Orang-orang Non-Muslim membaca dan memanfaatkan peluang-peluang diatas, yang ada pada bangsa Indonesia dengan Multi-krisis yang masih melanda negara Indonesia. Ada hal penting yang harus mendapat perhatian, yakni strategi pemurtadan yang mereka gunakan. Yang pertama, adalah dengan tawaran berupa materi dengan sasaran masyarakat yang sedang mengalami kesulitan ekonomi. Hal ini, kemiskinan di Indonesia dijadikan sebagai media untuk pengkafiran dan pemurtadan. Yang kedua adalah dengan membidik kehidupan budaya masyarakat, bisa melalui pergaulan remaja dan gaya hidupnya (life style) -tawaran busana atau mode you can see-, perkawinan campur (antar agama), sampai pada tayangan-tayangan televisi yang hanya menjadi tontonan tanpa adanya tuntunan, dan sebagainya. Pergaulan yang dialami atau digandrungi oleh kawula muda (remaja) tersebut digunakan sebagai mediator untuk mensosialisasikan misinya yang membawa kenikmatan-kenikmatan secara materi dan kepuasan yang merasionalkan bahwa sebuah kehidupan sekarang merupakan kehidupan nyata yang perlu dituruti (manja). Yang ketiga adalah tawaran-tawaran yang diterapkan dalam dunia pendidikan. Hal ini terlihat pada sebuah permasalahan karakteristik yang berjiwa kritis, tetapi tidak dimanfaatkan atau dicerna secara rasional-normatif. Artinya, semua referensi pemikiran yang dibawa tersebut tidak di kembalikan kepada referensi ajaran Islam (Al-Qur’an dan Al-Sunnah) namun malah sebaliknya yakni dijadikan sebagai sumber kebenaran yang otentik. Secara tidak langsung, hal tersebut merupakan salah satu dari sekian metode atau strategi misi pemurtadan yang diterapkan sesuai dengan realitas sekarang untuk mencapai tujuan akhirnya yakni me-Non Muslim-kan semua ummat di Indonesia khususnya Ummat Islam.

Tentang Korps Muballigh Mahasiswa Muhammadiyah (KM3).

Da’wah Islam sebagai wujud penyeru dan membawa ummat manusia ke jalan Allah pada dasarnya harus dimulai dari orang-orang Islam itu sendiri sebagai pelaku da’wah sebelum berda’wah kepada orang lain hingga mencangkup lebih luas sesuai Firman Allah “Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu ….” (QS. At-Tahrim, 66: 6). Upaya untuk mewujudkan ajaran Islam dalam kehidupan dilakukan melalui da’wah itu yakni dengan mengajak kepada kebaikan (Amar Ma’ruf), mencegah dari yang mungkar (nahi mungkar) dan mengajak untuk beriman (Tu’minuna Billah) guna terwujudnya ummat yang sebaik-baiknya (Khairu Ummah).

Dengan melihat peluang dari MTDK PP Muhammadiyah dalam melaksanakan Pelatihan Nasional Muballigh Mahasiswa Muhammadiyah (selanjutnya dibaca; PNM3) yang dijadikan sebagai media untuk mempertemukan kader-kader Muhammadiyah dengan maksud dan tujuan agar membentuk wadah da’wah sebagai “tangan lanjutan’ untuk membantu da’wahnya Muhammadiyah dianggap sebagai moment yang tepat. Adapun PNM3 ini sudah berjalan dari tahun 2003 – 2008 atau kurang lebih sudah 6 kali pelaksanaan dan para peserta delegasi zona (D.I. Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Jabodetabek, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Bengkulu).

Setelah pelatihan tersebut para alumni PNM3 sepenuhnya di kembalikan ke wilayah atau daerahnya dan akademik (kampus) masing-masing agar melanjutkan perjuangannya dalam berda’wah. Untuk melaksanakan amanah tersebut, alumni dari zona wilayah D.I. Yogyakarta berinisiatif dan bertekad untuk merealisasikannya.

Dan hendaklah ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar …”. Dan kata ‘ada segolongan umat’ dapat diartikan sebagai kepekaan umat untuk berda’wah secara kolektif (jama’i), sehingga perlu adanya ‘wadah/organisasi’ untuk merealisasikannya. Hal inilah yang dijadikan dasar pijakan betapa pentingnya sebuah wadah atau organisasi sebagai kendaraan untuk berda’wah. Sehingga dengan waktu yang tidak cukup lama para alumni PNM3 berkonsolidasi untuk komitmen membantu da’wah Muhammadiyah dengan membentuk wadah organisasi. Namun, sebelum ke ranah itu para alumni PNM3 membuktikan dirinya terlebih dahulu dengan menawarkan dan merealisasikan program kegiatan da’wahnya. Hal itu dibuktikan dengan kegiatan da’wahnya yang cenderung ke masyarakat seperti; Muballigh Hijrah, membentuk Desa Binaan, pelatihan merawat jenazah, pendampingan Pesantren Kilat, mengadakan Pengajian, dan Diskusi.

Setelah program kegiatan itu dirasa cukup untuk membuktikan komitmen para alumni PNM3 (kader) dalam berda’wah, maka pada tanggal 13 februari 2005 bertepatan dengan 27 Muharram 1426, 8 (delapan) orang dari Koordinator Wilayah Yogyakarta diantaranya Idrus Aqibuddin S.Pd.I, Winarno S.Kom., Ust. Teguh Isnaeni, Abdullah Mu’in S.T., Wiwit Laila Sari A.Md. Keb., Ust. M. Aris Jatmiko, Attmaji Budisatoto S.T. dan Ust. Susanto (adapun yang diutus untuk berangkat Idrus Aqibuddin dan M. Aris Jatmiko) ‘mengetuk pintu’ atau silaturrahmi dengan pihak pengurus MTDK PP Muhammadiyah yang di wakili oleh bapak Drs. H. Yusuf A Hasan M.Ag. dengan tujuan supaya alumni PNM3 memiliki wadah tersendiri agar lebih dan leluasa dalam bergerak. Dan akhirnya ada hasil kesepakatan bahwa:

  1. Pelatihan Nasional Muballigh Mahasiswa Muhammadiyah adalah sebagai media pengkaderan untuk mencetak kader Muballigh-Muballighat Muhammadiyah. Maksudnya pelatihan ini dijadikan sebagai wahana untuk mempertemukan dan mencetak kader dalam berda’wah. Setelah pelatihan tersebut, maka ada tindak lanjut (follow-up) yakni semua kader diharapkan untuk mengembangkan da’wahnya di wilayah/daerah masyarakat dan kampus masing-masing.

  2. Struktur kepengurusan KM3 keseluruhan bersifat sebagai Koordinator Wilayah/Daerah. Maksudnya seluruh jajaran KM3 se-Indonesia memiliki hubungan yang sama atau sederajat yakni sebagai koordinator di wilayah atau daerahnya masing-masing.

  3. Semua bentuk kegiatan atau program KM3 diserahkan sepenuhnya kepada pengurus KM3 itu sendiri. Maksudnya KM3 diharapkan untuk lebih produktif, kreatif dan inovatif dalam menawarkan dan merealisasikan program-program kegiatan yang sudah terencana.

  4. Hubungan KM3 dengan MTDK Muhammadiyah secara struktural bersifat Koordinasi. Artinya setelah terlepas dari Pelatihan Nasional Muballigh Mahasiswa Muhammadiyah, pengurus KM3 dianjurkan untuk berkomunikasi dengan MTDK PWM atau MTDK PDM untuk mensosialisasikan maksud dan tujuan KM3 dan menindaklanjuti program-program yang telah terencana, KM3 bukan Organisasi Otonom (Ortom Muhammadiyah) melainkan berdiri sendiri (independen) dan untuk lingkungan Akademik kampus sepenuhnya diserahkan pada kebijakan (policy) kampus dan pengurus KM3 itu sendiri.

Korps Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah atau di singkat KM3 ini, yang nota-benenya adalah sebagai generasi ummat Islam untuk bisa beramar ma’ruf nahi munkar dan bertu’minuna billah, berusaha untuk membantu meminimalisir dan meluruskan semua problematika yang belum maupun yang sedang dan akan dialami oleh ummat Islam khususnya masyarakat yang masih awam atau buta dengan wacana keagamaan yang sesuai dengan ajaran agama Islam. Tapi semuanya itu apalah artinya kalau dari kalangan internal (sesama muslim) tidak ada keharmonisan dan konsistensi untuk berjihad fi sabilillah. Maka dari itu semua dukungan terutama dari kalangan yang sudah berpengalaman untuk bisa bekerjasama dan berpartisipasi kepada calon generasi penerus da’wah Islam ini. Dan tentunya kita semua juga terus memanjatkan doa kepada Allah SWT Sang pencipta dan penghancur serta Sang Maha segalanya, agar semua tujuan baik, amalan dan ibadah diberi jalan yang lebih lapang dan memudahkan kita untuk terus berjuang dan berjuang di jalan Allah SWT. Amin.

Hubungan Manusia dan Tuhan Perspektif Islam

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — km3community @ 4:54 am

IDRUS AQIBUDDIN

PROLOG

Al-Qur’an adalah pengantar Kitab Allah SWT. yang diwahyukan kepada Rasul-Nya terakhir Muhammad saw, untuk memberi pedoman atau prinsip hidup kepada seluruh umat manusia sepanjang masa, yang menjamin akan mendatangkan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat. Al-Qur’an mengkokohkan kebenaran-kebenaran yang pernah diwahyukan kepada para Rasul sebelumnya dan menjadi tolok ukur kebenaran ajaran kitab-kitab Allah sebelumnya. Dalam beberapa hal, Al-Qur’an mengganti ajaran-ajaran yang berlum pernah diajarkan di dalam kitab-kitab sebelumnya. Bahkan, Al-Qur’an memberikan koreksi terhadap kekeliruan-kekeliruan yang dialami oleh ummat beragama yang terdahulu dalam memahami ajaran-ajaran agama yang berasal dari wahyu Allah, atau kekeliruan-kekeliruan yang berasal dari konsep manusia.

Ayat-ayat Al-Qur’an yang pertama kali diwahyukan, ketika Nabi Muhammad saw, sedang menyendiri (Tabannuts) di Gua Hira’, pada bulan Ramadhan ketika usia beliau mencapai 40 tahun (610), hanya terdiri dari 5 ayat, yang kemudian tercantum di dalam Al-Qur’an surat surat Al-‘Alaq ayat 1-51. lima ayat yang pertama kali diwahyukan itu berisi ajaran-ajaran dasar tentang Tuhan dan Manusia2.

Ayat pertama berisi penegasan tentang yang berhak diyakini sebagai Tuhan yaitu yang telah menciptakan alam semesta. Keteraturan alam dan keseragaman hukum-hukum alam, menunjukkan bahwa Tuhan yang menciptakannya hanyalah Tuhan Yang Maha Esa. Bagi alam semesta hanya ada satu Tuhan.

Ayat kedua berisi penegasan bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan, yang dalam proses kejadiannya didalam rahim ibu pernah berupa semacam ‘Alaq (semacam gumpalan darah yang bergantung atau bersarang pada dinding rahim). Ayat yang ketiga berisi tentang penegasan bahwa Tuhan yang menciptakan alam semesta, termasuk manusia, adalah Maha Pemurah.

Ayat keempat berisi tentang penegasan bahwa (diantara kepemurahan Tuhan yang menyertai ciptaan manusia ialah) Dia telah mengajarkan dengan pena. Manusia diciptakan dengan persiapan-persiapan yang akan dapat menggunakan pena sebagai alat tulis baca, guna menyatakan perasaan dan buah pikirannya kepada sesama. Dan ayat kelima berisi penegasan tentang bahwa dengan kemampuan menggunakan pena sebagai alat tulis baca itu, Tuhan mengajarkan manusia banyak hal yang semula tidak diketahuinya.

BAHASAN

  1. Batasan Manusia

Bagaimanakah sifat manusia dan seberapa besar potensi yang dimiliki manusia untuk berkembang adalah beberapa pertanyaan penting tentang manusia. Tentu saja pertanyaan itu paling tepat apabila diarahkan kepada siapa yang menciptakan manusia. Allah Azza wa jalla adalah tempat bertanya, karena Dialah sang Pencipta manusia (The Human Creator). Apa yang ada dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist adalah jawaban Allah SWT, tentang apa, siapa dan bagaimana sesungguhnya manusia itu.

Proses Penciptaan Manusia.

  1. Penciptaan Ruh

Kapankah Ruh diciptakan? Berdasarkan pendapat yang dominan, sebagaimana disebutkan Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam buku Al-Ruh li Ibnul Qayyim berdasar beberapa hadist Nabi, Ruh diciptakan setelah penciptaan Adam di surga. Diisyaratkan dalam beberapa hadist bahwa ditangan Allah terdapat bermilyar-milyar ruh (calon) manusia. Manakala Allah mengusapkan tangan kanan dan tangan kiri-Nya ke punggung Adam, maka keluarlah ruh-ruh manusia itu. Sesudahnya Allah mengumpulkan mereka dan menanyai mereka. “Benarkah Aku Tuhan Kalian? Ruh-ruh manusia menjawab. ’Benar Engkau Tuhan kami’. Kami bersaksi”: Dalam Qur’an Surat Al-A’raaf; 172 yang artinya “Dan (Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari Sulbinya dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab; Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.”

Di dalam kitab Al-Muwaththa’ Imam Malik menyampaikan bahwa pada suatu ketika Umar bin Khatab pernah ditanya tentang ayat, Dan (Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka. Maka Umar bn Khatab menjawab: aku pernah mendengar Rasulullah ditanya tentang ayat ini, lalu beliau menjawab: ”Allah menciptakan Adam kemudian mengusapkan tangan Kanan-Nya ke sulbi Adam, hingga dari sana keluar anak-anak keturunannya”.

Bahwa ruh yang ada dalam diri manusia merupakan Ruh Ilahi (The Spirit of God). Hanya manusialah makhluk yang dalam unsur penciptaannya terdapat Ruh Ilahi. Dengan ruh adanya ruh-Nya ini manusia memiliki potensi ketuhanan dalam dirinya. Maksudnya, dalam diri manusia melekat sifat-sifat dasar atau potensi-potensi dasar sebagaimana sifat-sifat yang dimiliki Allah.

Tentang Ruh ini, Allah berfirman bahwa manusia hanya memiliki pengetahuan yang jumlahnya sedikit.

Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ruh itu termasuk urusan Tuhanku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”

Penjelasan bahwa manusia memiliki ruh-Nya mengisyaratkan bahwa manusia telah memiliki unsur yang memungkinkan dirinya menyadari keberadaan Allah SWT3, dan karenanya menjadikannya tunduk dan patuh kepada Allah, selalu menjaga kesucian tauhid atau persaksian terhadap keesaan Allah.

  1. Penciptaan Jasad

Mengenai hal fisik-material di bumi, manusia diciptakan (hidup), terdapat manusia laki-laki dan manusia perempuan.

Hai manusia, sesungguhnnya kami menciptakan kamu sekalian dari seorang laki-laki dan perempuan (QS. Al-Hujurat:13)

Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari setetes air mani yang bercampur (Nuthfah Amsyaj) yang kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu kami jadikan dia mendengar dan melihat. (QS. Al-Ihsan, 76:2)

Secara Badani (Jasad, Jism), awal kehidupan fisik manusia ditandai oleh hubungan seksual antara aki-laki dan perempuan. Diantara 200-300 juta sel sperma itu sekitar 400 diantaranya mencapai sel telur4. Jadi sel sperma itu harus bersaing satu sama lain. Hanya satu yang dipilih Allah untuk menjadi pemenang. Yang menjadi pemenang akhirnya bertemu dengan sel telur untuk melakukan pembuahan. Disinilah dimulai kehidupan fisik manusia.

  1. Ruh di Tiupkan ke Jasad

Menurut ‘Abdullah Ibnu ‘Abbas, saat calon bayi dalam rahim berusia 120 hari, Allah SWT dengan kekuasaan-Nya meniupkan ruh-Nya ke jasad manusia. Maka untuk pertama kalinya menyatulah ruh dan jasad. Ibnu Qayyim al-Jauziyah, sebagaimana dikutip Muhammad Ali Akbar, pernah menyampaikan bahwa sebelum peniupan ruh, embrio telah memiliki gerakan atau persepsi. Ia mengandaikan gerakan embrio sebelum disatukan ruh seperti gerakan tanaman yang sedang tumbuh. Gerakan dan persepsinya tidak sadar. Ketika ruh ditiupkan ke jasad, gerakan dan persepsi menjadi sadar. Pada minggu ke-16 ibu hamil mulai merasakan tendangan anak yang ada dalam kandungan.

Sesudah peniupan ruh, Allah memerintahkan malaikat untuk menulis takdrnya diantara dua matanya. Hal ini secara jelas disampaikan hadis Nabi Muhammad. Nabi Muhammad bersabda: “Ketika Tuhan meniupkan ruh ke dalam jasad, malaikat yang mengurusi rahim bertanya; ‘Ya Tuhan, apakah anak laki-laki atau anak perempuan? Dan Tuhan menentukan apa yang dikehendaki-Nya. Maka malaikat menulis diantara kedua matanya apa saja yang akan dihadapi dalam hidupnya.”

  1. Batasan Tuhan (Allah SWT)

Manusia diciptakan Allah SWT, dengan tujuan yang mulia dan sama sekali bukan untuk main-main (QS. Ali Imran, 3:191, QS. Shaad,38: 27). Allah menciptakan manusia, tidak lain adalah agar manusia mengabdikan hidup kepada-Nya. Allah berfirman adalam Al-Qur’an:

Dan tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi (beribadah) kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyaat,51: 56)

Allah SWT, Sang Pencipta Manusia (The Human Creator), menghendaki agar kehidupan manusia di dunia ini diarahkan untuk mengabdi pada-Nya. Untuk mewujudkan kehendak-Nya itu, Allah telah menancapkan dalam diri manusia kesediaan untuk menyembah-Nya atau meng-Esakan-Nya(QS. Al-A’raaf, 7: 172), yang secara implisitberisi kesediaan tunduk kepada-Nya. Dalam dimensi diri manusia yang paling dalam, dimensi ruh, tertanam keyakinan bahwa Allah-lah pusat kehidupan atau tempat berpaling bagi manusia. Agar dasar-dasar yang terbentuk dalam diri manusia itu terpelihara, maka Allah memberikan bimbingan dengan teks (dalam hal ini Al-Qur’an). Bagaimana dasar-dasar keimanan kepada Allah dalam diri manusia tersebut diamankan atau diwujudkan dalam kehidupan aktual manusia. Bimbingan Tuhan melalui kitab suci adalah cara yang digunakan Tuhan agar manusia selalu dalam posisi selalu mengembangkan sifat-sifat asalnya dalam bentuk mengabdikan hidup kepada-Nya.5

Beribadah kepada Allah dalam artian luas adalah melaksanakan hidup sesuai pedoman dan petunjuk Allah yang telah disampaiakn kepada ummat manusia dengan perantar rasul-rasul-Nya. Rasul-rasul Allah diutus dengan silih berganti, sejak Nabi Adam AS hingga yang terakhir Nabi Muhammad saw. Pedoman dan petunjuk Allah yang dibawakan oleh Nabi Muhammad merupakan tahapan terakhir dari pedoman dan petunjuk-Nya yang diperuntukan bagi seluruh umat manusia sepanjang masa.6

  1. Hubungan Manusia dan Tuhan

Hubungan manusia dalam hal pengabdian (Ibadah) kepada sang Pencipta itu diwujudkan agar manusia selalu berada dalam posisi mengabdikan diri kepada Sang Pencipta, ada dua tujuan hidup yang harus dilakukan manusia.

  1. Abdullah

Manusia menjadi ‘Abdullah atau manusia beribadah (mengabdi) kepada-Nya. Ibadah dapat diartikan sebagai wujud penyerahan total kepada Allah dengan melaksanakan apa yang menjadi perintah-Nya. Dalam pengertian sempit, beribadah adalah melakukan aktifitas-aktifitas ritual yang dilakukan degan penuh hikmat dan pemahaman, seperti Shalat, Zakat, Puasa, Haji, Dzikir. Dengan melakukan perintah-perintah Allah berupa Ibadah, diharapkan manusia memiliki kecenderungan untuk memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial.

Semua Ibadah, yakni Sholat, Puasa, Zakat Haji dan sebagainya memiliki implisit sosial. Menurut Ismail R. Al-Faruqi dalam bukunya Tauhid, penyangkalan terhadap atau kelemahan dari, dimensi tersebut secara Ipso Facto membuat ritus-ritus itu menjadi batal. Misalkan, Haji yang berhasil akan mengantarkan pelakunya menjadi haji mabrur. Kemabruran seorang pelaku ibadah Haji, menurut Nurcholis Madjid dapat diketahui dari aktivitas-aktivitas sosial yang dilakukannya sesudah pelaksanaan Ibadah Haji. Bila ia menjadi lebih peduli dan memiliki kesediaan untutk membantu orang-orang yang ada sekelilingnya, maka ia memiliki tanda sebagai Haji Mabrur.

  1. Khalifah

Manusia menjadi khalifah (pemimpin) di bumi, dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah, 2: 30)

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat; Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah dimuka bumi

Allah hendak menjadikan Khalifah di muka bumi, menurut M. Dawam Raharjo, khalifah adalah fungsi manusia yang mengemban amanat dari Tuhan (QS. Al-Ahzab, 33: 72). Apakah amanat Tuhan kepada Manusia? Tidak lain adalah memberikan pelayanan terhadap sesama makhluk denfan menyabarkan kasih sayagn terhadap sesama (Rahmatan lil-‘alamiin) dan ber-amar ma’ruf nahi munkar.

Hanya manusia –dan bukan makhluk lain- yang bersedia dan memiliki kemampuan untuk merealisasikan amanat sebagai wakil Tuhan. Tentang kesediaan manusia menerima amanat ini digambarkan oleh Al-Qur’an bahwa langit, gunung dan bumi menolak amanat itu, namun manusia menerimanya.

Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan di pikullah amanat itu oleh manusia” (QS. Al-Ahzab, 33: 72)

Menurut Ismail R. Al-Faruqi, syarat agar manusia dapat merealisasikannya adalah dengan kemerdekaan atau kebebasan. Manusia memiliki kemungkinan melaksanakannya atau tidak melaksanakannya, atau justru melakukan yang sebaliknya, atau melakukannya dengan setengah-setengah. Apabila manusia dapat melakukannya dengan baik, maka ia mengukuhkan dirinya sebagai makhluk yang berderajat paling tinggi diantara makhluk-makhluk yang berada di alam semesta ini. Rasul dan Nabi adalah contoh-contoh figur manusia yang mampu membuktikan kualitasnya sebagai khalifah dibumi dengan melakukan amanat sebaik-baiknya. Para orang-orang yng bersifat antagonis terhadap ajaran Rasul dan Nabi (Misalnya, Fir’aun, Qarun, dan sebagainya) adalah figur-figur yang telah tercatat sebagai khalifah di bumi yang gagal memenuhi amanat dari Tuhan.

Manusia sebagai makhluk pengemban amanah. Sebagai makhluk berkehormatan dan mempunyai kelebihan di atas kebanyakan makhluk Allah lainnya, manusia dipersiapkan untuk mengemban amanah (QS. Al-Ahzab:72). Diantara amanat yang diembankan kepada manusia ialah untuk memakmurkan kehidupan di bumi (QS. Hud: 61). Demikian tinggi kedudukan manusia di hadhirat Allah, Tuhan mengangkat manusia sebagai khalifah-Nya di bumi (QS. Al-Baqarah: 30)

Sebagai mahkluk pengemban amanah Allah, manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah Allah. Dari sini dapat dirumuskan bahwa manusia pada hakikatnya adalah “makhluk pengemban amanat yang bertanggungjawab”. Pada hakikatnya manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang tidak memerlukan penjelasan panjang. Hidup kita sehari-hari penuh dengan pengalaman-pengalaman yang menunjukkan bahwa sesungguhnya banyak hal yang terjadi pada manusia bukan berasal dari manusia sendiri. Menjadi laki-laki atau perempuan, memiliki bentuk badan dan rupa yang berbeda , berumur panjang atau pendek, kapan dan dimana seseorang akan meninggal, semuanya bukan hak yang dapat dipastikan terjadinya atas keinginan dan usaha manusia sendiri.

Manusia akan dimintai pertanggungjawabannya atas amanat yang dibebankan kepada Allah kelak diakhirat. Tanggungjawab manusia bersifat individual. Setiap orang bertanggungjawab atas segala perbuatan yang dilakukannya (QS. Ath-Thur: 21). Orang tidak dibebani dosa orang lain (Al- An’am: 164). Orang hanya akan memerik hasil amal perbuatan yang dilakukan sendiri (QS. An-Najm: 39).

Meskipun demikian, dimungkinkan orang ikut diminta bertanggungjawab atas perbuatan yang dilakukan orang lain, yakni jika orang berpartisipasi dalam terjadinya perbuatan yang dilakukan orang lain itu.7

PENUTUP

Manusia sebagai makhluk pengemban amanat Allah berfungsi terhadp Allah. Fungsi manusia terhadap Allah bertumpu pada ajaran yang menegaskan bahwa Jin dan Manusia diciptakan Allah agar mereka beribadah (mengabdi) kepada-Nya.

Seluruh umat manusia diperintahkan untuk menganut agama Allah yang telah paripurna itu, sebagaimana ditegaskan didalam Al-Qur’an surat Al-A’raf: 158. Fungsi manusia terhadap Allah menuntut agar manusia memenuhi perintah Allah tersebut. Meskipun demikian, karena akhirnya kelak manusia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah,manusia diberi kebebasan untuk menerima (mukmin) atau menolak agama Allah yang telah paripurna itu. (QS. Al-Kahfi: 29) Tetapi diperingatkan, bahwa orang yang menganut agama selain Islam yang telah paripurna itu akan tergolong orang-orang yang mengalami kerugian, karena agama selain Islam tidak akan diterima Allah (QS. Al-Imran: 85).

Agama Allah yang telah paripurna mengajarkan ‘Aqidah secara jelaws dan tuntas. Ber-Tuhan hanya kepada Allah, sebab hanya Allah sajalah yang berhak diyakini sebagai Tuhan. Ber-Tuhan hanya kepada selain Allah berarti mempersekutukan Allah dengan yang lain. Beribadah hanya boleh ditujukan kepada Allah. Cara melaksanakan ibadah yang telah diatur secara rinci di dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah wajib ditaati tanpa perubahan, tambahan dan pengurangan.

Berakhlak atas dasar nilai-nilai yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Tidak dibenarkan menentukan sendiri nilai akhlaq yang sifatnya relatif, situasional, kondisional. Bermu’amalah pun dilakukan sesuai dengan pedoman, petunjuk dan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Manusia dibenarkan menentukan brbagai macam cara bermu’amalah, sepanjang tidak terdapat ketentuan-ketentuan secara jelas di dalam Al-Qur’an dan Al-Sunah. Tetapi harus tetap berpedoman pada nilai-nilai dasar Al-Quran-Al-Sunnah.

DAFTAR PUSTAKA

  • AL-Qur’anul Karim. “Al-Qur’an dan Terjemahannya”. Departemen Agama R.I

  • Djumhan, Bastaman, Hanna. “Integritas Psikologi dengan Islam (Menuju Psikologi Islam)”. Pustaka pelajar, Yogyakarta, 1997.

  • Makalah, Azhar Basyir, Ahmad. “Mengungkap Fitrah Manusia dalam Agama Islam”.

  • _______, Raharjo, Dawam. ”Pandangan Al-Qur’an Tentang Manusia”.

  • Nashori, Fuad. “Potensi-potensi Manusia (Seri Psikologi Islam)”. Pustaka Pelajar, 2003

1 Departemen Agama R.I, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Hal. 1079

2 Ahmad Azhar Basyir, M.A. dalam makalah seminarnya tentang Fitrah Manusia dalam Perspektif Agama”. Disampaikan di Gedung Muhammadiyah Yogyakarta. …… mengungkapakan bahwa proses manusia dalam surat Al-‘Alaq, manusia adalah ciptaan Tuhan yang dalam proses kejadiannya ada dalam rahim ‘Alaq. Setelah pemrosesan manusia dan ditiupkan roh, maka diturunkan ke dunia dalam keadaan ketidakpahaman dan kemudian diberilah manusia itu dengan persiapan-persiapan didunia yakni Pena sebagai alat tulis dan baca agar memahami dan menyatakan perasaan dan buah pikirnya semua ciptaan Tuhan alam semesta.

3 Prof. Drs. M. Dawam Raharjo, Pandangan Al-Qur’an Tentang Manusia, Hal.18

4 Editor; Mukhatib MD. “Pesantren Mengkritisi KB dan Aborsi”. Yayasan Kesejahteraan Fatayat (YKF) Yogyakarta. Hal. 6

5 M. Dawam Raharjo, Hal 9-10

6 Editor; Yunahar Ilyas dan Muhammad Azhar.” Pendidikan dalam perspektis Al-Qur’an”. Hal 11

7 Ahmad Azhar Basyir, M.A. Hal. 10

Pendidikan Profetik Versi Kuntowijoyo

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — km3community @ 4:39 am

PENDAHULUAN

Sebagai agen perubahan sosial, pendidikan Islam yang berada dalam atmosfir modernisasi dan globalisasi, dewasa ini dituntut untuk mampu memainkan perannya secara dinamis dan proaktif. Kehadirannya diharapkan mampu membawa perubahan dan kontribusi yang berarti bagi perbaikan ummat Islam, baik pada dataran intelektual teoritis maupun praktis.

Pendidikan Islam bukan sekedar proses penanaman nilai-nilai moral untuk membentengi diri dari ekses negatif globalisasi. Tetapi yang paling urgen adalah bagaimana nilai-nilai moral yang telah ditanamkan pendidikan Islam tersebut mampu berperan sebagai kekuatan pembebas (liberating force) dari himpitan kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan sosial budaya dan ekonomi (Syafi’i Ma’arif). Kandungan materi pelajaran dalam pendidikan Islam yang masih berkutat pada tujuan yang lebih bersifat ortodoksi diakibatkan adanya kesalahan dalam memahami konsep-konsep pendidikan yang masih bersifat dikotomis; yakni pemilahan antara pendidikan agama dan pendidikan umum (sekuler), bahkan mendudukkan keduanya secara diametral.

Dari pendidikan Islam yang masih cenderung bersifat dikotomis yang selama ini terpisah secara diametral, yakni pendidikan yang hanya menekankan dimensi transendensi tanpa memberi ruang gerak pada aspek humanisasi dan liberasi dan pendidikan Islam yang hanya menekankan dimensi humanisasi dan liberasi dengan mengabaikan aspek transendensi. Dalam teori sosialnya Kuntowijoyo (alm) Ilmu Sosial Profetik.

PEMBAHASAN

Profetik berasal dari bahasa inggris prophetical yang mempunyai makna Kenabian atau sifat yang ada dalam diri seorang nabi1. Yaitu sifat nabi yang mempunyai ciri sebagai manusia yang ideal secara spiritual-individual, tetapi juga menjadi pelopor perubahan, membimbing masyarakat ke arah perbaikan dan melakukan perjuangan tanpa henti melawan penindasan. Dalam sejarah, Nabi Ibrahim melawan Raja Namrud, Nabi Musa melawan Fir’aun, Nabi Muhammad yang membimbing kaum miskin dan budak belia melawan setiap penindasan dan ketidakadilan. Dan mempunyai tujuan untuk menuju kearah pembebasan. Dan tepat menurut Ali Syari’ati “para nabi tidak hanya mengajarkan dzikir dan do’a tetapi mereka juga datang dengan suatu ideologi pembebasan”.

Secara definitif, pendidikan profetik dapat dipahami sebagai seperangkat teori yang tidak hanya mendeskripsikan dan mentransformasikan gejala sosial, dan tidak pula hanya mengubah suatu hal demi perubahan, namun lebih dari itu, diharapkan dapat mengarahkan perubahan atas dasar cita-cita etik dan profetik. Kuntowijoyo sendiri memang mengakuinya, terutama dalam sejarahnya Islamisasi Ilmu itu -dalam rumusan Kunto- seperti hendak memasukan sesuatu dari luar atau menolak sama sekali ilmu yang ada2. Dia mengatakan: “saya kira keduanya tidak realistik dan akan membuat jiwa kita terbelah antara idealitas dan realitas, terutama bagi mereka yang belajar ilmu sosial barat. Bagaimana nasib ilmu yang belum di Islamkan? Bagaimana nasib Islam tanpa Ilmu?. Dengan ungkapan seperti ini, Kuntowijoyo tidak bermaksud menolak Islamisasi ilmu, tapi selain membedakan antara ilmu sosal profetik dengan Islamisasi Ilmu itu sendiri, juga bermaksud menghindarkan pandangan yang bersifat dikotomis dalam melihat ilmu-ilmu Islam dan bukan Islam.

Secara normatif-konseptual, paradigma profetik versi Kuntowijoyo (alm) didasarkan pada Surar Ali-Imran ayat 110 yang artinya: “Engkau adalah ummat terbaik yang diturunkan/dilahirkan di tengah-tengah manusia untuk menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran dan beriman kepada Allah”.

Terdapat tiga pilar utama dalam ilmu sosial profetik yaitu; amar ma’ruf (humanisasi) mengandung pengertian memanusiakan manusia. nahi munkar (liberasi) mengandung pengertian pembebasan. dan tu’minuna bilah (transendensi), dimensi keimanan manusia. Selain itu dalam ayat tersebut juga terdapat empat konsep; Pertama, konsep tentang ummat terbaik (The Chosen People), ummat Islam sebagai ummat terbaik dengan syarat mengerjakan tiga hal sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut. Ummat Islam tidak secara otomatis menjadi The Chosen People, karena ummat Islam dalam konsep The Chosen People ada sebuah tantangan untuk bekerja lebih keras dan ber-fastabiqul khairat. Kedua, aktivisme atau praksisme gerakan sejarah. Bekerja keras dan ber-fastabiqul khairat ditengah-tengah ummat manusia (ukhrijat Linnas) berarti bahwa yang ideal bagi Islam adalah keterlibatan ummat dalam percaturan sejarah. Pengasingan diri secara ekstrim dan kerahiban tidak dibenarkan dalam Islam. Para intelektual yang hanya bekerja untuk ilmu atau kecerdasan an sich tanpa menyapa dan bergelut dengan realitas sosial juga tidak dibenarkan. Ketiga, pentingnya kesadaran. Nilai-nilai profetik harus selalu menjadi landasan rasionalitas nilai bagi setiap praksisme gerakan dan membangun kesadaran ummat, terutama ummat Islam. Keempat, etika profetik, ayat tersebut mengandung etika yang berlaku umum atau untuk siapa saja baik itu individu (mahasiswa, intelektual, aktivis dan sebagainya) maupun organisasi (gerakan mahasiswa, universitas, ormas, dan orsospol), maupun kolektifitas (jama’ah, ummat, kelompok/paguyuban). Point yang terakhir ini merupakan konsekuensi logis dari tiga kesadaran yang telah dibangun sebelumnya3.

Pendidikan Islam yang sekaligus sebagai bagian dari sistem pendidikan Nasional. Secara ideal, pendidikan Islam bertujuan melahirkan pribadi manusia seutuhnya. Dari itu, pendidikan Islam diarahkan untuk mengembangkan segenap potensi manusia seperti; fisik, akal, ruh dan hati4. Segenap potensi itu dioptimalkan untuk membangun kehidupan manusia yang meliputi aspek spiritual, intelektual, rasa sosial, imajinasi dan sebagainya. Rumusan ini merupakan acuan umum bagi pendidikan Islam, yang akhir tujuannya adalah pencapaian kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Dalam pengertian yang lebih luas, pendidikan Islam ingin membentuk manusia yang menyadari dan melaksanakan tugas-tugas ke-khalifahan-nya dan terus memperkaya diri dengan khazanah ilmu pengetahuan tanpa batas serta menyadari pula betapa urgentnya ketaatan kepada Allah SWT sebagai Sang Maha Mengetahui dan Maha Segalanya. Dalam Surat Al-Baqarah disebutkan pada ayat: 269 yang artinya: ”Tidaklah berdzikir kecuali ulul albab”. Disini, ada proposional antara dzikir dan fikr dalam sebuah cita-cita pendidikan Islam. Artinya, hakikat cita-cita pendidikan Islam adalah melahirkan manusia-manusia beriman dan berilmu pengetahuan, yang satu sama lainnya saling menunjang (S.S, Husein dan S.A, Ashraf: 1979).

Dalam mewujudkan cita-cita pendidikan Islam, muncul berbagai problematika dalam pendidikan Islam. Diantaranya krisis dalam pendidikan Islam karena muncul adanya Dikotomi epistemologi antara Ilmu agama (akhirat) dan ilmu umum (dunia), antara Ilmu modern barat dan Ilmu tradisional Islam. Selain itu, disebabkan pula oleh sistem pendidikan Islam yang hanya dilaksanakan untuk memenuhi tuntutan yang bersifat formal dan mengabaikan idealisme yang mencerminkan proses-proses pemenuhan tugas-tugas kemanusiaan. Indikasi tersebut cukup jelas, dengan terlihat munculnya dua tipologi pendidikan Islam yakni, Pendidikan Islam tradisional dan Pendidikan Islam modern.

Pada dasarnya tujuan umum pendidikan Islam, menurut Prof. M. Athiyah Al-Abrasyi menyimpulkan lima tujuan umum yang asasi. Diantaranya yaitu; Pertama. Untuk membantu pembentukan akhlak yang mulia5. Bahwa pendidikan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam, dan untuk mencapai akhlak sempurna adalah tujuan pendidikan yang sebenarnya. Kedua, persiapan untuk kehidupan dunia dan kehidupan diakhirat. Pendidikan Islam menaruh penuh untuk perhatian kehidupan tersebut, sebab memang itulah tujuan tertinggi dan terakhir pendidikan. Ketiga, persiapan untuk mencari rizki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan. Islam memandang, manusia sempurna tidak akan tercapai kecuali memadukan antara ilmu pengetahuan dan agama, atau mempunyai kepedulian (concern) pada aspek spiritual, akhlak dan pada segi-segi kemanfaatan. Keempat, menumbuhkan roh ilmiah (scientific spirit) pada pelajar dan memuaskan keinginan arti untuk mengetahui (co-riosity) dan memungkinkan untuk mengkaji ilmu sekedar ilmu6. Kelima, menyiapkan pelajar dari segi profesional.

Pendidikan yang berwawasan kemanusiaan mengandung pengertian bahwa pendidikan harus memandang manusia sebagai subjek pendidikan. Oleh karena itu, starting point dari proses pendidikan berawal dari pemahaman teologis-filosofis tentang manusia, yang pada akhirnya manusia diperkenalkan akan keberadaan dirinya sebagai khalifah Allah dimuka bumi. Pendidikan yang berwawasan kemanusiaan tidak berpretensi menjadikan manusia sebagai sumber ikatan-ikatan nilai secara mutlak (antroposentris), karena di Eropa pada abad pertengahan menjadikan ilmu murni dan teknologi teistik justru membawa malapetaka di abad modern ini, dimana kepribadian manusia menjadi terpisah-pisah di dalam jeratan dogma materialisme yang mengaburkan nilai kemanusiaan. Padahal pendidikan itu sarat akan nilai dan harus berarsitektur atau landasan moral-transendensi.

Jika kegagalan pendidikan dalam rangka memaksimalkan peran profetiknya karena tidak dapat menempatkan manusia sebagai subjek pendidikan dalam setting teologis-filosofis. Jadi bukan sebagai objek pendidikan, yang menurut Paulo Freire dikatakan sebagai konsep bank7. Oleh karena itu, pendidikan harus kembali pada missi profetik, yaitu memanusiakan manusia (Humanisasi), berijtihad / pembebasan (liberasi), dan keimanan manusia (transendensi).

PENUTUP

Pendidikan pada hakekatnya merupakan pross memanusiakan manusia (humanizing human being). Karena itu, semua treatment yang ada dalam praktek pendidikan mestinya selalu memperhatikan hakikat manusia sebagai makhluk Tuhan dengan fitrah, sebagai mahkluk individu yang khas, dan sebagai mahluk sosial yang hidup dalam realitas sosial yang majemuk. Untuk itu, pemahaman yang utuh tentang karakter manusia wajib dilakukan sebelum proses pendidikan dilaksanakan. Namun demikian, dalam realitasnya banyak praktek pendidikan yang tidak sesuai dengan missi tersebut.

Kenyataan bahwa proses pendidikan yang ada cenderung berjalan monoton, indoktrinatif, teacher-centered, top-down, mekanis, verbalis, kognitif dan misi pendidikan telah misleading. Tidak heran jika ada kesan bahwa praktek dan proses pendidikan Islam steril dari konteks realitas, sehingga tidak mampu memberikan kontribusi yang jelas terhadap berbagai problem yang muncul. Pendidikan (khususnya agama) dianggap tidak cukup efektif memberikan memberikan kontribusi dalam penyelesaian masalah. Karena itu, banyak gagasan muncul tentang perlunya melakukan interpretasi dan reorientasi, termasuk melakukan perubahan paradigma dari praktek pendidikan yang selama ini berjalan.

Pendidikan harus dimaknai sebagai upaya untuk membantu manusia mencapai realitas diri dengan mengoptimalkan semua potensi kemanusiaannya. Dengan pengertian ini, semua proses yang menuju pada terwujudnya optimalisasi potensi manusia, tanpa memandang tempat dan waktu, dikategorikan sebagai kegiatan pendidikan. Sebaliknya, jika ada praktek yang katanya disebut pendidikan ternyata justru menghambat berkembangnya potensi kemanusiaan dengan berbagai bentuknya, maka ini justru bukan praktek pendidikan. Hanya saja, harus disadari bahwa memang ada perbedaan metode atau strategi antara satu dengan lainnya, namun mestinya perbedaan tersebut hanya sebatas teknis pelaksanaan, bukan pemaknaan tentang pendidikan itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

  • Rosyadi Khoiron, “Pendidikan Profetik”, Pustaka Pelajar, Cet. I, 2004, Yogyakarta

  • Shofan Mohammad “Pendidikan Berparadigma Profetik (Upaya Konstruktif Membongkar Dikotomi Sistem Pendidikan Islam)”, IRCiSoD bekerjasama dengan UMG Press, Cet. I , 2004, Yogyakarta

  • Kuntowijoyo (Alm), “Muslim Tanpa Masjid”, Bandung: Mizan, 2001

  • Banawi Imam, “Segi-segi Pendidikan Islam”, Al-Ikhlas, 1987, Surabaya

1 Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid, Bandung: Mizan, 2001 hal.357

2 Moh. Shofan, “Pendidikan Berparadigma Profetik (Upaya Konstruktif Membongkar Dikotomi Sistem Pendidikan Islam )”, IRCiSoD, Yogyakarta, Hal.131

3 Ibid, hal.365

4 Khoiron Rosyadi, Pendidikan Profetik, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Hal.04

5 Al-Ghazali mengatakan: tujuam murid dalam mempelajari segala ilmu pengetahuan pada masa sekarang adalah kesempurnaan dan keutamaan jiwanya. (Al-Ghazali, MIzanul amal 1961). Dikutip dari Zainuddin, Seluk beluk Pendidikan dari al-ghazali, jakarta,1991, hal.44

6 Al-Ghazali mengatakan: apabila engkau mengadakan penyelidikan terhadap ilmu engetahuan, maka engau akan melihat kelezatan padanya. Oleh karena itu, tujuan mempelajari ilmu pengetahuan adalah karena ilmu pengetahuan itu sendiri (Al-Ghazali, ihya’Ulumiddin I:13),. Pernyataan itu menyiratkan kesan bahwa penelitian, penalaran, dan pengkajian yang mendalam dengan mencurahkan tenaga dan pikiran (Ijtihad) adalah mengandung kelezatan intelektual kepada mereka dalam mencari hakikat ilmu pengetahuan. Ibid, hal.42

7 Paulo Freire, “Pendidikan Kaum Tertindas”, Cet. 2 LP3ES, Jakarta, 1991, hal.49

Juni 30, 2008

Sebuah Dinamika Penggerak Menuju Pelantikan

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — km3community @ 7:31 pm

KM3 adalah sebuah nama yang kadang bisa juga di buat guyon, ada yang mengatakan KM3 itu singkatan dari kilo meter tiga, ada yang lebih estrim lagi dengan menamai KM3 dengan sebutan korp mahasiswa mencla-mencle, apa artinya? orang Jawa pasti tahu artinya. Tapi semua itu hanyalah guyonan bahkan itu adalah sapaan dan simbol keakraban dari teman-teman sendiri.

KM3 masih dalam status yang membingungkan dikalangan teman-teman yang lain terutama teman-teman IMM, mereka mempertanyakan status KM3. Jangankan teman-teman  yang  lain, teman-teman anggota kepengurusan KM3 sendiripun masih banyak yang bertanya status KM3 sendiri. KM3  Itu ortom atau hanya sekedar bentuk komunitas dakwah yang membutuhkan sebuah wadah? Banyak sekali frame yang berbeda tentang status KM3 itu sendiri.

Kalau kita membicarakan soal status KM3 di Muhammadiyah, memang belum jelas, tapi yang bisa sedikit dijelaskan disini hanya KM3 adalah follow up dari Pelatihan Nasional Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah yang setiap tahunnya diadakan oleh Majalis Tabligh dan Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah, terus bagaimana kedudukannya di muhammadiyah?

KM3 bukanlah ortom tapi KM3 selama ini adalah pembantu bapak-bapak MTDK PP Muhammadiyah untuk menjalankan roda dakwah, yang lebih kongkrit adalah membantu MTDK dalam melaksanakan dan mengadakan Pelatihan Nasional Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah. Selama ini 4 tahun ini, karena Pelatihan Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah baru dilaksanakan 6 kali, terakhir dilaksanakan di Makasar dan Bengkulu.

Anggota KM3 kebanyakkan dari teman-teman IMM dari berbagai PTM dan PTN yang ada di Jogjakarta, Anggota KM3 Jogjakarta merupakan alumni Pelatihan Mubaligh yang diadakan oleh MTDK PP Muhammadiyah dan juga ada beberapa teman-teman IMM yang tertarik untuk berpartisipasi dan masuk sebagai anggota cultural KM3 karena mereka masih belum mengikuti pelatihan mubaligh, oleh karena itu mereka disebut sebagai anggota cultural. tapi kami tidak membedakan antara yang sudah atau yang belum mengikuti  pelatihan mubaligh, karena kami yakin teman-teman yang mau bergabung bersama KM3 mempunyai jiwa dakwah yang tinggi dan mau berjuang di Muhammadiyah khsususnya dan untuk umat Islam pada umumnya. Dengan masuk sebagai anggota KM3 bukan berarti anggota KM3 tidak aktif lagi dalam IMM, tapi dengan adanya KM3 dirasa dapat membangun tali silaturrohim antara anggota IMM seluruh Jogjakarta dalam bidang dakwah.

Oleh karena itu, untuk melegalkan dan memperjelas susunan struktural pengurus KM3 yang ada di jogjakarta, pengurus KM3 Jogjakarta merasa perlu diadakannya sebuah pelantikan kepengurusan. Kegiatan ini insya Allah akan diadakan pada hari Sabtu, 5 Juli 2008, pukul 09.00 di Gedung PP Muhammadiyah Jl.Cik Ditiro. Selain kegiatan pelantikan, pada hari yang sama juga akan diadakan pembahasan mengenai deklarasi KM3 serta program kerja KM3 per bidang. Pengurus KM3 akan dilantik oleh Bapak – bapak MTDK PP Muhammadiyah. Acara pelantikan ini akan turut mengundang IMM Cabang se-DIY, Korkom, DPD IMM serta perwakilan IRM Wilayah. Diwajibkan untuk seluruh anggota KM3 untuk hadir dalam pelantikan ini.

MENYIKAPI SIKAP KEJUJURAN

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — km3community @ 9:46 am

Sigit Wibowo[1]

Kata mutiara yang belum pasti di temukan siapa pencetusnya “kejujuran adalah modal utama”. Kejujuran adalah sebuah sikap akhlak terpuji yang akan mengantarkan kepada setiap orang yang memiliki sikap tersebut akan menjadi seorang yang besar dan di segani oleh manusia sepanjang masa. Karena sikap kejujuran pula seorang akan mendapatkan kebahagiaan dan keikhlasan dalam bekerja maupun aktivitas-aktivitas lain.

Generasi salah asuhan (mungkin?)

Indonesia sesungguhnya adalah Negara yang sangat kaya. Letak geografis dan hasil tanaman yang beraneka ragam seharusnya dapat mencukupi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia, belum lagi hasil dari tambang di Negara kita yang cukup mengagumkan. Beraneka ragam hasil tambang yang ada di Indonesia. Bahkan dipekirakan masih banyak potesi tambang kita yang belum terkelola dengan baik.

Untuk sumber daya manusia, pada dasarnya memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi. Sering kali putra-putri bangsa Indonesia yang menjuarai olimpiade sains di tingkat internasional. Bahkan tidak kalah juga, karya-karya ilmiah anak-anak bangsa mampu bersaing dengan hasil karya ilmiah dari Negara lain.

Dengan modal kekayaan yang demikian, idealnya Indonesia menjadi Negara yang maju dan serba bisa. Kita tengok saja kekayaan alam melimpah, orang cerdas dan pandai banyak, sumber daya energi banyak, tentunya Indonesia akan menjadi sosok Negara yang cukup mengagumkan dan disegani oleh Negara lain.

Akan tetapi apa yang menjadi sesuat yang ideal ternyata, tidaklah sesuai dengan kondisi lapangan yang sebenarnya. Negara kita menjadi Negara yang sering dijadikan sasara empuk oleh Negara lain, baik dari politik sampai ke masalah-masalah lain. Sebut saja Malaysia, sebuah Negara yang secara kasap mata serumpun dengan kita, baik segi ras maupun bahasa, mereka dengan seenaknya menyerobot kekayaan seni dan budaya Indonesia, belum lagi maslah TKI yang terus berlarut larut.

Permasalahan lain yang sampai sekarang menghinggapi bangsa indoesia, adalah krisis moral. Di dengungkannya reformasi pada tahun 1998 oleh para tokoh, elemen mahasiswa dan masyarakat, adalah agar bagsa kita ini bisa lebih baik, terutama dari bahaya praktik korupsi dan kolusi besar-besaran yang terjadi masa rezim orde baru selama lebih dari tiga dasawarsa. Banyak sekali pelanggaran-pelanggaran lain yang dilakukan pada masa rezim sebelumnya, terutama masalah tanjung priok da pelanggaran HAM lainya, yang sampai sekarang tidak jelas bagai mana kelanjutan kasusnya. Akan tetapi apa yang kita lihat selama pasca reformasi sampai saat ini, sangat jauh dari apa yang kita harapkan. Korupsi di segala lini semakin menggila, kebebasan pers yang cenderung ngawur dan kebablasan, semakin banyaknya tindak krimanal yang terjadi dan masih banyak kekacauan-kekacauan yang terjadi di luar.

Menurut bapak Amin Rais dalam bukunnya “SELAMATKAN INDONSIA”menyebutkan bahwa mental bangsa Indonesia masih bermental inlander[2], yaitu mental bangsa yang terjajah dan cenderung tidak percaya diri dan suka tergantung dengan bangsa lain, sehingga seolah-oleh kita akan sulit maju jika tanpa bantuan asing[3]. Akibatnya banyak kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah harus sesuai dengan harapan barat. Kalaupun kita berusaha untuk bergerak para pemegang kebijkan selalu takut akan embel-embel atau akibat yang akan terjadi apabila kebijakan tersebut tidak meguntungkan pihak asing.

Mental bangsa yang bobrok seharusnya tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena bisa jai Indonesia akan jadi tinggal nama, tentu sebagai anak bangsa kita tidak mengingikan hal itu terjadi. Sebenarnya kalau kita mau berkaca kepada para pendahulu-pendahulu kita, yang dengan gigih memeperjuangkan bangsa Indonesia untuk merdeka, mereka tidak kenal dengan rasa takut dengan musuh, pertanyaan kita apakah semangat itu saat ini sudah pudar, atau hilang sama sekali? Hanya kita yang dapat menjawab pertanyaan itu, itupun kalau kita masih bisa jujur terhadap diri sendiri.

“Jujur?” Ah!!!!! Emang gue pikirin

Kalimat itu tentu sering muncul dalam benak hati kita dalam kehidupan sehari-hari, da kalimat itu itupula yang membenamkan kata hati kita sehingga mata kita menjadi buta terhadap fatamorgana yang kerap kali menyilaukan kita. Pada saat kita sedang haus di padang pasir pandangan mata kita akan selalu ditampakan terhadap pemandangan air, yang sebenarnya itu tidak ada.

Seperti itulah kira-kira kondisi manusia saat ini. Hawa nafsu secara tidak langsung telah menguasai akal sehat. Sehingga mereka hanya akan terus memperturutkan hawa nafsu mereka sampai mereka ingat, kalau memang Allah menghendaki mereka ingat.

Sudah tidak asing bagi kita Demonstrasi yang dilakukan oleh para mahasiswa, yang mengambil isu, tentang politisi busuk.[4]. Tetapi marilah kita tengok bersama, bagaimana tingkah laku dari sebagian kawan-kawan kita dikampus, maupun mereka yang masih belajar dibangku sekolah, atau mungkin kita adalah salah satunya apakah sudah mempunyai sikap yang jujur? Atau bahkan dalam kehidupan mereka sudah di berlakukan nilai-nilai kejujuran dalam setiap sendi-sendi kehidupan sehari-hari? Tentunya hanya kita yang bisa menjawabnya.

Prilaku menyontek yang merebab dikalangan pelajar mahasiswa adalah salah satu potret masa depan kita dan Negara kita. Mereka terlalu terobsesi dengan nilai yang tinggi dengan segala macam usaha, terlepas usaha tersebut merugikan atau tidak, yang penting nilai tinggi dan lulus cepat. Bagaimana tidak mereka yang dianggap kalangan terpelajar dan intelektual tinggi dan akan menjadi agent of change (agen perubahan) untuk bangsa bisa berbuat seperti itu. Itu adalah sedikit gambaran, bilamana sebenarnya secara tidak sengaja kita telah terdidik untuk melakukan korupsi. Kalau kondisi yang terjadi masih seperti itu, maka mustahil bagi kita untuk memberantas korupsi. Walaupun sekarang ada KPK, kalau mental tidak segera diperbaiki maka akan sulit koupsi akan lenyap dimuka bumi ini Indonesia kita yang tercinta.

Memang sering dikorupsi oleh para pelajar saat ini bukan uang, akan tetapi kesemuannya itu tidak terlepas dari sikap kejujuran kita yang menunjukan akhlak kita yang sebenarnya, kegiatan apaun yang kita lakukan dengan tidak sesuai dengan prosedur dan cenderung merugikan, baik diri sendiri dan orang lain maka itu juga tindakan korupsi. Bilamana para pemuda dan pemudi kita, ketika masih dalam tahap belajar saja, kita tidak bisa mengendalikan diri, apalagi kalau kita kita sudah menjadi orang berkuasa nanti, semoga Allah tetap memberikan bimbingannya kepada kita.

Sikap yang baik dan jujur pada dasarnya telah di contohkan oleh junjungan kita Nabi Muhammad SAW, dan para sahabat-sahabatnya. Bagaimana nabi Muhammad di berikan gelar AL Amin oleh masyarakat pada saat itu, dikarenakan kejujurannya, sehingga setiap perkataan yang keluar dari mulutnya tentunya adalah sebuah kebenaran dan ditambah-tambahi, sehingga orang yang mendengarnya tidak akan khawatir jikalau sedang di bohongi. Sehingga pada masa pemmbangunan ka’bah beliau diberi kepercayaan masyarakat pada saat itu untuk meletakan Hajar Aswad keposisinya. Contoh-contoh lain bisa kita lihat dari pendahulu-pendahulu kita mulai dari Khulafau Rasyidin, sahabat, tabi’, tabi’-tabi’in. Permasalahannya sekarang adalah jarang sekali para kaum muda islam sekarang yang mau dan tertarik untuk mempelajarinya.

Sebagai umat islam sikap keujuran adalah sikap yang harus dan mutlak kita miliki. Karena dengan tidak jujur bisa jadi banyak sekali kerugian-kerugian maupun kerusakan yang dapar ditimbulkan karenannya dan Allah sangat membenci mereka yang telah berbuat curang[5]. Apapun profesi kita lakukanlah dengan senang hati dan ikhlas, karena dengan iklhlas. Karena dengan kita berbuat ikhlas dan tidak menyalahgunakan prosedur, maka dalam melakukan seiap hal, hati kita akan terasa ringan. Sebaliknya apabila kita melakukan setiap kegiatan dengan penuh maksud dan kepentingan pribadi dan golongan maka dalam setiap kegiatan apapun kita akan sulit untuk bisa tenang, karena kita akan selalu khawatir apabila, ada yang akan menghancurkan atau menghalangi kita. Kebimbangan demi kebimbangan akan selalu muncul apabila segala sesuatu tersebut tidak kita lakukan dengan dasar jujur dan ikhlas[6]. Wallahua’lam bishshawab

 


[1] Mahasiswa PLS FIP UNY, Mantan Kabid Dakwah IMM UNY, Mantan Kabid Kader KM3

[2] Dalam bukanya pak Amin Rais, SELAMATKAN INDONESIA, inlander secara harfiah adalah pribumi,. Istilah ini sering digunakan secara sinis-sarkastik untuk menunjukan anak bangsa yang penakut, dan merasa inferior di hadapan penjajah belanda.

[3] Lihat Amin Rais, ibid 139

[4] Secara umum yang dimaksud politisi basuk, adalah mereka anggota dewan, maupun poltisi lainnya, yang dalam hal ini sering menngunakan wewenang mereka diluar prosedur guna kepentingan pribadi mereka, dalam hal ini yang sering di sorot oleh kawan-kawan mahasiswa adalah prilaku KKN yang mereka lakukan

[5] Buka Al Qur’an surat Al Muthafiffin, ayat 1-10, Di dalam surat itu dijelaskan tentang orang-orang yang berbuat curang.

Riyadhus shalihin, dari ibnu mas’ud, , dari nabi Muhammadd SAW, beliau bersabda”sesungguhnya kebenaran itu membawa kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Seorang akan selalu bertindak  jujur sehingga sehingga ia di tulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu membawa kejahatan dan kejahatan itu membawa keneraka. Seorang akan selalu berdusta  sehingga ia ditulis disisi Allah sebagai pendudsta” (HR.Bukhari dan Muslim)

[6] Dari Abu Muhammad AL-Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra, ia berkata “Saya mengahafal beberapa kalimat dari rassulullah SAW, yaitu : “Tinggalkan apa yang kamu ragukan dan kerjakanlah apa yang tidak kamu ragukan. Sesungguhnya jujur itu menimbulkan ketenangan dan dusta itu menimbulkan kebimbangan.”(HR.Tirmidzi)

Juni 28, 2008

ARTI DAKWAH

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — km3community @ 12:12 am

M. AMIEN RAIS

Allah telah mengajarkan kepada Nabi Muhammad SAW agar menyeru umat manusia ke jalan-Nya:

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepadaAllah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” (Yusuf: 108).

Dalam menyeru umat manusia ke jalan Allah itu, Nabi beserta para pengikutnya bersandar pada keterangan-keterangan yang jelas (basyirah), dan sambil memuji kesucian Allah, Nabi menegaskan bahwa beliau bukan tergolong orang musyrik. Makna dakwah dalam ayat ini ialah ad-da’wah ila Allah (ad’u ila Allah), yaitu seruan, ajakan, panggilan dan imbauan kepada Allah, kembali kepada Allah. Allah juga menegaskan bahwa tidak ada perkataan yang lebih baik daripada menyeru kepada Allah dan melakukan amal saleh serta menyatakan diri sebagai orang Islam, orang yang berserah diri kepada Allah:

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (Fushilat:33)

Dalam ayat ini pun dakwah berarti da’wah ila Allah. Dianjurkan pula supaya seorang Muslim menyatakan identitasnya sebagai Muslim dengan jelas, agar tidak dijumbuhkan dengan seorang musyrik. Penegasan ini perlu, karena kaum politeis (musyrikun) juga berusaha mengembangkan “dakwah”-nya. Al-Quran juga secara imperatif menyuruh setiap Muslim untuk menyeru umat manusia ke jalan Tuhan dengan bijaksana, dengan nasihat yang baik dan argumentasi yang jitu.

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An-Nahl: 125)

Ayat ini menunjukkan kepada kita cara-cara yang baik untuk mengajak hambahamba Allah ke jalan-Nya, dan tidak ada sedikit pun konotasi bahwa da’wah ila Allah atau da’wah ila sabilillah dianjurkan lewat paksaan, apalagi kekerasan. Dari ayat ini kita mengetahui bahwa setiap Muslim pada hakikatnya berkewajiban untuk melakukan dakwah, supaya kebenaran agama yang telah ia terima dapat dinikmati orang lain. Kebenaran Islam bukan hanya bersifat teoritis, demikian menurut almarhum Ismail al- Faruqi, melainkan juga bersifat aksiologis dan praktis. Kebenaran inilah yang harus ditularkan seluas-luasnya kepada masyarakat manusia dengan sikap dan pandangan yang bijak, nasihat yang indah, dan argumentasi yang kukuh. Menurut Al-Qur’an, manusia diciptakan untuk menjadi khalifah Allah di muka bumi ini, atau makhluk Tuhan yang bertugas mengelola kehidupan dunia sesuai dengan kehendak-Nya. Manusia-Muslim mempunyai peranan yang dinamis dan kreatif untuk mengemban tugas kekhalifahan tersebut. Dibekali dengan agama, rasio, dan amanah (free will), manusia-Muslim diharapkan mampu memecahkan masalah-masalah yang ia hadapi dengan menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai paradigma, atau sebutlah terms of reference-nya.

Dalam tugas kekhalifahan itu, dakwah menjadi bagian paling esensial, karena pembangunan manusia dan masyarakat sebagaimana dikehendaki oleh Allah Sang Maha Pencipta hanya dapat terselenggara jika secara individual maupun kolektif, manusia dan masyarakat bersedia menyambut da’wah ila Allah dan menebarkan amal saleh (yang bermakna setiap usaha, kerja, dan tindakan yang bernilai kebajikan). Da’wah ila Allah selalu ditekankan, dan menjadi substansi pokok tugas seorang Muslim. Penegasan ini diperlukan, untuk membedakannya dengan da’wah ila an-nar atau ajakan masuk neraka, yang merupakan pekerjaan orang-orang musyrik

Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (Al-Baqarah: 221).

Dakwah yang berisikan amar ma’ruf dan nahi munkar yang digerakkan orang-orang Muslim

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (Ali Imran: 104),

Dalam kenyataannya memang berhadapan dengan dakwah amar munkar dan nahi ma’ruf yang dilakukan oleh orang-orang munafik.

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma`ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik. (At-Taubah: 67).

Gerakan dakwah yang berlawanan inilah yang pada hakikatnya menjadikan kehidupan dunia cukup menarik. Konfrontasi antara yang ma’ruf dan yang munkar, antara dakwah yang mengajak manusia agar menjadi “golongan kanan” (ashabul yamin) dan dakwah yang mendorong manusia supaya menjadi “golongan kiri” (ashabul syimal), antara calon-calon penghuni surga (ashabul jannah) dan calon-calon penghuni neraka (ashabul nar), memang membuat kehidupan umat manusia menjadi penuh perjuangan, pergulatan, dan pertentangan. Kegiatan dakwah dalam Islam sesungguhnya meliputi semua dimensi kehidupan manusia, karena amar ma’ruf dan nahi munkar juga meliputi segala bidang kehidupan. Tetapi jangan dilupakan bahwa para pendukung amar munkar dan nahi ma’ruf juga menggunakan segenap jalur kegiatan kehidupan. Secara demikian, kegiatan budaya, politik, ekonomi, sosial, dan lain-lain, dapat dijadikan kegiatan dakwah, baik dakwah Islamiah (da’wah ila Allah) maupun dakwah jahiliah, yakni dakwah yang menjadikan neraka sebagai muara akhir (da’wah ila an-nar). Dari pemahaman seperti ini mudah kita mengerti bahwa politik pada hakikatnya merupakan bagian dari dakwah. Adapun dakwah Islam (selanjutnya disebut “dakwah”) adalah setiap usaha rekonstruksi masyarakat yang masih mengandung unsur-unsur jahili agar menjadi masyarakat yang Islami. Oleh karena itu, dakwah juga berarti Islamisasi seluruh kehidupan manusia. Menurut Muhammad Naquib al-Attas, Islamisasi adalah proses pembebasan manusia, pertama-tama dari segenap tradisi yang bersifat magis, mitologis, animistis dan budaya nasional yang irasional. Kemudian berarti juga pembebasan manusia dari pengaruh sekular yang membelenggu pikiran dan perilakunya. Pakar Muslim dari Malaysia ini mengatakan—dan saya sepenuhnya setuju dengan perkataannya ini—”Manusia-Islam adalah manusia yang pikiran dan bahasanya tidak lagi dikendalikan oleh magi, mitologi, animisme, tradisi-tradisi kultural dan nasionalnya, dan juga sekularisme. Dia terbebas, baik dari dunia sekular maupun dunia magis.” (“The man of Islam is he whose reason and language are no longer controlled by magie, mythology, animism, his own national and cultural traditions and secularism. He is liberated from both the magical and the secular world”).

Sekularisme, seperti halnya animisme, magisisme dan mitologisme, adalah manifestasi jahiliah ditinjau dari pandangan Islam. Sebagai poros seluruh ajaran Islam, tauhid menggerakkan kegiatan dakwah untuk membebaskan manusia dari perangkap-perangkap nativisme yang mengajak orang kembali ke ajaran-ajaran nenek-moyang, walaupun ajaran-ajaran tersebut bersifat irasional, animistis, dan penuh dengan ilusi serta pelbagai jenis psikotropia. Di sisi lain, dakwah juga menyelamatkan manusia dari keangkuhan sekularisme yang cenderung menuhankan manusia, dan perlahan-lahan mencoba menggusur nilai-nilai agama dengan ‘nilai-nilai yang sepenuhnya humanistik. Sebagaimana kita ketahui, humanisme-sekular mempunyai kredo khusus (semacam “syahadat”), yaitu: “manusia adalah ukuran segala-galanya (man is the measure of all things). Dengan pemahaman dakwah seperti di atas, tampak semakin jelas bahwa dakwah memang berwatak progresif, bahkan revolusioner. Dakwah tidak akan dapat menerima status quo yang bertentangan dengan tuntunan wahyu atau ajaran-ajaran agama. Dakwah adalah gerakan simultan dalam berbagai bidang kehidupan untuk mengubah status quo, agar nilai-nilai Islam memperoleh kesempatan untuk tumbuh subur, demi kebahagiaan seluruh umat manusia. Perubahan itu sendiri dapat bersifat reformatif, bisa pula revolusioner, bergantung pada situasi sosial, politik, ekonomi, dan situasi mentalpsikologis suatu masyarakat. Untuk masyarakat Indonesia, perubahan reformatif jauh lebih relevan dan realistis serta lebih produktif, sehingga kegiatan dakwah di bidang apa pun harus dirancang sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia. Sebagai ruh dakwah, tauhid mendorong rekonstruksi sosial yang sesuai dengan ajaran-ajaran Allah. Dengan perkataan lain, dakwah yang bersendikan tauhid selalu berusaha memasyarakatkan Islam sebagai agama {ad-dien), sebagai pandangan-hidup dan paradigma pemecahan setiap masalah yang timbul dalam masyarakat modern, dengan segala macam manifestasi, percabangan, dan perinciannya. Ajakan tauhid ini ditujukan kepada seluruh umat manusia, agar mereka melakukan transformasi sosio-ekonomi dan sosio-politik menuju suatu orde yang Islami. Namun, ajakan tauhid bersifat sukarela. Jawaban terhadap ajakan tauhid, sepenuhnya bergantung pada manusia sendiri: apakah mereka mau beriman ataukah ingin kufur, sebagaimana difirmankan oleh Allah:

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datang dari Tuhanmu. Maka barang-siapa mau, bolehlah ia beriman, dan barangsiapa mau,boleh ia tidak percaya (kufur)” (Al-Kahfi: 29).

Sampai di sini mungkin timbul pertanyaan: mengapa da’wah ila Allah atau da’wah ila al-khair diwajibkan oleh Islam? Jawabannya adalah bahwa dakwah diperlukan karena manusia tidak pernah dapat mengandalkan nasibnya hanya pada akal dan nafsunya saja. Akal manusia bisa menyeleweng dari kebenaran dan bersifat serba-nisbi, sedangkan nafsu manusia cenderung destruktif. Manusia memerlukan wahyu ilahi, membutuhkan bimbingan Tuhan (divine guidance) dalam memecahkan masalah-masalah kehidupannya.

* * *

LISENSI DOKUMEN

Artikel ini dikutip dan diedit dari M. Amien Rais, Cakrawala Islam: Antara Cita dan Fakta, Bandung: Mizan, 1996, hal 24-27. Lisensi Al-Manär.

Juni 14, 2008

Cermin Diri Terhadap Al Kisah Nabi Ibrahim AS

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — km3community @ 10:52 pm

Ibrahim Alaihissalam termasuk salah seorang nabi. Ketika dia masih muda dan tidak seorang pun di sekitarnya yang mengingatkan dia akan adanya Allah, dia telah memperhatikan langit. Dengan cara ini, dia mengetahui bahwa Allah telah menciptakan segalanya. Hal ini difirmankan dalam Al Qur’an sebagai berikut:

“ Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang, (lalu) dia berkata, Inilah Tuhanku. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata, Saya tidak suka yang tenggelam.”

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia pun berkata, Inilah Tuhanku. Tetapi setelah bulan itu terbenam. Ibrahim bertkata, Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit dia pun berkata, Inilah Tuhanku, ini lebih besar. Namun tatkala matahari itu telah terbenam, Ibrahim berkata, Hai kaumku, sesungguhnya aku melepaskan diriku dari apa yang kalian persekutukan!

“ Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS Al-An’am: 76-79)”.

Ibrahim AS berkata kepada umatnya agar tidak menyembah tuhan selain Allah: “ Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, Apakah yang kalian sembah? Mereka menjawab, Kami menyembah berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya. Berkata Ibrahim, Apakah berhala-berhala itu mendengar (doamu) sewaktu kalian berdoa kepadanya? Atau dapatkah mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat? Mereka menjawab, Bukan karena itu. Sebenarnya kami melihat nenek moyang kami berbuat demikian. Ibrahim berkata, Maka apakah kalian memperhatikan apa yang selalu disembah (oleh) kalian dan nenek moyang kalian dahulu itu? Sesungguhnya apa yang kalian sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta Alam, yaitu Tuhan yang telah menciptakan aku, maka Dia-lah yang menunjuki aku, Dan Tuhanku, Yang memberi makan dan minum kepadaku, Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, Dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), Dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.(QS Asy-Syuaraa: 69-82)”.

Musuh-musuh Ibrahim berusaha membunuhnya ketika Ibrahim menyeru mereka untuk beriman kepada Allah. Mereka membuat api unggun yang besar dan melemparkan Ibrahim ke dalamnya. Tetapi Allah melindungi Ibrahim dan menyelamatkannya dari api : Maka tidak ada jawaban kaum Ibrahim, selain mengatakan, Bunuhlah atau bakarlah dia. Lalu Allah menyelamatkannya dari api. Sesungguhnya pada kejadian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman. (QS Al-Ankabuut: 24)

” Kami berfirman, Hai api, dinginlah, dan selamatkanlah Ibrahim!(QS Al-Anbiya: 69)”.

Allah-lah Yang menciptakan dan mengendalikan segalanya. Dengan kehendak Allah, api tersebut tidak membakar Nabi Ibrahim. Ini adalah mukjizat dari Allah dan wujud dari kekuasaan-Nya. Segalanya di bumi ini terjadi atas kehendak Allah. Tidak ada yang bisa terjadi tanpa kehendak dan kendali Allah. Jika Dia tidak menghendakinya, tak seorang pun yang bisa menyakiti atau membunuh orang lain :

” Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati, melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.(QS Al-Imran: 145)”.

Ibrahim tidak mati, meskipun dia dilemparkan ke dalam api, karena saat kematiannya telah ditetapkan oleh Allah, dan belum tiba. Allah menyelamatkan Ibrahim dari api. Dalam satu ayat, Allah mengisahkan kepada kita bahwa Ibrahim adalah manusia dengan sifat terpuji:

” Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penuh kasih dan selalu kembali kepada Allah. (QS Hud:75).”

Allah mencintai manusia yang sepenuh hati menyembah-Nya. Tidak ingkar, memiliki sifat terpuji, dan tunduk kepada perintah-perintah Allah adalah sifat-sifat yang disukai menurut pandangan Allah.

By @n_

Juni 10, 2008

Allah bukanlah Tuhan

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — km3community @ 11:56 pm

 Mari saya ajak kembali ke tahun 5000 sm, diperkirakan pada waktu itu terdapat ajaran penyembahan terhadap Tu dan Yang atau yang sering disebut agama kultur Tu dan agama Yang yang berpangkal di asia tengah dan mungkin dianut oleh beberapa suku mongoloid purba (nenek moyang bangsa Cina, Tibet dan Jepang). Ajaran ketuhanan asli bangsa itu adalah penguasa sekalian alam itu dinamakan Tu yang bersifat esa tidak berawal dan tidak berakhir. Ia maha besar jika dibandingkan dengan alam terbesar dan maha kecil jika dibandingkan dengan alam yang terkecil. Akan tetapi zat Tu itu memenuhi sekalian alam. Bila alam itu kembali seperti semula. Ajaran Tu ini menyebar hingga kebeberapa daerah di cina selatan. Lalu karena terdesak mereka terus menyebar kearah selatan dan memasuki kepulauan Indonesia dan Filipina. Menurut ajaran melayu purba Tu dinamakan pula Tuh dan jika diberi imbuhan –an menjadi Tuhan. Tuh dimakan pula Sangyang tunggal yang hidup bersekutu dalam alam tetapi bukan alam.

Kadang sering sekali kita menyebut Allah dengan tuhan. Allah itu bukan tuhan. Allah adalah Allah, tidak ada masalah dengan nama Allah tidak seperti agama Yahudi yang tidak jelas nama ilahnya. Tuh adalah sesembahan dan kepercayaan agama kuno di Asia Timur dan kemudian masuk ke Indonesia. Agama Tu dan Yang adalah termasuk agama kultur, bersifat panteisme dan syirik karena banyak mengandung kurofat dan   tahayul.

Kita sering mengunakan istilah-istilah yang   kadang kita tidak tahu arti dan maknanya, sehingga kita main sabet saja dan taklid buta. Betapa bahayanya taklid buta, apa lagi kalau sudah menyangkut masalah aqidah.

Kata tuhan adalah serapan dari ajaran dari agama kuno Tu dan Yang , jadi janganlah Allah kita diganti dengan tuhan. Dan janganlah sholat diganti dangan sembayang yang berarti menyembah kepada Yang.

wrote@by_je_est Neev

Referensi :

A.D. El Marzdedeq. Parasit-Parasit Aqidah .2008. Syaamil Cipta Media, Bandung.

 

Juni 8, 2008

TAUHID SOSIAL DALAM GERAKAN Al MAUN

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — km3community @ 11:07 pm

Garis-garis peradaban manusia yang semakin berkembang akan selalu melahirkan sebuah hasil-hasil pemikiran yang semakin berfariasi. Fariasi pemikiran-pemikiran para pemikir bisa jadi sebuah hasil murni pemikiran mereka, bisa jadi merupakan pengembangan dari sebuah pemikiran yang sebelumnya pernah dilontarkan oleh para filsuf-filusuf yang pernah lahir pada abad-abad sebelumnya.

Pemikiran-pemikiran tersebut pada umumnya lahir dari sebuah realita masyarakat yang sering tidak sesuai dengan tatanan hidup yang unik dan tidak normal. Kondisi masyarakat yang memiliki taraf hidup yang berbeda, sering terjadi jurang pemisah antara mereka, yang merasa dirinya kaya sering enggan untuk bergaul dengan yang miskin, sebaliknya pula yang miskin, mereka merasa minder dengan kemiskinannya sehingga mereka sering mengelompok dengan kelompok yang mereka angga senasib.

Permasalahan demi permasalahan akan selalu datang, dan hampir sebagian besar permasalahan datangnya selalu di luar perhitugan dan perencanaan manusia. Oleh karena itulah manusia senagai makhluk tuhan yang paling mulia di berikan akal budi pekerti sehingga, manusia dapat berfikir bagaimana mengatasi sebuah permasalahan-permasalahan hidup, baik secara individu maupun sosial[1].

Masalah ketimpangan sosial seperti pada yang terjadi pada saat ini sudah bukan menjadi permasalahan yang baru, kondisi tersebut telah lama terjadi sejak zaman nabi-nabi terdahulu, yang mana banyak sekali kaum miskin yang secara tidak langsung tertindas oleh mereka yang memiliki harta berlebih. Problem kemiskinan hampir semua dialami oleh negera-negara di dunia, tidak terkecuali negara maju, akan tetapi standar kemiskinan antar negara satu dengan yang lainya tentu tidak sama. Dan hampir dipastikan deluruh penduduk di dunia tanpa terkecuali secara lahiriah tidak ingin terlahir dengan miskin.

Sebagai umat islam kita harus bisa introspeksi diri. Sebagai umat yang besar kita patut bertanya, apakah yang bisa kita berikan kepada saudara kita di pinggir jalan sana?apakah kita pantas memberikan bantuan dana kesana-kemari sementara saudara kita masih dalam keadaan lapar, tentu kita dapat merenungkan semuanya.

Dalam surat almaun surat 1-3 yang berbunyi:

 

            Artinya : Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?

 

            Artinya : itulah yang menhardik anak yatim,

 

            Artinya : dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.

Kalau kita cermati bersama dari ayat 1-3 surat almaun di atas di dalamnya terdapat salah satu jenis aplikasi tauhid sosial. Konsep tauhid yang intinya adalah meng-ESAkan alloh dalam konsep praktisnya adalah menjalankan semua perintah dan menjauhi larangan, dan salah satu perintah Alloh kepada manusia adalah kita memiliki sikap tenggang rasa dan kepedulian sosial sebagai aplikasi dari penerapan tauhid sosial.

Dalam kandungan ayat 2-3 terdapat salah satu bentuk sinple dari sikap kepedulian sosial dan tenggang rasa yaitu, larangan kepada siapa saja untuk tidak mengabaikan anak yatim dan orang miskin. Sebagai manusia yang telah di berikan nikmat yang cukup, tidak ada salahnya apabila dalam mensyukuri nikmat Alloh kita dapat menyisihkan senagian harta kita untuk membantu saudara-saudara kita yang kesusahan.

Sebagai umat islam memang kita diutamakan untuk memberi dari pada menerima. Dalam surat Al Insan ayat 8 yang berbunyi :

 Dan mereka memberikan makanan yang di sukainya kepada orang miskin, anak yatim yang di tawan.

Dalam surat tersebut dapat kita fahami bersama bahwa dalam memberikan bantuan jangan pilih-pilih. Selama ada orang yang membutuhkan bantuan kita entah itu mantan musuh kita, janganlah kita mengabaikannya dan menunggu disuruh dalam memberikan bantuan kepadanya, karena sekicil apapun bantuan kita apabila diniati dengan tulus ikhlas maka akan memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat bagi kita maupun pihak yang kita beri.

 

Bagaimana denga kita?

Kita sebagai cikal bakal generasi Qur’ani yang mengaku berdasarkan Al Qur’an dan sunah mulai sekarang harus memulai dari saat ini. Masih banyak saudara-saudara kita yang dalam kesusahan. Tidak usah kita harus melakukan sesuatu yang besar, akan tetapi sesuatu tersebut tidak di dasari dengan perasaan yang ikhlas karena Alloh.

Contoh tokoh yang sangat peduli dengan keadaan sosial adalah Kyiai Haji Ahmad Dahlan. Bagaimana sepak terjangnya dalam memberantas syirik yang menggelayuti keadaan umat islan saat itu. Selain kondisi tersebut penjajahan mental yang sudah terjadi berabad-abad, semakin memperparah kehidupan sosial masyarakat saat itu. Banyak pengangguran dan kemiskinan merajalela pada akhirnya dapat di tekan dengan sedemikian rupa, walaupun dengan menghadapi halangan yang cukup luar biasa dari orang yang tidak suka dengannya.

Sedikit-demi sedikit dengan gerakan Al Maun yang di dengungkan pada saat ini bisa kita lihat organisasi yang ia dirikan menjadi salah satu organisasi dan ormas yang disegani di Indonesia dan seluruh dunia.

Sebagai penutup izinkanlah kami menukil surat Al baqoroh ayat 14.

Artinya : Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.


[1] Mahasiswa PLS UNY, mantan Kabid Dakwah IMM UNY, mantan Kabid Kader KM3

[1] Pengantar ilmu pendidikan, MKU UNY

[2] Amin Rais, tauhid sosial

[3] Dari Djamaludin Al Afgani sampai Ahmad Dahlan, PP Muhammadiyah

« Tulisan Lebih BaruTulisan yang Lebih Tua »

Blog pada WordPress.com.