jump to navigation

Sebuah Dinamika Penggerak Menuju Pelantikan Juni 30, 2008

Posted by km3community in Uncategorized.
1 comment so far

KM3 adalah sebuah nama yang kadang bisa juga di buat guyon, ada yang mengatakan KM3 itu singkatan dari kilo meter tiga, ada yang lebih estrim lagi dengan menamai KM3 dengan sebutan korp mahasiswa mencla-mencle, apa artinya? orang Jawa pasti tahu artinya. Tapi semua itu hanyalah guyonan bahkan itu adalah sapaan dan simbol keakraban dari teman-teman sendiri.

KM3 masih dalam status yang membingungkan dikalangan teman-teman yang lain terutama teman-teman IMM, mereka mempertanyakan status KM3. Jangankan teman-teman  yang  lain, teman-teman anggota kepengurusan KM3 sendiripun masih banyak yang bertanya status KM3 sendiri. KM3  Itu ortom atau hanya sekedar bentuk komunitas dakwah yang membutuhkan sebuah wadah? Banyak sekali frame yang berbeda tentang status KM3 itu sendiri.

Kalau kita membicarakan soal status KM3 di Muhammadiyah, memang belum jelas, tapi yang bisa sedikit dijelaskan disini hanya KM3 adalah follow up dari Pelatihan Nasional Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah yang setiap tahunnya diadakan oleh Majalis Tabligh dan Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah, terus bagaimana kedudukannya di muhammadiyah?

KM3 bukanlah ortom tapi KM3 selama ini adalah pembantu bapak-bapak MTDK PP Muhammadiyah untuk menjalankan roda dakwah, yang lebih kongkrit adalah membantu MTDK dalam melaksanakan dan mengadakan Pelatihan Nasional Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah. Selama ini 4 tahun ini, karena Pelatihan Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah baru dilaksanakan 6 kali, terakhir dilaksanakan di Makasar dan Bengkulu.

Anggota KM3 kebanyakkan dari teman-teman IMM dari berbagai PTM dan PTN yang ada di Jogjakarta, Anggota KM3 Jogjakarta merupakan alumni Pelatihan Mubaligh yang diadakan oleh MTDK PP Muhammadiyah dan juga ada beberapa teman-teman IMM yang tertarik untuk berpartisipasi dan masuk sebagai anggota cultural KM3 karena mereka masih belum mengikuti pelatihan mubaligh, oleh karena itu mereka disebut sebagai anggota cultural. tapi kami tidak membedakan antara yang sudah atau yang belum mengikuti  pelatihan mubaligh, karena kami yakin teman-teman yang mau bergabung bersama KM3 mempunyai jiwa dakwah yang tinggi dan mau berjuang di Muhammadiyah khsususnya dan untuk umat Islam pada umumnya. Dengan masuk sebagai anggota KM3 bukan berarti anggota KM3 tidak aktif lagi dalam IMM, tapi dengan adanya KM3 dirasa dapat membangun tali silaturrohim antara anggota IMM seluruh Jogjakarta dalam bidang dakwah.

Oleh karena itu, untuk melegalkan dan memperjelas susunan struktural pengurus KM3 yang ada di jogjakarta, pengurus KM3 Jogjakarta merasa perlu diadakannya sebuah pelantikan kepengurusan. Kegiatan ini insya Allah akan diadakan pada hari Sabtu, 5 Juli 2008, pukul 09.00 di Gedung PP Muhammadiyah Jl.Cik Ditiro. Selain kegiatan pelantikan, pada hari yang sama juga akan diadakan pembahasan mengenai deklarasi KM3 serta program kerja KM3 per bidang. Pengurus KM3 akan dilantik oleh Bapak – bapak MTDK PP Muhammadiyah. Acara pelantikan ini akan turut mengundang IMM Cabang se-DIY, Korkom, DPD IMM serta perwakilan IRM Wilayah. Diwajibkan untuk seluruh anggota KM3 untuk hadir dalam pelantikan ini.

MENYIKAPI SIKAP KEJUJURAN Juni 30, 2008

Posted by km3community in Uncategorized.
2 comments

Sigit Wibowo[1]

Kata mutiara yang belum pasti di temukan siapa pencetusnya “kejujuran adalah modal utama”. Kejujuran adalah sebuah sikap akhlak terpuji yang akan mengantarkan kepada setiap orang yang memiliki sikap tersebut akan menjadi seorang yang besar dan di segani oleh manusia sepanjang masa. Karena sikap kejujuran pula seorang akan mendapatkan kebahagiaan dan keikhlasan dalam bekerja maupun aktivitas-aktivitas lain.

Generasi salah asuhan (mungkin?)

Indonesia sesungguhnya adalah Negara yang sangat kaya. Letak geografis dan hasil tanaman yang beraneka ragam seharusnya dapat mencukupi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia, belum lagi hasil dari tambang di Negara kita yang cukup mengagumkan. Beraneka ragam hasil tambang yang ada di Indonesia. Bahkan dipekirakan masih banyak potesi tambang kita yang belum terkelola dengan baik.

Untuk sumber daya manusia, pada dasarnya memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi. Sering kali putra-putri bangsa Indonesia yang menjuarai olimpiade sains di tingkat internasional. Bahkan tidak kalah juga, karya-karya ilmiah anak-anak bangsa mampu bersaing dengan hasil karya ilmiah dari Negara lain.

Dengan modal kekayaan yang demikian, idealnya Indonesia menjadi Negara yang maju dan serba bisa. Kita tengok saja kekayaan alam melimpah, orang cerdas dan pandai banyak, sumber daya energi banyak, tentunya Indonesia akan menjadi sosok Negara yang cukup mengagumkan dan disegani oleh Negara lain.

Akan tetapi apa yang menjadi sesuat yang ideal ternyata, tidaklah sesuai dengan kondisi lapangan yang sebenarnya. Negara kita menjadi Negara yang sering dijadikan sasara empuk oleh Negara lain, baik dari politik sampai ke masalah-masalah lain. Sebut saja Malaysia, sebuah Negara yang secara kasap mata serumpun dengan kita, baik segi ras maupun bahasa, mereka dengan seenaknya menyerobot kekayaan seni dan budaya Indonesia, belum lagi maslah TKI yang terus berlarut larut.

Permasalahan lain yang sampai sekarang menghinggapi bangsa indoesia, adalah krisis moral. Di dengungkannya reformasi pada tahun 1998 oleh para tokoh, elemen mahasiswa dan masyarakat, adalah agar bagsa kita ini bisa lebih baik, terutama dari bahaya praktik korupsi dan kolusi besar-besaran yang terjadi masa rezim orde baru selama lebih dari tiga dasawarsa. Banyak sekali pelanggaran-pelanggaran lain yang dilakukan pada masa rezim sebelumnya, terutama masalah tanjung priok da pelanggaran HAM lainya, yang sampai sekarang tidak jelas bagai mana kelanjutan kasusnya. Akan tetapi apa yang kita lihat selama pasca reformasi sampai saat ini, sangat jauh dari apa yang kita harapkan. Korupsi di segala lini semakin menggila, kebebasan pers yang cenderung ngawur dan kebablasan, semakin banyaknya tindak krimanal yang terjadi dan masih banyak kekacauan-kekacauan yang terjadi di luar.

Menurut bapak Amin Rais dalam bukunnya “SELAMATKAN INDONSIA”menyebutkan bahwa mental bangsa Indonesia masih bermental inlander[2], yaitu mental bangsa yang terjajah dan cenderung tidak percaya diri dan suka tergantung dengan bangsa lain, sehingga seolah-oleh kita akan sulit maju jika tanpa bantuan asing[3]. Akibatnya banyak kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah harus sesuai dengan harapan barat. Kalaupun kita berusaha untuk bergerak para pemegang kebijkan selalu takut akan embel-embel atau akibat yang akan terjadi apabila kebijakan tersebut tidak meguntungkan pihak asing.

Mental bangsa yang bobrok seharusnya tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena bisa jai Indonesia akan jadi tinggal nama, tentu sebagai anak bangsa kita tidak mengingikan hal itu terjadi. Sebenarnya kalau kita mau berkaca kepada para pendahulu-pendahulu kita, yang dengan gigih memeperjuangkan bangsa Indonesia untuk merdeka, mereka tidak kenal dengan rasa takut dengan musuh, pertanyaan kita apakah semangat itu saat ini sudah pudar, atau hilang sama sekali? Hanya kita yang dapat menjawab pertanyaan itu, itupun kalau kita masih bisa jujur terhadap diri sendiri.

“Jujur?” Ah!!!!! Emang gue pikirin

Kalimat itu tentu sering muncul dalam benak hati kita dalam kehidupan sehari-hari, da kalimat itu itupula yang membenamkan kata hati kita sehingga mata kita menjadi buta terhadap fatamorgana yang kerap kali menyilaukan kita. Pada saat kita sedang haus di padang pasir pandangan mata kita akan selalu ditampakan terhadap pemandangan air, yang sebenarnya itu tidak ada.

Seperti itulah kira-kira kondisi manusia saat ini. Hawa nafsu secara tidak langsung telah menguasai akal sehat. Sehingga mereka hanya akan terus memperturutkan hawa nafsu mereka sampai mereka ingat, kalau memang Allah menghendaki mereka ingat.

Sudah tidak asing bagi kita Demonstrasi yang dilakukan oleh para mahasiswa, yang mengambil isu, tentang politisi busuk.[4]. Tetapi marilah kita tengok bersama, bagaimana tingkah laku dari sebagian kawan-kawan kita dikampus, maupun mereka yang masih belajar dibangku sekolah, atau mungkin kita adalah salah satunya apakah sudah mempunyai sikap yang jujur? Atau bahkan dalam kehidupan mereka sudah di berlakukan nilai-nilai kejujuran dalam setiap sendi-sendi kehidupan sehari-hari? Tentunya hanya kita yang bisa menjawabnya.

Prilaku menyontek yang merebab dikalangan pelajar mahasiswa adalah salah satu potret masa depan kita dan Negara kita. Mereka terlalu terobsesi dengan nilai yang tinggi dengan segala macam usaha, terlepas usaha tersebut merugikan atau tidak, yang penting nilai tinggi dan lulus cepat. Bagaimana tidak mereka yang dianggap kalangan terpelajar dan intelektual tinggi dan akan menjadi agent of change (agen perubahan) untuk bangsa bisa berbuat seperti itu. Itu adalah sedikit gambaran, bilamana sebenarnya secara tidak sengaja kita telah terdidik untuk melakukan korupsi. Kalau kondisi yang terjadi masih seperti itu, maka mustahil bagi kita untuk memberantas korupsi. Walaupun sekarang ada KPK, kalau mental tidak segera diperbaiki maka akan sulit koupsi akan lenyap dimuka bumi ini Indonesia kita yang tercinta.

Memang sering dikorupsi oleh para pelajar saat ini bukan uang, akan tetapi kesemuannya itu tidak terlepas dari sikap kejujuran kita yang menunjukan akhlak kita yang sebenarnya, kegiatan apaun yang kita lakukan dengan tidak sesuai dengan prosedur dan cenderung merugikan, baik diri sendiri dan orang lain maka itu juga tindakan korupsi. Bilamana para pemuda dan pemudi kita, ketika masih dalam tahap belajar saja, kita tidak bisa mengendalikan diri, apalagi kalau kita kita sudah menjadi orang berkuasa nanti, semoga Allah tetap memberikan bimbingannya kepada kita.

Sikap yang baik dan jujur pada dasarnya telah di contohkan oleh junjungan kita Nabi Muhammad SAW, dan para sahabat-sahabatnya. Bagaimana nabi Muhammad di berikan gelar AL Amin oleh masyarakat pada saat itu, dikarenakan kejujurannya, sehingga setiap perkataan yang keluar dari mulutnya tentunya adalah sebuah kebenaran dan ditambah-tambahi, sehingga orang yang mendengarnya tidak akan khawatir jikalau sedang di bohongi. Sehingga pada masa pemmbangunan ka’bah beliau diberi kepercayaan masyarakat pada saat itu untuk meletakan Hajar Aswad keposisinya. Contoh-contoh lain bisa kita lihat dari pendahulu-pendahulu kita mulai dari Khulafau Rasyidin, sahabat, tabi’, tabi’-tabi’in. Permasalahannya sekarang adalah jarang sekali para kaum muda islam sekarang yang mau dan tertarik untuk mempelajarinya.

Sebagai umat islam sikap keujuran adalah sikap yang harus dan mutlak kita miliki. Karena dengan tidak jujur bisa jadi banyak sekali kerugian-kerugian maupun kerusakan yang dapar ditimbulkan karenannya dan Allah sangat membenci mereka yang telah berbuat curang[5]. Apapun profesi kita lakukanlah dengan senang hati dan ikhlas, karena dengan iklhlas. Karena dengan kita berbuat ikhlas dan tidak menyalahgunakan prosedur, maka dalam melakukan seiap hal, hati kita akan terasa ringan. Sebaliknya apabila kita melakukan setiap kegiatan dengan penuh maksud dan kepentingan pribadi dan golongan maka dalam setiap kegiatan apapun kita akan sulit untuk bisa tenang, karena kita akan selalu khawatir apabila, ada yang akan menghancurkan atau menghalangi kita. Kebimbangan demi kebimbangan akan selalu muncul apabila segala sesuatu tersebut tidak kita lakukan dengan dasar jujur dan ikhlas[6]. Wallahua’lam bishshawab

 


[1] Mahasiswa PLS FIP UNY, Mantan Kabid Dakwah IMM UNY, Mantan Kabid Kader KM3

[2] Dalam bukanya pak Amin Rais, SELAMATKAN INDONESIA, inlander secara harfiah adalah pribumi,. Istilah ini sering digunakan secara sinis-sarkastik untuk menunjukan anak bangsa yang penakut, dan merasa inferior di hadapan penjajah belanda.

[3] Lihat Amin Rais, ibid 139

[4] Secara umum yang dimaksud politisi basuk, adalah mereka anggota dewan, maupun poltisi lainnya, yang dalam hal ini sering menngunakan wewenang mereka diluar prosedur guna kepentingan pribadi mereka, dalam hal ini yang sering di sorot oleh kawan-kawan mahasiswa adalah prilaku KKN yang mereka lakukan

[5] Buka Al Qur’an surat Al Muthafiffin, ayat 1-10, Di dalam surat itu dijelaskan tentang orang-orang yang berbuat curang.

Riyadhus shalihin, dari ibnu mas’ud, , dari nabi Muhammadd SAW, beliau bersabda”sesungguhnya kebenaran itu membawa kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Seorang akan selalu bertindak  jujur sehingga sehingga ia di tulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu membawa kejahatan dan kejahatan itu membawa keneraka. Seorang akan selalu berdusta  sehingga ia ditulis disisi Allah sebagai pendudsta” (HR.Bukhari dan Muslim)

[6] Dari Abu Muhammad AL-Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra, ia berkata “Saya mengahafal beberapa kalimat dari rassulullah SAW, yaitu : “Tinggalkan apa yang kamu ragukan dan kerjakanlah apa yang tidak kamu ragukan. Sesungguhnya jujur itu menimbulkan ketenangan dan dusta itu menimbulkan kebimbangan.”(HR.Tirmidzi)

ARTI DAKWAH Juni 28, 2008

Posted by km3community in Uncategorized.
add a comment

M. AMIEN RAIS

Allah telah mengajarkan kepada Nabi Muhammad SAW agar menyeru umat manusia ke jalan-Nya:

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepadaAllah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” (Yusuf: 108).

Dalam menyeru umat manusia ke jalan Allah itu, Nabi beserta para pengikutnya bersandar pada keterangan-keterangan yang jelas (basyirah), dan sambil memuji kesucian Allah, Nabi menegaskan bahwa beliau bukan tergolong orang musyrik. Makna dakwah dalam ayat ini ialah ad-da’wah ila Allah (ad’u ila Allah), yaitu seruan, ajakan, panggilan dan imbauan kepada Allah, kembali kepada Allah. Allah juga menegaskan bahwa tidak ada perkataan yang lebih baik daripada menyeru kepada Allah dan melakukan amal saleh serta menyatakan diri sebagai orang Islam, orang yang berserah diri kepada Allah:

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (Fushilat:33)

Dalam ayat ini pun dakwah berarti da’wah ila Allah. Dianjurkan pula supaya seorang Muslim menyatakan identitasnya sebagai Muslim dengan jelas, agar tidak dijumbuhkan dengan seorang musyrik. Penegasan ini perlu, karena kaum politeis (musyrikun) juga berusaha mengembangkan “dakwah”-nya. Al-Quran juga secara imperatif menyuruh setiap Muslim untuk menyeru umat manusia ke jalan Tuhan dengan bijaksana, dengan nasihat yang baik dan argumentasi yang jitu.

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An-Nahl: 125)

Ayat ini menunjukkan kepada kita cara-cara yang baik untuk mengajak hambahamba Allah ke jalan-Nya, dan tidak ada sedikit pun konotasi bahwa da’wah ila Allah atau da’wah ila sabilillah dianjurkan lewat paksaan, apalagi kekerasan. Dari ayat ini kita mengetahui bahwa setiap Muslim pada hakikatnya berkewajiban untuk melakukan dakwah, supaya kebenaran agama yang telah ia terima dapat dinikmati orang lain. Kebenaran Islam bukan hanya bersifat teoritis, demikian menurut almarhum Ismail al- Faruqi, melainkan juga bersifat aksiologis dan praktis. Kebenaran inilah yang harus ditularkan seluas-luasnya kepada masyarakat manusia dengan sikap dan pandangan yang bijak, nasihat yang indah, dan argumentasi yang kukuh. Menurut Al-Qur’an, manusia diciptakan untuk menjadi khalifah Allah di muka bumi ini, atau makhluk Tuhan yang bertugas mengelola kehidupan dunia sesuai dengan kehendak-Nya. Manusia-Muslim mempunyai peranan yang dinamis dan kreatif untuk mengemban tugas kekhalifahan tersebut. Dibekali dengan agama, rasio, dan amanah (free will), manusia-Muslim diharapkan mampu memecahkan masalah-masalah yang ia hadapi dengan menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai paradigma, atau sebutlah terms of reference-nya.

Dalam tugas kekhalifahan itu, dakwah menjadi bagian paling esensial, karena pembangunan manusia dan masyarakat sebagaimana dikehendaki oleh Allah Sang Maha Pencipta hanya dapat terselenggara jika secara individual maupun kolektif, manusia dan masyarakat bersedia menyambut da’wah ila Allah dan menebarkan amal saleh (yang bermakna setiap usaha, kerja, dan tindakan yang bernilai kebajikan). Da’wah ila Allah selalu ditekankan, dan menjadi substansi pokok tugas seorang Muslim. Penegasan ini diperlukan, untuk membedakannya dengan da’wah ila an-nar atau ajakan masuk neraka, yang merupakan pekerjaan orang-orang musyrik

Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (Al-Baqarah: 221).

Dakwah yang berisikan amar ma’ruf dan nahi munkar yang digerakkan orang-orang Muslim

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (Ali Imran: 104),

Dalam kenyataannya memang berhadapan dengan dakwah amar munkar dan nahi ma’ruf yang dilakukan oleh orang-orang munafik.

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma`ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik. (At-Taubah: 67).

Gerakan dakwah yang berlawanan inilah yang pada hakikatnya menjadikan kehidupan dunia cukup menarik. Konfrontasi antara yang ma’ruf dan yang munkar, antara dakwah yang mengajak manusia agar menjadi “golongan kanan” (ashabul yamin) dan dakwah yang mendorong manusia supaya menjadi “golongan kiri” (ashabul syimal), antara calon-calon penghuni surga (ashabul jannah) dan calon-calon penghuni neraka (ashabul nar), memang membuat kehidupan umat manusia menjadi penuh perjuangan, pergulatan, dan pertentangan. Kegiatan dakwah dalam Islam sesungguhnya meliputi semua dimensi kehidupan manusia, karena amar ma’ruf dan nahi munkar juga meliputi segala bidang kehidupan. Tetapi jangan dilupakan bahwa para pendukung amar munkar dan nahi ma’ruf juga menggunakan segenap jalur kegiatan kehidupan. Secara demikian, kegiatan budaya, politik, ekonomi, sosial, dan lain-lain, dapat dijadikan kegiatan dakwah, baik dakwah Islamiah (da’wah ila Allah) maupun dakwah jahiliah, yakni dakwah yang menjadikan neraka sebagai muara akhir (da’wah ila an-nar). Dari pemahaman seperti ini mudah kita mengerti bahwa politik pada hakikatnya merupakan bagian dari dakwah. Adapun dakwah Islam (selanjutnya disebut “dakwah”) adalah setiap usaha rekonstruksi masyarakat yang masih mengandung unsur-unsur jahili agar menjadi masyarakat yang Islami. Oleh karena itu, dakwah juga berarti Islamisasi seluruh kehidupan manusia. Menurut Muhammad Naquib al-Attas, Islamisasi adalah proses pembebasan manusia, pertama-tama dari segenap tradisi yang bersifat magis, mitologis, animistis dan budaya nasional yang irasional. Kemudian berarti juga pembebasan manusia dari pengaruh sekular yang membelenggu pikiran dan perilakunya. Pakar Muslim dari Malaysia ini mengatakan—dan saya sepenuhnya setuju dengan perkataannya ini—”Manusia-Islam adalah manusia yang pikiran dan bahasanya tidak lagi dikendalikan oleh magi, mitologi, animisme, tradisi-tradisi kultural dan nasionalnya, dan juga sekularisme. Dia terbebas, baik dari dunia sekular maupun dunia magis.” (“The man of Islam is he whose reason and language are no longer controlled by magie, mythology, animism, his own national and cultural traditions and secularism. He is liberated from both the magical and the secular world”).

Sekularisme, seperti halnya animisme, magisisme dan mitologisme, adalah manifestasi jahiliah ditinjau dari pandangan Islam. Sebagai poros seluruh ajaran Islam, tauhid menggerakkan kegiatan dakwah untuk membebaskan manusia dari perangkap-perangkap nativisme yang mengajak orang kembali ke ajaran-ajaran nenek-moyang, walaupun ajaran-ajaran tersebut bersifat irasional, animistis, dan penuh dengan ilusi serta pelbagai jenis psikotropia. Di sisi lain, dakwah juga menyelamatkan manusia dari keangkuhan sekularisme yang cenderung menuhankan manusia, dan perlahan-lahan mencoba menggusur nilai-nilai agama dengan ‘nilai-nilai yang sepenuhnya humanistik. Sebagaimana kita ketahui, humanisme-sekular mempunyai kredo khusus (semacam “syahadat”), yaitu: “manusia adalah ukuran segala-galanya (man is the measure of all things). Dengan pemahaman dakwah seperti di atas, tampak semakin jelas bahwa dakwah memang berwatak progresif, bahkan revolusioner. Dakwah tidak akan dapat menerima status quo yang bertentangan dengan tuntunan wahyu atau ajaran-ajaran agama. Dakwah adalah gerakan simultan dalam berbagai bidang kehidupan untuk mengubah status quo, agar nilai-nilai Islam memperoleh kesempatan untuk tumbuh subur, demi kebahagiaan seluruh umat manusia. Perubahan itu sendiri dapat bersifat reformatif, bisa pula revolusioner, bergantung pada situasi sosial, politik, ekonomi, dan situasi mentalpsikologis suatu masyarakat. Untuk masyarakat Indonesia, perubahan reformatif jauh lebih relevan dan realistis serta lebih produktif, sehingga kegiatan dakwah di bidang apa pun harus dirancang sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia. Sebagai ruh dakwah, tauhid mendorong rekonstruksi sosial yang sesuai dengan ajaran-ajaran Allah. Dengan perkataan lain, dakwah yang bersendikan tauhid selalu berusaha memasyarakatkan Islam sebagai agama {ad-dien), sebagai pandangan-hidup dan paradigma pemecahan setiap masalah yang timbul dalam masyarakat modern, dengan segala macam manifestasi, percabangan, dan perinciannya. Ajakan tauhid ini ditujukan kepada seluruh umat manusia, agar mereka melakukan transformasi sosio-ekonomi dan sosio-politik menuju suatu orde yang Islami. Namun, ajakan tauhid bersifat sukarela. Jawaban terhadap ajakan tauhid, sepenuhnya bergantung pada manusia sendiri: apakah mereka mau beriman ataukah ingin kufur, sebagaimana difirmankan oleh Allah:

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datang dari Tuhanmu. Maka barang-siapa mau, bolehlah ia beriman, dan barangsiapa mau,boleh ia tidak percaya (kufur)” (Al-Kahfi: 29).

Sampai di sini mungkin timbul pertanyaan: mengapa da’wah ila Allah atau da’wah ila al-khair diwajibkan oleh Islam? Jawabannya adalah bahwa dakwah diperlukan karena manusia tidak pernah dapat mengandalkan nasibnya hanya pada akal dan nafsunya saja. Akal manusia bisa menyeleweng dari kebenaran dan bersifat serba-nisbi, sedangkan nafsu manusia cenderung destruktif. Manusia memerlukan wahyu ilahi, membutuhkan bimbingan Tuhan (divine guidance) dalam memecahkan masalah-masalah kehidupannya.

* * *

LISENSI DOKUMEN

Artikel ini dikutip dan diedit dari M. Amien Rais, Cakrawala Islam: Antara Cita dan Fakta, Bandung: Mizan, 1996, hal 24-27. Lisensi Al-Manär.

Cermin Diri Terhadap Al Kisah Nabi Ibrahim AS Juni 14, 2008

Posted by km3community in Uncategorized.
3 comments

Ibrahim Alaihissalam termasuk salah seorang nabi. Ketika dia masih muda dan tidak seorang pun di sekitarnya yang mengingatkan dia akan adanya Allah, dia telah memperhatikan langit. Dengan cara ini, dia mengetahui bahwa Allah telah menciptakan segalanya. Hal ini difirmankan dalam Al Qur’an sebagai berikut:

“ Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang, (lalu) dia berkata, Inilah Tuhanku. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata, Saya tidak suka yang tenggelam.”

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia pun berkata, Inilah Tuhanku. Tetapi setelah bulan itu terbenam. Ibrahim bertkata, Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit dia pun berkata, Inilah Tuhanku, ini lebih besar. Namun tatkala matahari itu telah terbenam, Ibrahim berkata, Hai kaumku, sesungguhnya aku melepaskan diriku dari apa yang kalian persekutukan!

“ Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS Al-An’am: 76-79)”.

Ibrahim AS berkata kepada umatnya agar tidak menyembah tuhan selain Allah: “ Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, Apakah yang kalian sembah? Mereka menjawab, Kami menyembah berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya. Berkata Ibrahim, Apakah berhala-berhala itu mendengar (doamu) sewaktu kalian berdoa kepadanya? Atau dapatkah mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat? Mereka menjawab, Bukan karena itu. Sebenarnya kami melihat nenek moyang kami berbuat demikian. Ibrahim berkata, Maka apakah kalian memperhatikan apa yang selalu disembah (oleh) kalian dan nenek moyang kalian dahulu itu? Sesungguhnya apa yang kalian sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta Alam, yaitu Tuhan yang telah menciptakan aku, maka Dia-lah yang menunjuki aku, Dan Tuhanku, Yang memberi makan dan minum kepadaku, Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, Dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), Dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.(QS Asy-Syuaraa: 69-82)”.

Musuh-musuh Ibrahim berusaha membunuhnya ketika Ibrahim menyeru mereka untuk beriman kepada Allah. Mereka membuat api unggun yang besar dan melemparkan Ibrahim ke dalamnya. Tetapi Allah melindungi Ibrahim dan menyelamatkannya dari api : Maka tidak ada jawaban kaum Ibrahim, selain mengatakan, Bunuhlah atau bakarlah dia. Lalu Allah menyelamatkannya dari api. Sesungguhnya pada kejadian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman. (QS Al-Ankabuut: 24)

” Kami berfirman, Hai api, dinginlah, dan selamatkanlah Ibrahim!(QS Al-Anbiya: 69)”.

Allah-lah Yang menciptakan dan mengendalikan segalanya. Dengan kehendak Allah, api tersebut tidak membakar Nabi Ibrahim. Ini adalah mukjizat dari Allah dan wujud dari kekuasaan-Nya. Segalanya di bumi ini terjadi atas kehendak Allah. Tidak ada yang bisa terjadi tanpa kehendak dan kendali Allah. Jika Dia tidak menghendakinya, tak seorang pun yang bisa menyakiti atau membunuh orang lain :

” Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati, melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.(QS Al-Imran: 145)”.

Ibrahim tidak mati, meskipun dia dilemparkan ke dalam api, karena saat kematiannya telah ditetapkan oleh Allah, dan belum tiba. Allah menyelamatkan Ibrahim dari api. Dalam satu ayat, Allah mengisahkan kepada kita bahwa Ibrahim adalah manusia dengan sifat terpuji:

” Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penuh kasih dan selalu kembali kepada Allah. (QS Hud:75).”

Allah mencintai manusia yang sepenuh hati menyembah-Nya. Tidak ingkar, memiliki sifat terpuji, dan tunduk kepada perintah-perintah Allah adalah sifat-sifat yang disukai menurut pandangan Allah.

By @n_

Allah bukanlah Tuhan Juni 10, 2008

Posted by km3community in Uncategorized.
add a comment

 Mari saya ajak kembali ke tahun 5000 sm, diperkirakan pada waktu itu terdapat ajaran penyembahan terhadap Tu dan Yang atau yang sering disebut agama kultur Tu dan agama Yang yang berpangkal di asia tengah dan mungkin dianut oleh beberapa suku mongoloid purba (nenek moyang bangsa Cina, Tibet dan Jepang). Ajaran ketuhanan asli bangsa itu adalah penguasa sekalian alam itu dinamakan Tu yang bersifat esa tidak berawal dan tidak berakhir. Ia maha besar jika dibandingkan dengan alam terbesar dan maha kecil jika dibandingkan dengan alam yang terkecil. Akan tetapi zat Tu itu memenuhi sekalian alam. Bila alam itu kembali seperti semula. Ajaran Tu ini menyebar hingga kebeberapa daerah di cina selatan. Lalu karena terdesak mereka terus menyebar kearah selatan dan memasuki kepulauan Indonesia dan Filipina. Menurut ajaran melayu purba Tu dinamakan pula Tuh dan jika diberi imbuhan –an menjadi Tuhan. Tuh dimakan pula Sangyang tunggal yang hidup bersekutu dalam alam tetapi bukan alam.

Kadang sering sekali kita menyebut Allah dengan tuhan. Allah itu bukan tuhan. Allah adalah Allah, tidak ada masalah dengan nama Allah tidak seperti agama Yahudi yang tidak jelas nama ilahnya. Tuh adalah sesembahan dan kepercayaan agama kuno di Asia Timur dan kemudian masuk ke Indonesia. Agama Tu dan Yang adalah termasuk agama kultur, bersifat panteisme dan syirik karena banyak mengandung kurofat dan   tahayul.

Kita sering mengunakan istilah-istilah yang   kadang kita tidak tahu arti dan maknanya, sehingga kita main sabet saja dan taklid buta. Betapa bahayanya taklid buta, apa lagi kalau sudah menyangkut masalah aqidah.

Kata tuhan adalah serapan dari ajaran dari agama kuno Tu dan Yang , jadi janganlah Allah kita diganti dengan tuhan. Dan janganlah sholat diganti dangan sembayang yang berarti menyembah kepada Yang.

wrote@by_je_est Neev

Referensi :

A.D. El Marzdedeq. Parasit-Parasit Aqidah .2008. Syaamil Cipta Media, Bandung.

 

TAUHID SOSIAL DALAM GERAKAN Al MAUN Juni 8, 2008

Posted by km3community in Uncategorized.
add a comment

Garis-garis peradaban manusia yang semakin berkembang akan selalu melahirkan sebuah hasil-hasil pemikiran yang semakin berfariasi. Fariasi pemikiran-pemikiran para pemikir bisa jadi sebuah hasil murni pemikiran mereka, bisa jadi merupakan pengembangan dari sebuah pemikiran yang sebelumnya pernah dilontarkan oleh para filsuf-filusuf yang pernah lahir pada abad-abad sebelumnya.

Pemikiran-pemikiran tersebut pada umumnya lahir dari sebuah realita masyarakat yang sering tidak sesuai dengan tatanan hidup yang unik dan tidak normal. Kondisi masyarakat yang memiliki taraf hidup yang berbeda, sering terjadi jurang pemisah antara mereka, yang merasa dirinya kaya sering enggan untuk bergaul dengan yang miskin, sebaliknya pula yang miskin, mereka merasa minder dengan kemiskinannya sehingga mereka sering mengelompok dengan kelompok yang mereka angga senasib.

Permasalahan demi permasalahan akan selalu datang, dan hampir sebagian besar permasalahan datangnya selalu di luar perhitugan dan perencanaan manusia. Oleh karena itulah manusia senagai makhluk tuhan yang paling mulia di berikan akal budi pekerti sehingga, manusia dapat berfikir bagaimana mengatasi sebuah permasalahan-permasalahan hidup, baik secara individu maupun sosial[1].

Masalah ketimpangan sosial seperti pada yang terjadi pada saat ini sudah bukan menjadi permasalahan yang baru, kondisi tersebut telah lama terjadi sejak zaman nabi-nabi terdahulu, yang mana banyak sekali kaum miskin yang secara tidak langsung tertindas oleh mereka yang memiliki harta berlebih. Problem kemiskinan hampir semua dialami oleh negera-negara di dunia, tidak terkecuali negara maju, akan tetapi standar kemiskinan antar negara satu dengan yang lainya tentu tidak sama. Dan hampir dipastikan deluruh penduduk di dunia tanpa terkecuali secara lahiriah tidak ingin terlahir dengan miskin.

Sebagai umat islam kita harus bisa introspeksi diri. Sebagai umat yang besar kita patut bertanya, apakah yang bisa kita berikan kepada saudara kita di pinggir jalan sana?apakah kita pantas memberikan bantuan dana kesana-kemari sementara saudara kita masih dalam keadaan lapar, tentu kita dapat merenungkan semuanya.

Dalam surat almaun surat 1-3 yang berbunyi:

 

            Artinya : Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?

 

            Artinya : itulah yang menhardik anak yatim,

 

            Artinya : dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.

Kalau kita cermati bersama dari ayat 1-3 surat almaun di atas di dalamnya terdapat salah satu jenis aplikasi tauhid sosial. Konsep tauhid yang intinya adalah meng-ESAkan alloh dalam konsep praktisnya adalah menjalankan semua perintah dan menjauhi larangan, dan salah satu perintah Alloh kepada manusia adalah kita memiliki sikap tenggang rasa dan kepedulian sosial sebagai aplikasi dari penerapan tauhid sosial.

Dalam kandungan ayat 2-3 terdapat salah satu bentuk sinple dari sikap kepedulian sosial dan tenggang rasa yaitu, larangan kepada siapa saja untuk tidak mengabaikan anak yatim dan orang miskin. Sebagai manusia yang telah di berikan nikmat yang cukup, tidak ada salahnya apabila dalam mensyukuri nikmat Alloh kita dapat menyisihkan senagian harta kita untuk membantu saudara-saudara kita yang kesusahan.

Sebagai umat islam memang kita diutamakan untuk memberi dari pada menerima. Dalam surat Al Insan ayat 8 yang berbunyi :

 Dan mereka memberikan makanan yang di sukainya kepada orang miskin, anak yatim yang di tawan.

Dalam surat tersebut dapat kita fahami bersama bahwa dalam memberikan bantuan jangan pilih-pilih. Selama ada orang yang membutuhkan bantuan kita entah itu mantan musuh kita, janganlah kita mengabaikannya dan menunggu disuruh dalam memberikan bantuan kepadanya, karena sekicil apapun bantuan kita apabila diniati dengan tulus ikhlas maka akan memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat bagi kita maupun pihak yang kita beri.

 

Bagaimana denga kita?

Kita sebagai cikal bakal generasi Qur’ani yang mengaku berdasarkan Al Qur’an dan sunah mulai sekarang harus memulai dari saat ini. Masih banyak saudara-saudara kita yang dalam kesusahan. Tidak usah kita harus melakukan sesuatu yang besar, akan tetapi sesuatu tersebut tidak di dasari dengan perasaan yang ikhlas karena Alloh.

Contoh tokoh yang sangat peduli dengan keadaan sosial adalah Kyiai Haji Ahmad Dahlan. Bagaimana sepak terjangnya dalam memberantas syirik yang menggelayuti keadaan umat islan saat itu. Selain kondisi tersebut penjajahan mental yang sudah terjadi berabad-abad, semakin memperparah kehidupan sosial masyarakat saat itu. Banyak pengangguran dan kemiskinan merajalela pada akhirnya dapat di tekan dengan sedemikian rupa, walaupun dengan menghadapi halangan yang cukup luar biasa dari orang yang tidak suka dengannya.

Sedikit-demi sedikit dengan gerakan Al Maun yang di dengungkan pada saat ini bisa kita lihat organisasi yang ia dirikan menjadi salah satu organisasi dan ormas yang disegani di Indonesia dan seluruh dunia.

Sebagai penutup izinkanlah kami menukil surat Al baqoroh ayat 14.

Artinya : Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

wrote by@Sigit wibowo[1]

[1] Mahasiswa PLS UNY, mantan Kabid Dakwah IMM UNY, mantan Kabid Kader KM3

[1] Pengantar ilmu pendidikan, MKU UNY

[2] Amin Rais, tauhid sosial

[3] Dari Djamaludin Al Afgani sampai Ahmad Dahlan, PP Muhammadiyah

BERITA ACARA PM3 Juni 8, 2008

Posted by km3community in Uncategorized.
1 comment so far

      Sabtu 7 Juni 2008 jam 4 sore kemarin, Kami berempat  Mas Idrus, selaku pendamping dan penasehat KM3, Sigit Wibowo (Ketua Umum KM3), Chanif Ichsan (Kabid LitBang), dan Imam  Mustofa (PSDK) mempresentasikan konsep Pelatihan Mubaligh Mubalighat Muhammadiyah kepada Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Yogyakarta yang diwakili oleh bapak Hidayat Nur menghasil beberapa kesepakatan dan keputusan, dari hasil pembicaraan kami dengan beliau, ternyata ada banyak perubahan konsep yang telah direncanakan sebelumnya. Perubahan ini disebabkan PWM sudah mengadakan Pelatihan Mubaligh bulan kemarin, oleh karena itu banyak konsep yang harus di rubah, konsep yang dulu adalah pelatihan ini bermaksud untuk mencetak para da’i-da’i Muhammadiyah yang rencana awalnya akan diselenggarakan pada hari Kamis – Ahad tanggal 26-27 Juni 2008 dan sasaran pelatihan ini  adalah ortom Muhammadiyah seluruh Yogyakarta berubah menjadi satu hari penuh dengan bersifat saresehan, (waktunya akan dibicarakan lebih lanjut).  Acara ini hanya untuk sekedar mengumpulkan para da’i-da’i muda Muhammadiyah yang sudah tersebar di beberapa daerah akan tetapi telah lama fakum, maksud diadakannya acara ini bisa dijadikan wadah penggugah dan membangkitkan kembali ghirah (semangat)  para dai-dai muda Muhammadiyah, untuk saling bertukar pengalaman antara peserta, untuk mengetahui kendala-kendala apa saja yang dihadapi sehingga kita sulit untuk melanjutkan dakwah ini juga untuk menegakkan syariah Islam dan demi kemajuan umat serta untuk beramal ma’ruf nahi mungkar. Sasaran dari acara saresehan ini adalah Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM), IMM, NA, IRM, HW, Alumni Mualimin Mualimat Muhammadiyah Yogyakarta (IKMAM), dan para dai khusus MTDK agar bisa kembali menggembirakan dan menegakkan dakwah Islam.

     Dengan perubahan konsep ini bukan berarti Pelatihan Mubaligh Mubalighat Muhammadiyah diganti ataupun dirubah akan tetapi sekedar ditangguhkan atau ditunda sampai ada kesepakatan dalam forum acara saresehan ini. Apakah perlu diadakan pelatihan lebih intensif lagi sehingga dakwah kita lebih baik lagi.

Untuk temen2 km3 yang tercinta tetep semangat dalam menjalankan roda dakwah ini. Dan hanya cintalah yang bisa menyatukan kita semua amin.

Globalisasi dan Tantangan Dakwah *) Juni 6, 2008

Posted by km3community in Uncategorized.
add a comment

      Pada era globalisasi ini kita menyaksikan terjadinya persaingan—kalau tidak dapat dikatakan pertarungan—yang tidak seimbang antara apa yang dikelompokkan sebagai Barat dan Timur, atau Utara dan Selatan. Dari segi ilmu pengetahuan, teknologi dan pandangan hidup, dunia dibagi menjadi Barat dan Timur. Barat untuk negara-negara yang maju ilmu pengetahuan dan teknologinya serta punya pandangan hidup rasional dan sekuler; Timur sebaliknya. Sedangkan dari segi ekonomi, dunia dibagi menjadi Utara dan Selatan. Utara untuk negara-negara yang maju ekonominya, sedangkan Selatan untuk negara-negara berkembang dan terbelakang. Letak geografis sama sekali tidak menjadi pertimbangan. Maroko yang terletak di Barat dimasukkan dalam kelompok Timur, sementara Jepang yang terletak di Timur dmasukkan dalam kelornpok Utara. Australia yang terletak di Selatan dimasukkan kelompok Utara. Seluruh negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI), termasuk Indonesia, masuk dalam kelompok negara-negara Timur dan Selatan. Dengan kemajuan teknologi komunikasi yang demikian hebat, masing masing anggota masyarakat dunia dapat bekerja sama, bersaing dan saling mempengaruhi dengan bebas. Sekat-sekat geografis dan jarak yang berjauhan tidak lagi menjadi hambatan. Dari segi ekonomi, setelah pasar bebas ASEAN (AFTA) kita juga menyaksikan pasar bebas Asia Pasifik (APEC) dan terakhir pasar bebas Dunia (WTO). Tetapi karena kekuatan modal, sumber daya manusia, manajemen, teknologi dan industri dikuasai oleh negaranegara Utara. Akibatnya persaingan yang terjadi persaingan yang tidak seimbang. Khusus Indonesia, jangankan untuk tingkat dunia, tingkat ASEAN pun kita kesulitan untuk memenangi persaingan. Begitu juga dari segi budaya—dan ini yang lebih berbahaya lagi—bermacammacam ideologi, paham dan gaya hidup akan saling mempengaruhi dengan cepat, mengubah dengan cepat pula tatanan masyarakat. Sekali lagi, walaupun secara teoritis semua anggota masyarakat dunia saling mempengaruhi, karena kekuatan yang tidak seimbang, yang akan menguasai dan memaksakan pandangannya adalah negara-negara Barat. Sebagai ilustrasi, kalau kita pergi ke Eropa atau Amerika, sudah dapat dipastikan kita tidak akan dapat menonton acara-acara televisi dari Indonesia. Tetapi sebaliknya jika kita buka stasiun TV Indonesia mana pun, dengan mudah akan kita dapatkan acara-acara produk Barat. Khusus untuk Indonesia, tidak hanya film-film Hollywood yang mudah kita tonton, bahkan film-film Bollywood dan Amerika Latin pun tidak pernah absen muncul di TV-TV kita! Sadar atau tidak, pengaruhnya sangat besar dalam pertarungan budaya. Pandangan dan gaya hidup yang bertentangan dcngan ajaran Islam akan mcmpengaruhi anak-anak kita, bahkan mungkin juga orang dewasa. Sebagai akibat dan pertarungan budaya yang tidak seimbang di atas, maka kita dapat menyaksikan tcrjadinya perubahan-perubahan alam pikiran yang cenderung pragmatis, materialis, dan hedonis, menumbuhkan budaya inderawi (kebudayaan duniawi yang sekuler) dalam kehidupan modern abad ke-20 yang disertai dengan gaya hidup modern memasuki era baru abad ke-21 atau abad kc-15 Hijriah sekarang ini. Penetrasi budaya dan multikulturalisme yang dibawa oleh globalisasi akan makin nyata dalam kehidupan bangsa. Mau tidak mau, suka tidak suka, setiap negara atau bangsa akan masuk dalam arus globalisasi. Yang tidak dapat berenang akan tenggalam dalam pusaran arus yang sangat deras tersebut. Apalagi negara-negara Barat atau Utara menghendaki globalisasi tentu saja bukan tanpa kepentingan nasional masing-masing, baik ekonomi, budaya maupun ideology atau paling kurang pandangan hidup. Dunia Islam yang semuanya tanpa kecuali masuk Timur atau Selatan tentu saja tidak akan mampu menahan laju globalisasi itu, apalagi menghentikannya. Karena itu, globalisasi sudah merupakan realitas sejarah yang tidak dapat ditolak. Globalisasi adalah konsekuensi logis dari kemajuan teknologi komunikasi. Globalisasi sendiri sebenarnya sejalan dengan ajaran Islam, ajaran atau agama yang diturunkan sebagai rahmat alam semesta. Jika globalisasi digunakan untuk menduniakan nilai-nilai moral islami, baik yang bersifat personal (personal morality) maupun yang public (public morality), maka kehidupan umat manusia di dunia dapat berjalan dengan tertib, aman, damai dan sejahtera. Ringkasnya, secara normatif globalisasi sebenarnya netral, tergantung siapa dan untuk apa digunakan. Dapatkah umat Islam memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan dakwah Islam? Mungkin banyak yang pesimis, apalagi melihat betapa tidak berdayanya umat Islam menghadapi tekanan negara-negara Barat atau Utara dalam berbagai aspek kehidupan. Invasi Amerika Serikat (AS) dan sekutunya ke Irak adalah bukti betapa tidak berdayanya umat Islam menghadapi kekuatan negara maju, utamanya AS sebagai satu-satunya super power sekarang ini setelah Uni Soviet runtuh. Pertanyaan yang relevan dan mendesak sekarang ini adalah bukan “dapatkah umat Islam memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan dakwah” tapi “dapatkah umat Islam bertahan menghadapi serangan globalisasi.” Apakah umat Islam akan tenggelam atau masih mampu menggapai-gapai untuk sekedar tidak tenggelam atau memperlambat kehancurannya? Umat Islam memiliki potensi yang apabila dikelola dengan baik dapat membantu setidaknya pertahanan diri, syukur-syukur mempengaruhi pandangan dan gaya hidup masyarakat dunia. Kita memiliki: (1) jumlah penduduk Muslim yang besar (1,2 Milyar

 

untuk dunia Islam, dan sekitar 200 juta untuk Indonesia); (2) sumber daya alam yang sangat menggiurkan negara-negara Barat; (3) pernah mengalami sejarah masa lalu yang gemilang (Indonesia bagian dari imperium Islam yang pernah menguasai sepertiga dunia); dan (4) ajaran Islam yang sejalan dan mendorong kemajuan dalam berbagai kehidupan serta memberi pegangan moral yang kuat. Masalahnya, jumlah penduduk dunia Islam baru besar dari segi kuantitas tapi lemah dari segi kualitas. Yang berpendidikan tinggi relatif masih kecil—Indonesia misalnya, masih di bawah 10 %. Lemahnya kualitas sumber daya manusia itu berakibat lemahnya penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam; belum lagi mental korup yang dimiliki para penguasa dan pengelola kekayaan alam. Selain itu berakibat tidak adanya persatuan umat Islam dunia dalam arti yang sebenarnya. Memang ada beberapa organisasi dunia Islam, baik yang bersifat resmi antarpemerintah (seperti OKI) ataupun yang swasta (seperti Rabithah ‘Alam Islami), tetapi belum efektif disebabkan berbagai kepentingan atau ego para pemimpinnya. Belum lagi pada dataran umat, banyaknya aliran teologi, mazhab

fikih, organisasi massa, dan partai politik terkadang bisa menyebabkan kekuatan umat menjadi tidak ada berarti. Umat Islam juga kerap tidak banyak belajar dari sejarah. Bukubuku sejarah Islam dipenuhi oleh kisah-kisah suksesi para penguasa, bukan kisah-kisah kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan. Padahal tidak jarang suksesi itu terjadi secara berdarah, yang oleh sebagian pengikut setia aliran atau kelompok tertentu luka lamanya itu dipelihara hingga sekarang bahkan diwariskan turun-temurun. Tentu saja penyebab semua masalah di atas adalah semakin jauhnya umat Islam dari ajaran Islam. Padahal ajaran Islam dalam sejarah sudah terbukti memberikan kekuatan yang luar biasa dengan kekomprehensifan, keseimbangan, menghidupkan dan berpandangan jauh kedepannya. Bangsa Arab sebagai contoh, tanpa Islam mereka hanyalah suku-suku nomaden yang sama sekali tidak diperhitungkan dunia. Tetapi dengan Islam mereka ke luar dari jazirah Arabia mengalahkan dua imperium raksasa waktu itu (Romawi dan Persia) hingga menguasai sepertiga dunia. Mari kita lihat sekarang, tatkala banyak negara Timur Tengah mengusung ideologi arabisme dan sosialisme atau sekulerisme dengan meninggalkan Islam, mereka menjadi bulan-bulanan Amerika dan sekutunya tanpa dapat berbuat apa-apa. Sejarah Turki juga dapat menjadi pelajaran bagi kita, bahwa tanpa Islam, Turki hanyalah sebuah negara berkembang yang banyak utang dengan laju inflasi yang sangat tinggi pula.

* * * *

Untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan di atas, dan mengatasi kelemahankelemahan yang dihadapi dalam rangka menghadapi tantangan globalisasi, salah satu alternatifnya adalah menguatkan dakwah Islam baik dari segi materi, pesan yang disampaikan maupun dari segi motode yang digunakan. Dakwah Islam tidak boleh hanya menyentuh kulit-kulit ajaran Islam semata, tetapi juga masuk ke inti dan esensi ajarannya. Karena ajaran Islam bersifat komprehensif, maka dakwah Islam pun haruslah bersifat komprehensif. Pemahaman dan penerapan Islam secara parsial menyebabkan kekuatan agama ini tidak kelihatan bahkan tidak efektif. Untuk ini, metode dakwah harus diperbarui agar sesuai dengan perkembangan zaman. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi harus dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Dakwah tidak hanya terbatas menggunakan media tradisional (mimbar) tapi juga menggunakan multimedia. Begitu juga jaringan dakwah harus diperkuat; kerja sama antar lembaga dakwah dunia harus ditingkatkan. Perbedaan-perbedaan aliran, mazhab atau pendekatan dakwah harus disikapi secara bijak. Lakukanlah kerja sama dalam hal-hal yang disepakati, bertoleransilah dalam hal-hal yang berbeda pendapat! Selain itu pendidikan tidak boleh diabaikan. Ini adalah aspek paling penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Umat Islam harus dapat memadukan dua sumber ilmu yang dua-duanya berasal dan Allah: ilmu-ilmu kewahyuan dan ilmu-ilmu kealaman. Khazanah Islam digali, kemajuan ilmu pengetahuan Barat dimanfaatkan. Sistem pendidikan diperbarui dan disempurnakan.

 

(lagi…)

KITA HARUS BERJUANG DEMI ISLAM Juni 3, 2008

Posted by km3community in Uncategorized.
1 comment so far

Saya hadir dalam acara Pelatihan Kristologi dan Pemikiran-Pemikiran Kontemporer di Kaliurang 2 – 4 Mei 2008, di Wisma Puas yang diselenggarakan oleh MTDK (Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Acara ini mengundang pembicara yang sudah kita kenal, DR. Adian Husaini, Abu Deedat Syihabudiin (Pakar Kristologi) dan beberapa bapak2 dari MTDK PP Muhammadiyah seperti Ust Yusron, Ustd Zaini Munir, Ustd Samsul Hidayat . Banyak pengalaman yang dapat diperoleh jika kita ikut dalam acara pelatihan ini. Dan saya dibuat tercengang oleh paparan bapak Abu Deedat mengenai gerakan kristenisasi di Indonesia yang sudah sangat meresakan umat Islam dan sudah mencapai stadium puncak.

Fakta gerakan kaum Kristen (misionaris):

  • Mendirikan sekolah-sekolah theologia serta lambaga yang berkedok ke Islam an
  • Merangkul tokoh-tokoh dan lembaga Islam dan melakukan infiltrasi
  • Memerangi kaum muslimin dengan label terosisme
  • Pemurtadan lewat pacarisasi, hamilisasi, kawinisasi, pemurtadan lewat sihir, hipnotis.
  • Menyebarkan ajaran dan budaya baru melalui pendekatan modernisasi
  • Pemurtadan lewat penerbitan buku-buku, brosur yang berkedok Islam
  • Melalui lembaga Bhakti Investama membuat jaringan media seperti pembelian saham kelompok media Bimantara
  • Melalui lembaga IMF mengusai ekonomi Indonesia.

Metode mutakhir permurtadan. Selingkuh Kristen dengan Islam Liberal

Strategi kristenisasi kini menggencarkan siasat baru. Selain mengerahkan para pastor dan pendeta, mereka juga merangkul para tokoh Islam liberal dan akitivis-aktivis kampus. Semboyan persamaan agama, menjadi nilai bersama.”Islam adalah agama palsu, Allah bukanlah Tuhan, Muhammad bukanlah nabi, Islam dikarang oleh orang-orang yang berniat dan berwatak buruk, serta didukung oleh kekuatan pedang, ”ujar sejarawan Inggris, Albertl Houroni. Seorang Crusader pada abad ke-13 menyatakan :” Islam diawali dengan pedang, dipertahankan dengan pedang dan dengan pedanglah akan diakhiri .”

Sedangkan cendikiawan prancis maxime rodinson menyatakan :’Umat Kristen di barat mempersepsikan dunia muslim sebagai bahaya, jauh sebelum Islam dilihat sebagai masalah nyata. ” (Fawaz A Gerges ; 2002:47) lanjut posted by Fakta 08 mart 04 – 10:00 am (3) comments – (113) views.

Kita tahu bahwa mereka sangat takut kalau Islam akan mendapatkan kembali masa kejayaannya dan akan mengusai dunia seperti pada abad pertengahan, sangking takutnya mereka melakukan segala macam cara keji untuk bisa menghambat perkembangan dunia Islam. Dan yang sudah terjadi di Indonesia seperti:

  • Strategi pemiskinan. Seperti bantuan IMF, lembaga pengkrediatan yang ada di Indonesia, CU (Credit Union).
  • Penguasaan sumber daya alam
  • Penguasaan alat-alat media Elektronik
  • Penguasaan aset-aset Ekonomi
  • Penguasaan aset-aset Informasi
  • Penguasaan system Politik dan Hukum
  • Penguasaan akhlak dan moralitas
  • Deislamisasi
  • Penghancuran militansi Islam (Issue Terorisme)

Allah berfirman di dalam QS. Al-Baqarah : 120

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.

Di dalam ayat tersebut Allah menegaskan bahwa orang-orang Yahudi dan Nashrani tiada henti-hentinya merancang makar dan konspirasi di antara mereka untuk meredam cahaya Islam. Di sadari atau tidak pada hari ini umat Islam telah dijadikan target utama mereka.

Allah berfirman di dalam Q.S Ali ‘Imran : 100

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.

Allah berfirman di dalam Q.S Al-Baqarah : 217.

Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.

Melihat point-point diatas kita harus sadar bahwa kita sedang diperangi. akankah kita tinggal diam melihat fakta-fakta yang terjadi dimasyarakat kita sekarang ini? Marilah kita semua sebagai umat Islam, satukan langkah untuk menghadang gerakan pemurtadan, marilah kita tingkatkan ukhuwah, perkuat aqidah dan laksanakan lima tugas sebagai seorang muslim; mengkaji, mengamalkan, mengajarkan, memperjuangkan dan membela Islam.

 

Wallahu a‘lam bishowaf

by. je_Neev