jump to navigation

Degradasi Moral dan Upaya Penanggulangannya Juni 24, 2009

Posted by km3community in Uncategorized.
add a comment

Oleh: Saiful Azhar Aziz

Persoalan moral bukan hal baru di negeri ini, sejak zaman dahulu Indonesia dikenal sebagai bangsa yang santun, saling membantu antara satu dengan yang lain tanpa mengenal pamrih, segala bentuk komunikasi masyarakat diselesaikan dengan cara kekeluargaan; budaya; politik; agama; ekonomi; di dalam UUD 1945 pun disebutkan pada BAB XIV tentang perekonomian nasional dan kesejahteraan sosial di dalam pasal 33 ayat (1) bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama atas asas kekeluargaan. Pada ayat (4) disebutkan bahwa perekonomian nasional diselenggarakan berdasar demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. Namun, apa yang terjadi?. Kita bisa melihat realitas bangsa ini sekarang justru mengalami kemunduran karakter, kemunduran nilai-nilai, kemunduran kepercayaan diri terhadap bangsanya sendiri. Indonesia adalah bangsa yang Besar dengan segenap kekuatan sumber daya alamnya yang melimpah ruah, dari sabang hingga merauke. Namun apa yang terjadi pula?. Justru kini bangsa ini menjadi babu di negerinya sendiri, hal inilah yang pernah dikatakan Soekarno. Pasal 34 UUD 1945 ayat (1) menyebutkan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara Negara. Masih banyak anak terlantar yang tidak diurusi oleh pemerintah kita, masih banyak fakir miskin yang tidak diurusi pemimpin kita, mereka justru dipelihara oleh lembaga-lembaga sosial asing, dibangunkan tempat tingal, disekolahkan dan lain sebagainya. Ayat (2) Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai martabat kemanusian. Memang sistem pemerintahan kita yang membentuk rakyat ini menjadi lemah dan tidak bermartabat, “bermartabatnya” rakyat adalah lemahnya rakyat, miskinnya rakyat, digusurnya rakyat, dibodohkannya rakyat. Itulah sesuai dengan martabat kemanusian versi negeri ini. Tapi tidak ada sistem yang mengatur bagi yang “tidak bermartabat” seperti pejabat kaya, pengusaha kaya, para miliader untuk membantu rakyat yang bermartabat tadi. Jelas sudah, jarak antara si kaya dan si miskin memang dibuat oleh sistem negeri ini. Mengapa itu bisa terjadi?. Mari kita melihat bagaimana sepak terjang Muhammad SAW ketika sebelum diutus menjadi seorang nabi dan rosul. Beliau adalah orang yang sangat disegani karena kejujurannya, amanah, sangat menghargai waktu, pekerja keras, dan tauladan yang baik dalam berperilaku dan bertutur kata. Jadi beliau tidak seperti itu setelah menjadi nabi dan rosul, justru sebelum menjadi penutup para nabi dan rosul, beliau telah memiliki kepribadian yang luar biasa. Mari kita mulai dari kejujuran, berapa banyak manusia di negeri ini yang memiliki kejujuran?. Berapa banyak manusia Indonesia yang ketika melihat ketidakadilan di negeri ini hatinya bergetar dan jiwanya bergerak untuk berbuat?. Tentu jawabannya tidak banyak hanya beberapa saja. Al-Amin begitulah Muhammad diberi gelar oleh bangsanya saat itu, tidak seperti Al-Amin Nasution yang mau menjual dirinya dengan korupsi, padahal jelas menurut Transparency International korupsi adalah perilaku pejabat publik, mau politikus, pegawai nergeri, yang secara tidak wajar dan illegal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengan dirinya, dengan cara menyalahgunakan kekuasaan public yang dipercayakan mereka. Korupsi berasal dari kata bahasa latin, corruption. Kata ini sendiri punya kata kerja corrumpere yang artinya busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik atau menyogok. Menurut hukum di Indonesia penjelasan gamblangnya ada dalam tiga belas pasal UU No. 31 Tahun 1999 dan UU No. 21 Tahun 2001. Banyak orang yang tidak jujur di negeri ini yang mengakibatkan mental bangsa ini menjadi lemah dan tidak percaya diri. Tidak jujur pada dirinya sendiri, tidak jujur pada waktu, tidak jujur dalam berekonomi;politik;agama dan lain sebagainya. Sesungguhnya banyak faktor yang menyebabkan degradasi moral bisa terjadi, yaitu: 1. Ketidakjujuran media Perkembangan media akan memberikan dampak positif dan negatif. Dampak akan muncul apabila ada reaksi dari stimulan yang ada, dalam hal ini yang menjadi stimulan adalah media masa, baik media cetak maupun elektronik. Sedangkan yang berada dalam posisi reaksi adalah masyarakat. Laju informasi yang cukup melimpah akan memberikan efek positif yaitu: masyarakat tidak akan mngalami kesulitan dalam mngikuti perkembangan laju informasi terkait dengan perkembanan zaman dan teknologi. Contohnya adalah adanya internet dan TV, sedikit banyak telah memberikan kontribusi informasi dan pengetahuan, sehingga dalam hal ini masyarakat menjadi lebih cerdas. Sedangkan ketidakjujuran itu menyebabkan dampak negatif, laju informasi yang cukup, kadang di salah gunakan oleh sebagian masyarakat untuk hal-hal yang negatif. Contohnya: fasilitas internet yang disalah gunakan dan tayangan TV yang sering menayangkan acara-acara yang kurang baik dikonsumsi oleh masyarakat. 2. Ketidakjujuran Pendidikan Pendidikan sesungguhnya merupakan pondasi awal yang dilewati setiap orang, dimulai dari pendidikan keluarga, lingkungan, pendidikan formal hingga perguruan tinggi. Acapkali pendidikan kita tidak jujur seperti ketika waktu kita kecil, seringkali orangtua kita menakuti kita dengan hal-hal ghaib supaya kita pulang sebelum malam hari, jadi anak akan cenderung takut terhadap hal-hal ghaib, hingga dewasa ia akan memutuskan suatu perkara mengikutsertakan hal-hal ghaib. Maka jangan salahkan banyak ponari-ponari baru muncul. Selain pendidikan kesehatan yang tidak tertanamkan sejak dini serta kebutuhan yang terlampau tinggi ditambah lagi sulitnya birokrasi maka masyarakat akan lebih memilih ponari yang mereka yakini jauh lebih murah ketimbang harus ke rumah sakit. Kemudian fenomena copy paste mahasiswa dalam setiap mengerjakan tugas-tugas kuliah, dan contek-menyontek dalam ujian, serta guru dan dosen yang mengajar tidak sesuai dengan disiplin ilmunya dan masih banyak lagi, apa yang perlu kita lakukan?. Pendidikan ketauladanan, seringkali kita terlalu banyak berbicara, mengajak kesana-kemari tapi kita sendiri tidak melakukannya. Sebagaimana dalam surat Ash-Shaff ayat (3) menyebutkan bahwa “amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” Sesungguhnya obat degradasi moral masyarakat kita dapat kita lihat bagaimana kehidupan Rosul kita Muhammad SAW yakni tanamkan pendidikan ketauladanan. Dampak dari pendidikan ketauladanan sangat kuat dan akan sangat berpangaruh pada lingkungan disekitar kita. Kemudian, pendidikan agama sejak dini. Dengan membekali anak gemar mengaji dan cinta terhadap Al-qur’an. Budaya Qur’ani yang perlu di bangun dari segala aspek, mulai dari persolan hamba dengan Sang Khalik; sholat lima waktu berjama’ah di masjid; sholat lail; sholat dhuha; bershodaqoh; puasa senin-kamis atau puasa daud; perbaiki pergaulan muda-mudi, kemudian ciptakan iklim ilmu pengetahuan dengan diskusi-diskusi, forum-forum ilmiah seperti para imam-imam terdahulu yang menguasai berbagai disiplin ilmu, mereka memulai dari mengafal dan mengkaji Al-Qur’an kemudian diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari, ilmu pengetahuan, bersosial-politik, antar umat beragama, berbangsa dan bernegara. Membutuhkan suatu formulasi untuk mengakomodir kegiatan tersebut, gerakan jama’ah dakwah jama’ah (GJDJ) bisa dijadikan program untuk membenahi moral bangsa. Maka peradaban islam akan bangkit kembali di negeri ini, Indonesia.

Berita Duka Mei 1, 2009

Posted by km3community in Uncategorized.
add a comment

Selamat Jalan Ust. Suprapto Ibnu Juraimi…. dan selamat Jalan Bpk Harwanto Dahlan… Semoga Amal dan Ibadahnya diterima Allah SWT… amiin…Semangat Dakwah tiada henti….

April 8, 2009

Posted by km3community in Uncategorized.
add a comment

… Dari seluruh muslim yang ada, hanya sedikit yang sadar, dari yang sadar itu, lebih sedikit lagi yang berdakwah, dari jumlah yang sedikit dalam berdakwah, lebih sedikit lagi yang berjuang. Dan dari yang sedikit berjuang, hanya sedikit yang bersabar. Begitu pula dari mereka yang sedikit dalam bersabar itu, lebih sedikit lagi yang sampai pada akhir perjalanan…

Nahkoda baru, nafas baru.. semangat baru.. kekuatan baru untuk membuktikan bahwa kita semua pasti bisa.. Mari teman-teman, semoga kita adalah manusia yang senantiasa istiqomah di jalan Nya. Mari Gemar Berdakwah! ^_^

Maret 17, 2009

Posted by km3community in Uncategorized.
add a comment

MENCERMATI  PROGRAM  PENYESATAN

Oleh  :  Drs. Abu Deedat  Syihab. MH

 

Beberapa  peringatan  Allah  kepada  kaum  Muslimin  agar  senantiasa  mencermati  dan  mewaspadai  gerakan  pemurtadan  terhadap  umat  baik  yang  datang  dari  dalam  maupun  dari  luar.  Tantangan  umat  Islam  ke  depan  bukan  makin  kecil  justru  makin  berat, dimana  musuh-musuh  Islam  melancarkan  misinya  dengan  menggunakan  berbagai  macam  cara  baik  halus  maupun  yang  kasar.

Marilah  kita  sama-sama  untuk  membentengi  umat  Islam,  agar  umat  kita  tidak  mengalami  distorsi aqidah

 

TANTANGAN  DAKWAH  ADA  2  ( DUA )   :   yaitu  tantangan  intern  dan  Extern.

 

  1.  
  • Allah  swt  berfirman  didalam  QS.  Al-Baqarah  : 120

“Orang-orang  Yahudi  dan  Nasrani  tidak  akan  senang kepada  kamu  sehingga  kamu   mengikuti  agama  mereka.  Katakanlah :  Sesungguhnya  Petunjuk  Allah

itulah  petunjuk ( yang  sebenarnya ).  Dan  sesungguhnya  jika  kamu  mengikuti  kemauan  mereka  setelah  pengetahuan  datang  kepadamu,  maka  Allah  tidak  lagi  menjadi  pelindung  dan  penolong  bagimu.”

 

Didalam  ayat  tersebut Allah  menegaskan  bahwa  orang-orang  Yahudi  dan  Nasrani  tiada henti-hentinya  merancang  makar  dan  konspirasi  diantara  mereka  untuk  memadamkan  cahaya  Islam.  Disadari  atau  tidak  pada  hari  ini kaum  muslimin  telah  dijadikan  target  utama  mereka.

 

  • Firman  Allah  swt didalam  QS. Ali Imran : 100.

 

“ Hai  orang-orang  yang  beriman, jika kamu  mengikuti  sebahagian  dari  orang-orang  yang  diberi  alkitab, niscaya  mereka  akan  mengembalikan  kamu  menjadi  orang  kafir  sesudah  kamu  beriman. “

  • Firman  Allah swt  didalam  QS. Al-Baqarah :  217.

“Mereka tidak  henti-hentinya  memerangi  kamu  sampai  mereka ( dapat )  mengembalikan  kamu  dari  agamamu ( kepada kekafiran),  seandainya  mereka  sanggup”.

 

  • Methode  musuh-musuh  Islam  didalam  melumpuhkan  umat  Islam ada  menggunakan 2( dua )  cara  : 
  1. Penindasan  Fisik; Penjajahan,  penindasan  dan  pembantaian  berkedok  pembersihan  etnis. 
  2. Perancuan  syariat  Islam,  ghozwul  fikri ( gempuran  Pemikiran ), mengkondisikan  agar  umat ini  ragu  terhadap kebenaran dan keadilan  Islam.  Ini  merupakan  target  utama  mereka. 
  • A.  Program  sesat  Penyatuan  Agama.

Untuk  menyesatkan  umat muncul  upaya baru  dengan  menyebarkan  teori  penyatuan  agama,  bahwa  agama  Yahudi,  Kristen  dan  Islam, kedudukannya  sama ;  seperti  kedudukan  empat  mazhab yang  dikenal  kaum  muslimin.  Bahkan  membolehkan  memeluk  agama  Yahudi  dan  kristen  karena  sama-sama  millah  Ibrahim.

Kini  merebak  upaya  persatuan  tiga  agama  yaitu  Yahudi, kristen  dan  Islam yaitu  harus  kembali  kepada  agama  Ibrahimiyah. Dengan  slogan “ membangun  dunia  baru”,  dengan  penyatuan  agama,  persaudaraan  antar  agama, persatuan  kaum  beriman  dan  melepaskan  fanatik  agama”  dengan cara  tidak  boleh mengatakan  agama  kita  yang  benar  diluar  Islam  salah.

 

Dan  sekarang  sangat  terlihat  bagaimana  sebagian  tokoh-tokoh muslim, dalam  acara  natal  bersama,  do’a  bersama , ruwatan  bersama;  yang  justru  perbuatan ini  merupakan syirik  yang  bertentangan  dengan  akidah  Islam. Lihat  QS. Al-Baqarah :42

 

“ Dan  janganlah kamu  campuradukan  yang  hak  dengan  yang  batil  dan  janganlah  kamu  sembunyikan  yang  hak  itu ,  sedang  kamu  mengetahui  “.

 

Beberapa  tokoh  kita  yang  mendukung  program  ini  dipelopori  oleh  kelompok  paramadina  pimpinan  Cak  Nur  ( Nurcholis  Madjid cs  ) , Dr. Alwi  Shihab, dan Prof.Dr. KH. Said  Aqiel  Siradj, MA,  dll.

 

·        KH. Said Aqil  Siradj 

 

*   Didalam  buku   Menuju Dialog Teologis  Kristen  -  Islam “  karangan  Bambang  Noorsena ,  Pendiri  Kristen  Ortodhok  Syiria  di Indonesia,  Penerbit  Yayasana  ANDI ( Anak  Didik  Imanuel ),  pada   hal   164 – 165  mengatakan  sebagai  berikut  :

 

“ Agama  yang  membawa  misi  tauhid  adalah  Yahudi ,  Kristen  dan  Islam.  Ketiga  agama  tersebut  datang  dari  Tuhan  melalui  seorang  Rasul dan Nabi  pilihan.  Agama Yahudi  diturunkan  melalui  Musa, Nasrani  diturunkan  melalui  Isa ( Yesus )  dan  Islam  melalui  Muhammad. “

Ketiga  agama tersebut  mengakui  Ibrahim  sebagai  “ The foundation  Father’s” bagi  agama  tauhkid.    Singkatnya,  ketiga agama  tersebut  sama-sama  memiliki  komitmen untuk  menegakkan  kalimah  Tauhid.  “ (  Hal  164 ).

 

“Tauhid Kanisah Ortodoks Syria tidak memiliki perbedaan yang berarti dengan Islam. Secara al-rububiyyah, Kristen Ortodoks Syria jelas mengakui bahwa Allah adalah Tuhan sekalian alam yang harus disembah. Secara al-uluhiyyah ia juga telah mengikrarkan Laa ilaha ilallah:” Tiada tuhan selain ( Ilah) selain Allah”. Sebagai ungkapan ketauhidannya.

Dari  tauhid  sifat dan  asma Allah  secara  substansia  tidak  jauh  berbeda. Hanya  ada  perbedaan  sedikit  tentang  sifat  dan  asma  Allah tersebut.  Jika  dalam  Islam ( sunni )  kalam  Tuhan yang  Qodim  itu  turun  kepada  manusia  ( melalui  Muhammad )  dalam  bentuk Al- Qur’an,  maka  kristen  Ortodoks Syiria  berpandangan  bahwa  kalam  Tuhan  turun  menjelma  ( tajassud )  dengan  Ruh al-Quddus  dan  Perawan  Maryam  menjadi  Manusia ( Yesus ).  Perbedaan  ini tentu saja  sangat  wajar  sekali  dalam  dunia  teologi,  termasuk  dalam  teologi  Islam “. ( hal.165 ).

 

Pandangan  ini  sangat  keliru  dimana  kristen  Ortodok  Syiria  mempunyai  keyakinan  satu-satunya  Tuhan ( Rabb ),  yaitu  Isa  alMasih  putra  Allah  yang  tunggal.( lihat  Kanun  Al-Iman = Syahadat  kristen Ortodoks,  hal 168 buku “ Menuju  Dialog  Teologis  Kristen -  Islam  “ karangan  Bambang  Noorsena.

 

*  Didalam  majalah  Pensyil  (  Pendidikan  Syiar  Injil  ), Edisi  39 / 2000 – halaman  42   dengan tema    Kerjasama  Antar  Umat  Beriman “  menulis  sbb  :

 

  Orang-orang beriman ( mukmin ), Yahudi,  shabi’in ( penyembah  berhala ), Nasrani (  kristiani ),  siapa  saja  diantara mereka  yang  benar-benar  beriman  kepada  Allah ( Tuhan ),  hari  kemudian,  dan  beramal  shaleh,  maka  tidak  akan  ada  kekhawatiran  taerhadap  mereka  dan  tidak ( pula ) mereka  bersedih  hati “  (pen. Bahwa  Yahudi  dan  Kristen  akan  masuk  sorga ). “

 

“ Karena itulah , diskursus  keimanan  menjadi  tema  sentral  bagi  semua  umat  beragama.  Agama  manapun  dimuka  bumi  ini  pasti  meyakini  adanya Zat yang  menciptakan   alam  semesta  beserta  isinya, termasuk  manusia.  Perbedaan  penyebutan nama  Tuhan  :  Allah ,  Sang  Hyang  Widi, Dewa,  Thian, ataupun  lainnya  bukanlah  menjadi penghalang  bagi  keimanan  seseorang.  Substansi  Tuhan,  sungguhpun  disebut

dengan  beribu-ribu  nama, hakikat  adalah  satu, yaitu  Zat  Pencipta  alam  semesta  serta isinya  dan  yang  mengatur  roda  kehidupan  segala makhluk  didunia hingga akhirat. Umat  beriman  bukanlah  monopoli  segolongan  komunitas  umat beeragama  tertentu saja. “

Hakekat dan Misi Islam Januari 14, 2009

Posted by km3community in Uncategorized.
2 comments

HAKEKAT DAN MISI ISLAM
Oleh: Drs. H. M. Muqaddas, Lc, MA

A. Pengertian Tentang Hakekat Islam:
1. Agama adalah apa yang disyari’atkan Allah dengan perantara Nabi-nabi-Nya berupa perntah-perintah dan larangan-larangan serta petunjuk-petunjuk untuk kebaikan manusia didunia dan akherat (HPT hal 276).
2. Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad ialah apa yang diturunkan Allah di dalam Qur’an yang disebut dalam sunnah shahih, berupa perintah-perintah dan larangan-larangan serta kebaikan-kebaikan manusia di dunia dan akherat (HPT 276).
3. Secara umum Islam adalah agama Allah (dinullah) yang diwahyukan kepada Rosul-Nya sejak nabi Adam AS sampai kepada nabi Muhammad Saw (3:19, 83-85, 2:132) secara khusus Islam adalah nama diri dari agama yang dibawa nabi Muhammad SAW yang merupakan mata rantai terkahir dari rantai dinullah. Atau dengan kata lain Islam secara khusus adalah dinullah yang telah disempurnakan dan dinyatakan sebagai agama yang diridhoi-Nya untuk seluruh ummat manusia sampai akhir zaman nanti (5:3).
4. Beberapa Ciri Khusus Agama Islam (Khashaisul Islam)
a. Agama Allah bersumber dari Allah SWT baik berupa wahyu langsung (Al-Qur’an) maupun tidak langsung (sunah Nabawiyah) (39:2, 32:2)
b. Mencakup seluruh aspek kehidupan (asy syumul)
c. Berlaku untuk seluruh ummat manusia sampai akhir zaman (al-umum) (ushulud Dakwah (43:65)
d. Sesuai dengan fitrah manusia (30:30)
e. Menempatkan akal manusia pada tempat yang sebaik-baiknya (7:179, 31:20) (pendidikan Agama Islam 1: Aqidah hal 9)
f. Menjadi rahmat alam semesta (21:107)
g. Berorientasi ke masa depan (akherat) tanpa melupakan masa kini (dunia) (28:77)
h. Menjajanjikan al-jaza’ (surga bagi yang beriman dan neraka bagi yang kufur) (98:6-8)

B. Memandang Islam Secara Menyeluruh:
1. Seorang muslim harus memahami Islam secara utuh dan menyuluruh, tidak secara parsial (juz 1) karena pemahaman yang parsial menyebabkan Islam tidak fungsional secara kaffah dalam kehidupannya.
2. Islam adalah suatu sistem yang menyeluruh (Nizham syamil) mencakup seluruh aspek kehidupan; rohaniah dan jasmaniah, diniawiyah dan ukhrowiyah.
3. Secara garis besar ajaran Islam mencakup aspek:
a. Aqidah: aspek keyakinan tentang Allah, para malaikat, kitab-kitab suci, para rosul, hari Akhir dan Takdir.
b. Ibadah: segala cara dan upacara pengabdian yang bersifat ritual yang telah diperintahkan dan diatur cara-cara pelaksanaanya dalam alqur’an dan sunnah rosul seperti sholat, puasa, zakat, haji, dlsb.
c. Akhlaq: Nilai dan perilaku baik dan buruk seperti sabar, syukur, tawakkal, birrul walidain, syaja’ah dsb (akhlak al-mahmudah) dan sombong, dengki, takabbur, riya’, uququl walidain, dlsb (akhlaq Al mazmumah).
d. Mu’amalah: aspek kemasyarakatan yang mengatur pergaulan hidup manusia diatas bumi baik tentang harta benda, perjanjian-perjanjian, ketatanegaraan, hubungan antar negara dan lain sebagainya.
C. Mengamalkan Islam secra Menyeluruh
1. Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk masuk Islam secara kaffah (2:208)
2. Dari segi waktu seseorang harus menjadi muslim 24 jam sehari semalam. Dengan arti kata dia harus mengislamkan seluruh kehidupan sampai akhir hayat (3-102)
3. Dari segi ruang lingkup dia harus mengislamakan seluruh aspek kehidupannya seperti aspek ekonomi, politik, budaya, seni, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya.
5. Atau dengan bahasa lain seseorang harus menjadi muslim dalam akidah, ibadah, akhlaq dan mua’malah
                                                                                                                                                 (Disampaikan saat PNM3 di Kaliurang)

Khazanah Islam Januari 14, 2009

Posted by km3community in Uncategorized.
add a comment

Ibnu Tulun
Sang Pembuat 100 Kapal Perang

Ahmad Ibu Tulun adalah seorang Gubernur Mesir pada masa Dinasti Abbasiyah. Ia adalah anak dari seorang budak berkebangsaan Turki bernama Tulun, yang dalam bahasa Turki berarti kemunculan yang sempurna.
Ahmad Ibnu Tulun dilahirkan di Baghdad saat bulan Ramadhan 220 H/September 835 M. Tak lama setelah kelahirannya, sang ayah meninggal dunia. Sang ibu kemudian dipersunting Bagha al-Ashghar, salah satu panglima militer Dinasti Abbasiyah yang berasal dari daerah Turki. Tak lama, Bagha al-Ashghar juga meninggal dunia.
Ibu Ahmad Tulun menikah untuk ketiga kalinya dengan seorang pembesar militer bernama Bakbak (bayik Bey) yang menggantikan posisi mantan suami keduanya. Ibnu Tulun tumbuh besar dalam tradisi Turki dan didikan militer ayah tirinya. Sejak itu, ia aktif dalam dunia militer.
Beranjak dewasa, Ibnu Tulun menikahi anak perempuan dari panglima militer lain Yarjukh, teman ayah tirinya. Ia ditunjuk sebagai Gubernur Mesir di bawah kekuasaan Khalifah Al-Mu’tamad Billah-penguasa Dinasti Abbasiyah.
Para sejarawan menjelaskan, Ibnu Tulun adalah orang yang kuat dan keras. Ia memerintah dan membuat suatu pertumbuhan dan stabilitas. Perawakannya tinggi dan tampan. Pada awal menjadi gubernur, ia menangani konflik dengan Ahmad Ibnu al-Mudabbir-pengumpul pajak resmi Dinasti Abbasiyah.
Konon, Ibnu Al Mudabbir lebih senang melaporkan hasil pajak kepada khalifah di Baghdad dibandingkan dengan Ahmad Ibnu Tulun. Merasa tidak dihormati, Ibnu Tulun mengambil tindakan. Akhirnya, ia berhasil menundukkan ibn Al-Mudabbir. Setelah itu, pamornya langsung naik.
Ibnu Tulun mempunyai kekuasaan yang begitu luas meliputi wilayah Mesir hingga Alexandria. Pada masa kejayaanya, Ibnu Tulun berhasil memerintahkan pembuatan 100 kapal perang dan ratusan kapal kecil. Inilah salah satu pencapaian terbesar Ibnu Tulun. Ia mampu mengasai lautan. Tak heran jika kekuasaannya semakin kuat.
Sampai-sampai, Ibnu Tulun tak lagi menyebut dirinya sebagai gubernur, melainkan sebagai pemegang kebijakan independen yang tak lagi memiliki kaitan hierarkis dengan Dinasti Abbasiyah. Ia membangun dinasti sendiri-Dinasti Tuluniyah-di Mesir yang lepas dari pengaruh Dinasti Abbasiyah.
Ia menunjukkan kekuasaan yang dikendalikannya itu dengan memasang gambar wajahnya di mata uang, mengangkat pembantu (menteri), kepolisian, bea dan cukai, istana, perdagangan, dinas dan intelejen.
                                                                                                                                                          (Saiful Azhar Aziz: Dari berbagai Sumber)

Kuliah Akhlaq Januari 12, 2009

Posted by km3community in Uncategorized.
1 comment so far

A K H L A Q
Oleh : H. M. Muchlas Abror

A. PENGERTIAN AKHLAQ
Kata akhlaq, berasal dari bahasa Arab, adalah bentuk jamak dari khuluq, menurut bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat.
Pengertian akhlaq secara istilah, menurut Imam Ghazali adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
Dari pengertian tersebut, kta dapat menyimpulkan bahwa akhlaq haruslah besifat konstan, spontan, tidak temporer, dan tidak memerlukan pemikiran dan pertimbangan serta dorongan dari luar.
B. KEDUDUKAN AKHLAQ
1. Kedudukan Akhlaq Dalam Agama Islam
Kedudukan akhlaq dalam Agama Islam adalah amat penting dan istimewa. Penting dan istimewanya akhlaq dalam Agama Islam dapat dibuktikan antara lain bahwa Agama Islam sering disebut sebagai risalah akhlaq karena keterutusan Nabi Muhammad saw untuk menyempurnakan akhlaq umat manusia; akhlaq merupakan salah satu ajaran pokok Agama Islam; baik buruknya akhlaq menjadi ukuran kualitas iman seorang; dan akhlaq yang baik akan memberatkan timbangan kebaikan seseorang di akhirat.
Akhlaqiyah merasuk ke dalam semua eksistensi Islam dan dalam semua ajarannya, sampai kepada aqidah, ibadah, dan mu’amalah. Ini merupakan bukti lain dari penting dan istimewanya akhlaq.
Kedudukan akhlaq dalam Agama Islam kalau kita renungkan adalah identik dengan pelaksanaan Agama Islam dalam segala bidang kehidupan. Berakhlaq Islam berarti kita melaksanakan ajaran Agama Islam, menjalani shirathal mustaqim, jalan yang lurus yang terdiri dari Iman, Islam, dan Ihsan. Dengan kata lain, akhlaq mulia dalam Agama Islam adalah melaskanakan kewajiban-kewajiban, menjauhi segala larangan, memberikan hak kepada yang mempunyainya, baik yang berhubungan dengan Allah maupun yang berhubungan dengan makhluq, dirinya sendiri, orang lain, dan lingkungannya, dengan sebaik-baiknya seakan-akan melihat Allah dan apabila tidak melihat-Nya, harus yakin bahwa Dia selalu melihat hamba-Nya, sehingga perbuatan itu benar-benar dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Dan kesemuanya itu dilandasi dengan iman dan taqarrub kepada-Nya.
2. Kedudukan Akhlaq Dalam Kehidupan Manusia
Kedudukan akhlaq dalam kehidupan manusia menempati tempat yasng penting sekali, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat dan bangsa. Sebab jatuh bangunnya, jaya hancurnya, sejahtera rusaknya suatu bangsa, masyarakat, dan pribadi seseorang tergantung kepada bagaimana akhlaqnya. Apabila akhlaqnya baik, akan jaya dan sejahteralah lahir batinnya. Tetapi apabila akhlaqnya buruk, hancur dan rusaklah lahir dan atau batinnya. Kejayaan seseorang, masyarakat, dan bangsa disebabkan akhlaqnya yang baik. Demikian pula sebaliknya, kejatuhan nasib seseorang, masyarakat, dan bangsa adalah karena kehilangan akhlaq baiknya.
Benarlah apa yang dikatakan oleh Syauqi Bek, seorang penyair terkenal dari Mesir, yang menyatakan dalam salah satu syairnya, “Innamal ummamul akhlaaqu maa baqiyat, fain humu dzahabat akhlaaquhum dzahabuu” – “Sessungguhnya bangsa itu jaya selama mereka masih mempunyai akhlaq yang mulia .Tapi apabila akhlaq baiknya telah hilang, maka hancurlah bangsa itu”.
Kajayaan, kemuliaan umat manusia di muka bumi, tidak kita ragukan, adalah karena mereka berakhlaq. Sebaliknya, kerusakan yang timbuil di muka bumi ini adalah disebabkan perbuatan mereka sendiri (QS Ar-Rum [30] : 41). Pribadi, masyarakat, bangsa, dan umat yang ingin bangkit kembali dari keterpurukan dan beroleh kejayaan setelah kehancuran adalah mutlak tak dapat ditawar dan ditunda harus segera melakukan perubahan (QS Ar-Ra’du [13] : 11).
C. KARAKTERISTIK AKHLAQ ISLAM
Akhlaq Islam memiliki beberapa karakteristik atau ciri khas di antaranya sebagai berikut :
1. Akhlaq Rabbani. Ajaran akhlaq dalam Islam bersumber dari wahyu Ilahi yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul itu mengandung ajaran akhlaq yang harus dijadikan pedoman dan diamalkan oleh umat Islam. Sifat rabbani dari akhlaq Islam juga bertujuan untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Di samping itu ciri rabbani memberi penegasan bahwa akhlaq dalam Islam bukanlah moral yang kondisional dan situasional, tapi akhlaq yang benar-benar memiliki nilai yang mutlak sepanjang zaman.
2. Akhlaq Manusiawi. Ajaran akhlaq dalam Islam sejalan dan memenuhi tuntutan fithrah manusia. Kerinduan jiwa manusia kepada kebaikan akan terpenuhi dengan mengikuti ajaran akhlaq dalam Islam. Akhlaq Islam adalah akhlaq yang benar-benar memelihara eksistensi manusia sebagai makhluq terhormat, sesusai dengan fithrahnya.
3. Akhlaq Universal. Ajaran akhlaq dalam Islam sesuai dengan kemanusiaan yang universal dan mencakup segala aspek hidup manusia, baik yang dimensinya vertikal maupun horisontal. Contoh, Al-Qur’an menyebutkan ada 10 macam keburukan yang harus dijauhi oleh setiap orang (QS Al-An’am [6] : 151 – 152).
4. Akhlaq Keseimbangan (Tawazun). Ajaran akhlaq dalam Islam berada di tengah antara yang mengkhayalkan manusia sebagai malaikat yang menitikberatkan segi kebaikannya dan yang mengkhayalkan manusia seperti hewan yang menitikberatkan sifat keburukannya saja. Manusia menurut Islam memiliki dua kekuatan dalam dirinya, kekuatan baik pada hati nurani dan akalnya serta kekuatan buruk pada hawa nafsunya. Manusia memiliki naluriah hewani dan juga ruhaniah malaikat. Manusia memiliki unsur ruhani dan jasmani yang memerlukan pelayanan masing-nmasing secara seimbang. Manusia tidak hanya hidup di dunia kini, tapi dilanjutkan dengan kehidupan di akhirat nanti. Manusia dalam memenuhi kebutuhan pribadi harus seimbang dengan memenuhi kewajiban terhadap masyarakat.
5. Akhlaq Realistik. Ajaran akhlaq dalam Islam memperhatikan kenyataan hidup manusia. Meskipun manusia adalah makhluq yang memiliki kelebihan dibandingkan makhluq-makhluq lain, tapi tetap memiliki kelemahan. Dengan kelemahannya manusia sangat mungkin melakukan kesalahan dan pelanggaran. Karena itu, Islam memberi kesempatan kepada manusia yang melakukan kesalahan untuk memperbaiki diri dengan bertaubat. Bahkan dalam keadaan terpaksa, Islam membolehkan manusia melakukan sesuatu yang dalam keadaan biasa tidak dibenarkan (QS Al-Baqarah [2] : 173).
6. Akhlaq Komprehensif (Cakupan Menyeluruh). Karakteristik akhlaq Islam lainnya adalah bahwa ia merupakan sebuah akhlaq yang komprehensif (menyeluruh). Akhlaq yang berhubungan secara vertikal dengan Allah maupun horisontal dengan manusia dan makhluq lainnya.
D. AKHLAQ DAN RUANG LINGKUPNYA
1. Akhlaq Mulia lagi Terpuji dan Akhlaq Tercela
Berbicara tentang akhlaq, menurut Islam, akhlaq dibagi atau ada dua macam, yaitu :
a. Akhlaq mulia lagi terpuji atau al-akhlaaqul kariimah dan mahmuudah, misal, sabar, jujur, dan amanah
b. Akhlaq tercela atau al-akhlaaqul madzmuumah, misal, dusta, inkar, janji, dan khianat
Kita, sebagai umat Islam, mesti berakhlaq mulia lagi terpuji di mana pun dan kapan pun. Sebaliknya, kita harus menghindarkan dan menjauhkan diri dari akhlaq tercela. Bahkan harus berani meninggalkannya dengan kesadaran dan ketulusan. Sebab apa pun yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, jika kita taati akan mendatangkan kebaikan dan kemanfaatan. Sedangkan jika larangan Allah dan Rasul-Nya dilanggar pasti berakibat buruk dan merugikan hidup dan kehidupan kita.
2. Ruang Lingkup Akhlaq
Ruang lingkup akhlaq dalam Islam sangat luas, mencakup seluruh aspek kehidupan, baik secara vertikal dengan Allah maupun secara horisontasl dengan sesama makhluq-Nya.
Akhlaq Islam dapat disusun sistematikanya sebagai berikut :
a. Akhlaq manusia terhadap Allah
b. Akhlaq manusia terhadap makhluq :
1) Makhluq sesama manusia : a) Rasulullah Muhammad saw; b) diri pribadi; c. keluarga/rumahtangga; d) tetangga; e). dan masyarakat
2) Makhluq bukan manusia : a) alam nabati (flora); b) alam hayawanaati (fauna); c). alam lainnya.
Diharapkan saudara-saudara hendaklah dapat mempelajari dan mendalami lebih lanjut tentang akhlaq Islam tersebut. Apa yang telah saya sampaikan tersebut adalah untuk memberi dorongan agar saudara-saaudara terpanggil untuk mempelajari, me4ndalami, memahami, dan mengamalkan akhlaq Islam yang menyeluruh itu.
E. KRISIS AKHLAQ
Negeri kita sedang dilanda krisis multidimensi, di antaranya krisis akhlaq. Dalam masa krisis ini terjadi penjungkirbalikan nilai-nilai. Nilai yang baik diputar menjadi salah dan nilai yang salah malah dibenarkan. Dalam situasi seperti ini nilai-nilai mengalami kerusakan. Di antara bentuk-bentuk kerusakan nilai-nilai akhlaq adalah sebagai berikut :
1. Free sex menjadi fenomena yang pantas dicermati. Terjadilah perkembangan pen yakit AIDS, tersebarnya perzinaan, aborsi, dan homoseksual di bawah slogan kebebasan pribadi atau slogan “Ini adalah tubuhku, maka aku berhak melakukan apa pun yang aku kehendaki terhadap tubuhku”.
2. Tersebarnya narkoba dengan segala jenis dan perkembangan perdagangannya, serta menggunakan pelbagai cara dalam memproduksi dan memasarkannya. Kita merasa ngeri dan prihatin menyaksikan betapa besarnya anak-anak muda di negeri ini yang telah menjadi korban narkoba. Hakikatnya narkoba telah membunuh generasi muda bangsa Indonesia. Negeri kita harus dapat mencontoh ketegasan negara tetangga, misal, Malaysia dalam menanggulangi meluasnya penggunaan narkoba.
3. Berkembangnya kriminalitas dengan segala jenisnya. Kriminalitas yang dilakukan secara perseorangan saja sudah cukup merugikan dan meresahkan, apalagi kalau dilakukan oleh sejumlah orang yang terorganisasi secara baik. Tentu akibat buruk yang ditimbulkannya meningkat menjadi lebih besar.
4. Maraknya korupsi di mana-mana. Upaya pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh Pemerintah, memang, mulai nampak. Tapi masih tetap terasa pemberantasannya masih tebang pilih. Kita masih sering mendengar, membaca, dan melihat adanya kolusi misterius antara para pelaku korupsi kaliber kakap dengan aparat penegak hukum. Jika Pemerintah bersih dan berwibawa serta lebih berani lagi tentu dapat memberantas korupsi.
5. Perusakan lingkungan alam yang demikian dahsyat, antara lain kerusakan hutan-hutan di negeri kita yang nyaris total. Penebangan liar atau illegal logging hutan-hutan di negeri ini terus menggila. Apabila hal ini tidak segera dihentikan, menurut para ahli, tahun 2020 seluruh hutan kita akan menjadi padang ilalang dengan segala implikasinya. Khazanah flora dan fauna Indonesia, termasuk keanekaragaman unggas akan punah untuk selamanya.
6. Dalam bidang ekonomi dan kesejahteraan banyak penduduk, warga masyarakat, dan umat yang sangat merasakan kegetiran hidup. Apalagi mereka sangat mudah menyaksikan bahwa yang kaya semakin bertambah kaya sementara mereka yang miskin semakin miskin, mereka yang kuat semakin kuat dan mereka yang lemah semakin lemah. Jurang pemisah antara mereka semakin menganga.
Terhadap krisis akhlaq yang sedang terjadi, kita tidak boleh tinggal diam. Kita harus berani menghadapi dan berusaha mengatasinya dengan melakukan langkah-langkah terapi, mengganti perilaku terlarang dengan akhlaq mulia lagi terpuji yang dididikkan oleh Islam, sebagai berikut :
1. Konsisten. Yang dimaksud konsisten di sini adalah konsisten dengan aturan dan manhaj Islam yang bersumber dari dua dasar utamanya, yaitu : Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Konsisten dengan aturan dan metode ajaran Islam dapat dijabarkan : a. Konsisten dengan Manhaj Aqidah Islam; b. Konsisten dengan Manhaj Ibadah dalam Islam; c. Konsisten dengan Akhlaq Islam; d. Konsisten dengan Manhaj Islam dalam Interaksi Sosial.
2. Mempunyai Loyalitas kepada Islam. Yang dimaksud dengan loyalitas di sini adalah pembelaan dan kecintaan kepada Allah, Rasul-Nya, manhaj-Nya, dan sesama muslim, serta berpilaku berdasarkan ajaran Islam. Memiliki loyalitas kepada Allah dan agama-Nya merupakan sifat dan akhlaq terpenting yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Loyalitas kepada Islam akan menambah kredibilitas orang Islam dan dapat menjadikan mereka semakin kuat. Di samping itu, dengan tidak berpihak kepada musuh-musuh Allah, ruang gerak para musuh tersebut akan menjadi sempit. Loyal kepada Allah tercakup dalam dua kalimat, yaitu melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Adapun loyalitas terhadap Rasulullah saw terwujud dengan mencintai dan mengikuti sunnah beliau, ikut menjaga agama yang beliau bawa, rela menyisihkan kemampuan yang dimiliki dan mau berkurban untuk jihad fi sabilillah. Sedangkan maksud loyalitas kepada aturan atau manhaj Islam adalah ikut serta mempertahankan dan melaksanakan aturan ini dalam kehidupan disertai dengan tertanamnya keyakinan bahwa aturan ini adalah yang paling sempurna, lengkap, dan diridhai Allah. Membela manhaj Islam terimplementasikan dalam berda’wah, melakukan pergerakan Islam, berusaha menegakkan dan menjaga agama-Nya di muka bumi. Loyal terhadap kaum muslimin adalah mencintai, membela, dan memberikan dukungan kepada mereka selama mereka berada di atas kebenaran. Tanpa adanya loyalitas terhadap semuanya itu, maka tentu umat akan terperosok ke dalam jurang kemunduran, keterbelakangan, dan kelemahan.
3. Bersungguh-sungguh. Yang dimaksud dengan bersungguh-sungguh di sini ada dua hal, yaitu : a. ijtihad dan b. menghadapi setiap permasalahan dengan serius dan tidak memandang remeh.
4. Toleran. Toleran adalah lentur dan memberikan kemudahan. Toleran merupakan salah satu akhlaq Islam yang harus dimiliki setiap muslim dalam setiap kesempatan. Kebalikan dari sifat toleran adalah berwatak keras dan berhati kasar. Sifat ini sama sekali tidak diridhai Allah (QS Ali Imran [3] : 159). Islam adalah agama pembawa rahmat, yang mengajarkan sikap lemah lembut dan toleran. Agama Islam tidak mengenal adanya kekerasan, kecuali dalam keadaan terpaksa. Sikap toleran merupakan nilai akhlaq yang sangat penting. Karena dengan sikap ini, Islam dapat diterima oleh setiap orang yang mengenalnya dan oleh setiap orang yang berinteraksi dengannya, meskipun sebelumnya mereka mempunyai keyakinan dan ajaran etika tersendiri.
5. Bersikap moderat. Artinya berada di posisi tengah dalam menghadapi setiap permasalahan. Orang yang moderat adalah yang bisa menyeimbangkan antara dua hal yang berlawanan. Moderat adalah satu sifat utama yang berada antara sikap ekstrem dan sikap terlalu memudahkan. Allah telah memberikan nikmat kepada umat Islam bahwa mereka adalah umat moderat, artinya umat yang adil dan pilihan atau terbaik. Umat Islam adalah umat yang menyandingkan dan menyeimbangkan antara dua kebutuhan, yaitu kebutuhan ruhani dan kebutuhan jasmani.
Demikianlah aplikasi praktis dari pendidikan Islam dalam menghadapi dan mengatasi krisis akhlaq yang sedang merebak. Tentu hal terebut harus diikuti dengan langkah-langkah pemahaman, pendalaman, penyegaran, pengintensifan pendidikan akhlaq (melalui keluarga, sekolah, masjid, masyarakat, dan media cetak serta elektronika), pemasyarakatan, dan penggerakan secara intensif, sabar, istiqamah, dan berkelanjutan.
F. PENUTUP
Sebagai penutup, mari kita tanamkan dalam diri kita masing-masing hasrat untuk berubah di tengah krisis dapat menjadi teladan, dengan mengambil inspirasi dari kearifan tokoh tak dikenal, “Ketika aku masih kecil dan bebas berkhayal, aku bermimpi ingin mengubah dunia. Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifan, kudapati bahwa dunia tidak kunjung berubah. Maka cita-citaku pun agak kupersempit, lalu kuputuskan untuk mengubah negeriku. Namun, tampaknya hasrat itu pun tiada hasil. Ketika usiaku semakin bertambah, dengan semangatku yang masih tersisa, kuputuskan untuk mengubah keluargaku. Orang-orang yang paling dekat denganku. Dan kini, sementara usiaku semakin senja, tiba-tiba kusadari : andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku, dan dengan menjadikan diriku teladan, mungkin aku dapat mengubah keluaargaku. Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka, bisa jadi aku pun mampu memperbaiki negeriku. Kemudian siapa tahu aku bahkan dapat mengubah dunia”.

000

DAFTAR PUSTAKA :
1. At-Tarbiyatul Khuluqiyah oleh Dr. Ali Abdul Halim Mahmud
2. Kuliah Akhlaq oleh Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc, MA
3. Pengantar Kajian Islam Studi Analistik Komprehensif tentang Pilar-pilar Substansial, Karakteristik, Tujuan, dan Sumber Acuan Islam oleh Dr. Yusuf Qardhawy
4. Sistem Ethika Islami (Akhlak Mulia) oleh Prof. Dr. H Rachmat Djatnika

*Disampaikan saat PIR 26 Di PP. BUDI MULYA

Januari 5, 2009

Posted by km3community in Uncategorized.
add a comment

MEMAHAMI QS AL BAQARAH 256*

(M. Sukriyanto A.R)[*]

 

“ Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui “

                              

Riwayat Turunnya Ayat

Ayat ini turun di Madinah. Ayat ini berkaitan dengan masalah keimanan dan “pewarisan”iman kepada anak/turunan.

          Sebelum Islam datang, penduduk Madinah mempunyai kebiasaan mentipkan anaknya kepada orang-orang Yahudi untuk dididik seperti mereka karena ada anggapan bahwa orang-orang Yahudi lebih babik daripada orang Arab asli (yang kemudian menjadi orang Aanshar).

          Hushain, seorang Arab Madinah (Anshar) juga menitipkan kedua anak laki-lakinya pada orang Yahudi. Seagaimana agama orang Yahudi yang beragama Nasrani, kedua anak laki-lakinya pun ikut menganut agama Nasrani. Hushain yang mantap dengan agama Islam berusaha mengajak kedua putranya untuk masuk Islam. Namun, keduanya tetap kukuh beragama Nasrani. Maka Hushain menemui Rasulullah SAW dan bertanya ,” Apakah saya (harus) memaksa  kedua anak saya itu (supaya masuk Islam), karena ternyata keduanya tetap tidak mau meninggalkan Nasrani?”. Karena pertanyaan itu, maka Allah menurunkan ayat 256 Surat Al Baqarah tersebut.

          Dalam riwayat lain dikisahkan bahwa Hushain memaksa kedua anaknya masuk Islam dan karena timbul ketegangan diantara ketiganya, maka ketiganya menemui Rasulullah SAW. Dan Hushain pun bertanya,” Wahai Rasulullah, apakah saya harus berdiam diri melihat darah daging saya ini masuk neraka?”. Kemudin turunlah ayat 256 Surat Al Baqarah. Dan Hushain akhirnya membiarkan kedua anakanya tetap beragama Nasrani.

 

 

Memahami Ayat 256 Al Baqarah

La ikra-ha fi ad di-n. Artinya dalam hal beragama tidak ada paksaan. Oleh karena itu, seseorang baik itu umat Islam, Nasrani, Yahudi dan lainnya tidak bisa memaksa orang lain untuk mengikuti agamanya.

Ayat lain yang serupa maknanya dengan ayat 256 Al Baqarah yaitu ayat 99 surat Yunus:

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?

Dari uraian di atas kita ketahui, bahwa dalam Islam, umat Islam dilarang memaksa umat lain untuk beragama Islam.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana dengan kewajiban dakwah dan pendidikan akidah? Dalam urusan dakwah, telah jelas perintah pada setiap umat Islam untuk mendakwahkan ajaran Islam sebagaimana dalam QS An Nahl 125:

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-Mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesugguhnya tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat di jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

 Juga hadis Nabi yang memerintahkan apa yang datang dari Nabi (Islam) walaupun hanya satu ayat ( ballighu- ‘anni walau a-yatan)

Kelanjutan dari la ikraha fi ad di-n tersebut qad tabyyana rusydu miin al ghayyi, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar(ar rusyd) dengan jalan yang sesat (al ghayyi).

Dari ayat dan hadis tersebut dapat diketahui bahwa umat Islam tetap harus menjalankan dakwah dan tabligh tanpa harus memaksa. Artinya umat Islam harus selalu menyampaikan ajaran Islam kepada siapapun. Umat Islam tetap harus menjelaskan kebenaran Islam (ar rusyd) denngan yang sesat (al ghaiyy). Kalau sudah dijelaskan-disampaikan mereka tidak mau beriman, kewajiban kita sudah selesai.

Yang penting di sini umat Islam harus menanamkan – mendidikkan iman dan Islam kepada keturunannya (anak cucunya), karena menurut hadis Nabi orang tuanyalah yang bisa menjadikan anak Yahudi, Majusi dan Nasrani ( kullu maulu-din yu-ladu ’ala al fithrah. Fa abawa-hu yuhawwidannihi, au majisanihi au yunashira-nihi).

Orang yang mengingkari thaghut, mengingkari adanya kekuatan supranatural (Nyai Roro Kidul), menyembah berhala, tempat maupun benda keramat (Kayi Slamet, Kebo Bule, keris, batu akik), syirik dll dan beriman kepada Allah saja, maka sesungguhnya orang tersebut telah memegangi tali Allah (iman dan islam, urwah al wutsqa) dengan kuat tidak akan tersesat (terputus) (lan fisha-ma laha) dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

 

Penutup

Dari kandungan ayat di atas dapat diambil pelajaran:

  1. Bahwa agama itu (pada dasarnya) tidak bisa dipaksakan.
  2. Ayat ini juga megaskan bahwa tidak benar Islam disiarkan dengan kekerasan, pedang, kekuasaan, dsb karena Islam tidak mengajarkan kekerasan dan pemaksaan.
  3. Setiap orang tua supaya menanamkan Iman dan Islam sejak dini, bahkan sejak dalam kandungan, karena orangtuanyalah yang bisa menjadikan Islam, yahudi, Majusi, atau nasrani.
  4. Umat Islam harus menggalakkan dakwah, menjelaskan Islam (ar Rusyd-kebenaran) setiap waktu, setiap saat, setiap kesempatan kapanpun, dimanapun kepada umat manusia supaya Islam dapat dipahami dengan baik dan benar serta tidak disalahartikan.

Wallahu a’lam.bis shawwab…

 



* Disampaikan dalam kajian Ahad Pagi, 28 Desember 2008

[*] MTDK PP Muhammadiyah

“Islam Agama Anti Penindasan” Desember 17, 2008

Posted by km3community in Uncategorized.
add a comment

ISLAM AGAMA ANTI PENINDASAN1
Oleh: Saiful Azhar Aziz2

Pada dasarnya, semua agama tidak diturunkan dalam ruang hampa, agama diadakan sebagai rahmat untuk semesta alam. Agama dilahirkan untuk menertibkan chaos dan kekacauan yang diproduk manusia. Dalam bahasa lain, semua aturan dan syariat itu diturunkan untuk membawa manusia dari dunia gelap ke dunia terang. Dari peradaban jahiliyah ke peradaban insaniyyah.3
Kalau lebih dicermati, dalam catatan sejarah, semua agama dan juga semua Nabi selalu menjadi musuh suatu peradaban kemungkaran. Dengan alasan apapun, peradaban yang meminggirkan dan menindas sesama selalu akan dimusuhi oleh Tuhan dan para Nabi-Nya. Seluruh pemeluk Islam yakin, kalau kedatangan Muhammad sebagai Nabi adalah untuk membela dan membebaskan kaum-kaum tertindas. Dia selalu menjadi harapan dan pelindung kaum fakir, kaaum miskin, anak-anak yatim, perempuan janda yang terusir, dan juga para budak yang dianiaya tuannya. Islam dan Muhammad adalah sahabat sekaligus penolong kaum mustad’afin, kaum yang lemah secara sosial ekonomi maupun kaum yang dilemahkan oleh sistem sosial yang mungkar dan tidak adil.
Bila kita amati bersama, bagaimana roda zaman telah kembali. Ketika Islam jatuh bangun mempertahankan eksistensinya sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin. pada fase tersebut, keterpurukan secara mental menimpa bangsa jahiliyah ketika itu dan berubah menjadi bangsa yang disegani dengan kedatangan utusan-Nya hingga khulafaur rasyidin. Namun, kita bisa melihat sendiri, bagaimana keadaan umat Islam saat ini berada di sudut peradaban. Mengapa demikian?. Mari kita bertanya pada AlQur’an, “Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian,

1 Dibuat sebagai syarat mengikuti Latihan Kepemimpinan Mahasiswa Kader Bangsa yang diselenggarakan oleh BEM UAD pada tanggal 30 april-2 mei 2008.
2 Penulis adalah Gubernur BEMF. Psikologi UAD 07-08; Kabid. Kader IMM KomFak. Psikologi UAD 07-08; Koor. Dakwah KM3 Yogyakarta 07-08.
3 Kumpulan Makalah Seminar Nasional Agama dan Kemungkaran Sosial; “mengajak agama membicarakan kaum New-mustad’afin” di Gedung Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta pada tanggal 26 april 2008.


kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran” (QS. Al-‘Asr: 1-3). Secara konseptual, nilai-nilai ketuhanan telah banyak diingkari oleh umat Islam saat ini, dimana rezim yang berkuasa dan rakyat meronta-ronta mengusung makna ‘penindasan’. Ketika keimanan, kebajikan, kebenaran, dan kesabaran sudah menjadi ‘barang bekas’, banyak ditinggalkan. Maka, apa yang terjadi, kekurangan dimana-mana. Para pemimpin bangsa ini merasa sudah memberikan apa yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya kepada rakyatnya, begitu pula para rakyat ‘proletar’ berteriak, bahwa para pemimpin negeri ini tidak pernah memberikan hak-hak nya sebagai warga Negara, tidak ada konsep memanusiakan manusia, yang ada hanya pahala-pahala politik semata. Dengan demikian, menimbulkan berbagai masalah yang tak ada henti-hentinya. Apa yang bisa kita lakukan?, bertindak ataukah berbicara?.
Bukan maksud saya untuk mengatakan, bahwa sekarang ini bukan waktunya untuk bertindak dan bekerja, sebab berbicara dan bertindak, menganalisa dan mengamalkan harus erat bergandengan. Inilah praktik Rosul. Beliau tidak pernah memisahkan kehidupan menjadi dua, bagian-bagian pertama khusus untuk berbicara dan bagian kedua khusus untuk bertindak. Maka sungguh naïf mereka yang menyatakan, bahwa “kita telah cukup banyak berbicara dan bahwa sekarang adalah waktunya untuk bertindak”.
Tugas intelektual hari ini ialah mempelajari dan memahami Islam sebagai aliran pemikiran yang membangkitkan kehidupan manusia, perseorangan maupun masyarakat, dan bahwa sebagai intelektual kita memikul amanah demi masa depan umat manusia yang lebih baik. Kita harus menyadari tugas ini sebagai tugas pribadi dan apapun bidang studinya kita harus senantiasa menumbuhkan pemahaman yang segar tentang Islam dan tentang tokoh-tokoh besarnya, sesuai bidang masing-masing. Karena Islam mempunyai berbagai dimensi dari aspek maka setiap orang bisa menemukan sudut pandang yang paling tepat sesuai dengan bidangnya.4
Salah satu contoh terdapat dalam kesetaraan gender dalam peran publik, dalam diskursus feminisme dikenal istilah peran domestik dan publik. Yang pertama, berarti peran perempuan dalam rumah tangga, baik sebagai isteri maupun ibu.

4. Paradigma Kaum Tertindas, Ali Syari’ati. 2001, Islamic Center Al-Huda

Peran ini biasa disebut dengan sebutan ibu rumah tangga. Sedangkan yang kedua berarti peran perempuan di masyarakat, baik dalam rangka mencari nafkah maupun aktualisasi diri dalam berbagai aspek kehidupan; sosial-politik-ekonomi-pendidikan-dakwah dan lain sebagainya.5
Dalam konteks kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, pertanyaannya adalah apakah perempuan diizinkan mengambil peran publik sebagaimana halnya laki-laki, atau peran perempuan dibatasi di dalam rumah tangga semata, atau paling kurang dibatasi sehingga ada peran-peran tertentu tidak boleh dimainkan oleh perempuan sebagaimana halnya laki-laki?.
Hal ini menjadi perbincangan yang menarik ketika substansi keadilan tidak didapatkan oleh kedua belah pihak, yaitu laki-laki dan perempuan. Secara biologis memang kedua makhluk ini sangat berbeda, dimana dominasi kelemahan terdapat pada kaum perempuan. Hal tersebut yang menjadi bulan-bulanan kaum laki-laki yang terlihat lebih kuat dibanding perempuan untuk melakukan segala aktfitas penindasan, entah secara fisik, mental maupun peran publik. Kaum perempuan merasa, sabotase kaum laki-laki sudah berlebihan dengan tidak memberikan ruang-ruang kreatifitas dan aktifitas yang setara dengan kaum laki-laki, bahkan pengelolaan tampuk kepemimpinan pun perlu adanya keterlibatan kaum perempuan di dalamnya hingga posisi-posisi strategis pada hierarki kekuasaan.
DR. Nasaruddin Umar, MA. Dalam bukunya Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Qur’an berpendapat bahwa, ada beberapa variabel yang dapat digunakan sebagai standar menaganalisa prinsip-prinsip kesetaraan gender dalam AlQur’an. Variabel-variabel tersebut antara lain sebagai berikut:6
1. Laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai hamba.
(QS. Az-Zaariyaat 51:56), (QS. Al-Hujuraat 49:13), (QS. An-Nahl 16:97)

5 Kesetaraan gender dalam Alquran, DR. H. Yunahar Ilyas, Lc. MA. Labda Press. YK 2006
6 DR. Nasaruddin Umar, MA. Dalam bukunya halaman 247-264 dan makalah Dr. Siti Syamsiyatun pada Seminar Nasional Agama dan Kemungkaran Sosial “mengajak agama membicarakan kaum new-mustad’afin di Gedung PP. Muhammadiyah Yogyakarta pada tgl 26 april 2008.


2. Laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai hamba.
(QS. Az-Zaariyaat 51:56), (QS. Al-Hujuraat 49:13), (QS. An-Nahl 16:97)
3. Laki-laki dan perempuan sebagai khalifah di bumi.
(QS. Al-An’am 6:165), (QS. Al-Baqarah 2:30)
4. Ruh semua laki-laki dan perempuan menerima perjanjian primordial untuk mengakui Allah sebagai Rabb.
(QS. Al-A’raf 7:172), (QS. Al-Isra’ 17:70), (QS. Al-Ma’idah 5:89), (QS. Al-Mumtahanah 60:12)
5. Adam dan hawa yang mempresentasikan manusia laki-laki dan perempuan terlibat dalam drama kosmis turunnya mereka dari surga menuju ke bumi.
(QS. Al-Baqarah 2:35), (QS. Al-A’raf 7:20-23), (QS. Al-Baqarah 2:187)
6. Laki-laki dan perempuan berpotensi meraih prestasi.
(QS. Ali-Imran 3:195), (QS. An-Nisa’ 4:124), (QS. An-Nahl 16:97), (QS. Ghaafir 40:40)

Pada zaman Muhammad yang kemudian menjadi Nabi dan Rosul SAW, Islam datang membawa pencerahan kepada masyarakat jahiliyah. Pada saat itu, perempuan tak jauh beda dengan barang dagangan yang diperjualbelikan, perzinahan disana-sini, penindasan hak-hak perempuan sangat kental terjadi, mulai dari pendidikan, militer, politik, ekonomi, dan lain sebagainya. Anak yang lahir perempuan merupakan aib yang sangat nyata bagi masyarakat jahiliyah ketika itu. Namun bagaimana Islam datang membawa suatu perubahan yang sangat monumental. Hak-hak perempuan diangkat, harkat martabat sebagi perempuan serta harga diri sebagai perempuan dimuliakan dengan berbagai aturan-aturan yang menjadikan betapa pentingnya kehadiran perempuan di muka bumi ini.
Salah satu cara untuk mengatasi hal semacam itu, Islam dengan berani mengimplementasikannya ke dalam nilai-nilai kemanusiaan.
Nilai-Nilai Kemanusiaan, yaitu: ilmu, amal, kebebasan, dan keadilan.8

8 Sistem masyarakat Islam dalam AlQuran dan sunnah, DR Yusuf Qardhawi, 1997. Maktabah Wahbah Cairo. Mesir

Ilmu merupakan salah satu nilai yang luhur yang dibawa Islam dan yang tegak di atasnya kehidupan manusia baik secara moril maupun materiil, duniawi maupun ukhrawi. Islam menjadikannya sebagai jalan menuju keimanan dan yang memotivasi amal. Sekaligus karunia (ilmu) ini pula yang membuat, manusia diberi amanah sebagai khalifah di muka bumi ini. Karena dengan ilmu tersebut, Adam sebagai bapak manusia diberi kelebihan atas malaikat (dan makhluk lainnya) yang sempat penasaran sehingga mempermasalahkan pemberian amanah ini. Dengan alasan bahwa mereka (para malikat) lebih berbakti beribadah kepada Allah daripada manusia yang suka membuat kerusakan di bumi dan menumpahkan darah.
Sesungguhnya Islam adalah agama ilmu, dan AlQuran adalah kitab ilmu. Ayat-ayat AlQuran yang pertama kali turun kepada Rosulullah SAW adalah “Iqra’ bismi Robbikal ladzii khalaq”. Mambaca adalah kunci untuk memahami ilmu, dan AlQuran merupakan “Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa arab, untuk kaum yang berilmu.” (Fushshilat:3). AlQuran telah menjadikan ilmu sebagai asas dan standar kemuliaan antara manusia. Allah SWT berfirman:
“Apakah sama orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang tidak berilmu.” (Az Zumar: 9).
AlQuran telah menjadikan ilmu sebagai asas dan standar kemuliaan antara manusia. Allah SWT berfirman:
“Apakah sama orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang tidak berilmu.” (Az Zumar: 9).
Ilmu salah satu solusi yang tepat untuk meminimalisir terjadinya bentuk-bentuk penindasan dalam skala yang lebih konkret. Ketika seseorang memiliki kapasitas pengetahuan yang cukup untuk melihat adanya suatu ketidakadilan, maka individu tersebut akan mengerahkan energi-energi secara psikis maupun fisik sebagai bentuk perlawanan terhadap sesuatu yang menekan dirinya. Islam sebagai agama ilmu, menjawab persoalan itu. Bagaimana ilmu dijadikan sebuah standar kebebasan seseorang untuk mengaktualisasikan kreatifitas dan aktifitasnya dalam berinteraksi dengan masyarakat, keluarga, dan interaksi dengan dirinya maupun Tuhannya. Kemudian, apa yang terjadi sesungguhnya?. Ketertindasan seseorang merupakan kebalikan dari keberdayaan seseorang dalam melihat fenomena yang ada pada dirinya maupun lingkungan disekitarnya. Keterkungkungan pola pikir dan terbelenggunya daya gerak manusia adalah salah satu indikasi telah terjadinya suatu bentuk penindasan. Dengan ilmulah itu itu semua dapat dibebaskan.
Amal adalah buah ilmu, amal juga merupakan buah keimanan yang benar, karena tidak mungkin ada keimanan tanpa amal. Ketika ilmu sudah menjadi pijakan riil dalam bergerak dan berkarya, maka pohon akan sangat bermanfaat disaat buahnya dapat dirasakan oleh orang yang ada disekitarnya. Oleh karena itu, pengamalan ilmu sangat diperlukan sebagai implikasi dari kebebasan seseorang yang kemudian diimplementasikan ke dalam nilai-nilai kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. Seorang mahasiswa ketika melihat suatu fenomena sosial yang merugikan secara personal maupun lingkup masyarakat yang lebih luas, dengan pengetahuan tersebut ia sosialisasikan ke dalam bentuk pemahaman pola pikir masyarakat setempat. Kemudian melakukan penelitian lebih jauh dengan apa yang telah terjadi dalam suatu kebijakan-kebijakan pemerintah yang dilihat terdapat bentuk-bentuk pengekangan hak-hak kemasyarakatan, itu semua menelurkan kesadaran masyarakat yang akhirnya penolakan dan perlawanan disana sini untuk mendapatkan keadilan. Itulah amal, ketika ilmu sudah menjadi amal, maka akan sangat bermafaat bagi orang-orang disekitarnya.
Diantara nilai-nilai kemanusiaan yang juga sangat diperhatikan oleh Islam adalah “kebebasan”, yang dengannya dapat menyelamatkan manusia dari segala bentuk tekanan, paksaan, kediktatoran, dan penjajahan. Kebebasan disini meliputi: kebebasan beragama, kebebasan berpikir, kebebasan berpolitik, kebebasan madaniyah (bertempat tinggal) dan segala bentuk kebebasan yang hakiki dalam kebenaran.
Adil (keadilan), apa itu adil?. Yang dinamakan adil ialah proporsional, di dalamnya terdapat porsi-porsi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Dalam satu keluaraga, dimana terdapat tiga orang anak dengan tingkat pendidikan yang berbeda, mulai dari TK, SD, dan SMP. Dalam persoalan sederhana saja, yaitu pengeluaran kebutuhan sekolah, entah itu persoalan seragam, jajan, alat tulis, buku paket, privat dan lain sebagainya.. Orangtua yang adil, yaitu memberikan kebutuhan pengeluaran yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Apabila keadilan itu diartikan sebagai suatu yang harus sama dan seimbang. Maka, keadilan itu justru menyengsarakan anak tersebut. Mengapa?, apabila orangtua mereka memberikan dana yang sama, semisal mereka seribu rupiah (sama semua). Maka keadilan tersebut tidak didapatkan oleh masing-masing anak. Karena memang kebutuhan mereka berbeda-beda. Namun, ketika kebutuhan itu dipenuhi sesuai porsi masing-masing anak, maka penggunaannya akan sangat efektif dan bermanfaat.
Islam dalam perspektif merupakan agama anti dalam segala bentuk penindasan dan ketidakadilan. Islam sebagai rahmatan lil ‘alaamin mampu mengakomodir segala bentuk perbedaan dan mampu menjadi solusi tepat dalam berbicara maupun bertindak. Wallaahu ‘alam bisshawwab

DAFTAR PUSTAKA

Ilyas, Y. 2006. Kesetaraan gender dalam AlQuran, Penerbit: Labda Press, Yogyakarta
Syari’ati, A.. 2001. Paradigma Kaum Tertindas, Penerbit: Islamic Center Al-Huda, Jakarta
Umar, N. 1999. Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Qur’an, Penerbit: Paramadina, Jakarta
Qardhawi, Y. 1997, Sistem masyarakat Islam dalam AlQuran dan sunnah, Maktabah Wahbah Cairo, Mesir.

Gerakan Korps Muballigh Mahasiswa Muhammadiyah (KM3). Juli 2, 2008

Posted by km3community in Uncategorized.
4 comments

oleh : Idrus Aqibuddin

Gambaran Umum

Indonesia merupakan negara dengan penduduknya yang mayoritas beragama Islam. Artinya, dari segi kuantitatif umat Islam memberikan kontribusi yang besar dalam kehidupan bermasyarakat di negara ini. Umat yang sedemikian banyaknya ini tersebar dalam berbagai lapisan masyarakat kecil (rakyat biasa) sampai penguasa, mulai dari masyarakat marginal sampai masyarakat atas (elite) secara ekonomi (konglomerat), dari masyarakat awam (secara Intelektual) sampai golongan cerdik pandai (intelektual). Potensi yang sangat besar inilah yang seharusnya bisa menampilkan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin dari berbagai lini atau segi kehidupan, sebuah kekuatan yang diharapkan bisa membawa Indonesia menuju sebuah negara yang rakyatnya memenuhi kriteria masyarakat madani. Namun kenyataan yang kita saksikan dewasa ini ‘kurang tepat’ apabila kita masukkan dalam kategori masyarakat madani. Dan konsekuensi logis dari beberapa pemaparan diatas adalah bahwa umat Islam-lah yang paling bertanggungjawab terhadap keadaan di Indonesia tercinta ini. Yang menjadi pertanyaan adalah, kemanakah wajah Islam –yang dianut mayoritas masyarakat Indonesia- yang katanya rahmatan lil ‘alamin? Atau Islam hanya dijadikan simbol (lipstik) semata, tanpa kesadaran akan pentingnya sebuah akhlak-moral secara Islami?

Perkembangan dunia Informasi dan Tekhnologi yang mengalami kemajuan sangat pesat, telah menyebabkan tipisnya jarak antara wilayah di dunia ini. Dinding tebal dimensi ruang yang memisahkan jarak antar wilayah tersebut dapat dengan mudah ditembus hanya dalam waktu yang sangat singkat. Selain memberikan nilai positif, fenomena ini juga memberikan dampak yang kurang kondusif atau bahkan cenderung negatif. Dari gaya hidup (life style) sampai pada tataran pemikiran. Seperti yang dapat kita saksikan di sekitar kita, dimana pengaruh dari luar (Barat) telah menggelayuti (doktrinasi) gaya hidup masyarakat Indonesia. Gaya hidup yang cenderung kebarat-baratan (westernisasi) yang kadang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Kebanyakan kaum mudalah yang terkena ‘wabah’ ini, karena dalam usia-usia inilah mudah untuk menerima pengaruh yang datangya dari luar dan membuktikan kenikmatan-kenikmatan secara kasat mata. Disamping itu, ada pula fenomena pemikiran-pemikiran yang di doktrinasi oleh wacana apologis kekiri-kirian yang mengakibatkan keimanan dan ketaqwaan seseorang menjadi luntur. Masih banyak lagi pengaruh dari luar yang masuk dan menyeruak dalam sendi kehidupan masyarakat, baik dalam bidang seni, ilmu pengetahuan, kehidupan sosial ekonomi, hukum bahkan sampai pada politik.

Orang-orang Non-Muslim membaca dan memanfaatkan peluang-peluang diatas, yang ada pada bangsa Indonesia dengan Multi-krisis yang masih melanda negara Indonesia. Ada hal penting yang harus mendapat perhatian, yakni strategi pemurtadan yang mereka gunakan. Yang pertama, adalah dengan tawaran berupa materi dengan sasaran masyarakat yang sedang mengalami kesulitan ekonomi. Hal ini, kemiskinan di Indonesia dijadikan sebagai media untuk pengkafiran dan pemurtadan. Yang kedua adalah dengan membidik kehidupan budaya masyarakat, bisa melalui pergaulan remaja dan gaya hidupnya (life style) -tawaran busana atau mode you can see-, perkawinan campur (antar agama), sampai pada tayangan-tayangan televisi yang hanya menjadi tontonan tanpa adanya tuntunan, dan sebagainya. Pergaulan yang dialami atau digandrungi oleh kawula muda (remaja) tersebut digunakan sebagai mediator untuk mensosialisasikan misinya yang membawa kenikmatan-kenikmatan secara materi dan kepuasan yang merasionalkan bahwa sebuah kehidupan sekarang merupakan kehidupan nyata yang perlu dituruti (manja). Yang ketiga adalah tawaran-tawaran yang diterapkan dalam dunia pendidikan. Hal ini terlihat pada sebuah permasalahan karakteristik yang berjiwa kritis, tetapi tidak dimanfaatkan atau dicerna secara rasional-normatif. Artinya, semua referensi pemikiran yang dibawa tersebut tidak di kembalikan kepada referensi ajaran Islam (Al-Qur’an dan Al-Sunnah) namun malah sebaliknya yakni dijadikan sebagai sumber kebenaran yang otentik. Secara tidak langsung, hal tersebut merupakan salah satu dari sekian metode atau strategi misi pemurtadan yang diterapkan sesuai dengan realitas sekarang untuk mencapai tujuan akhirnya yakni me-Non Muslim-kan semua ummat di Indonesia khususnya Ummat Islam.

Tentang Korps Muballigh Mahasiswa Muhammadiyah (KM3).

Da’wah Islam sebagai wujud penyeru dan membawa ummat manusia ke jalan Allah pada dasarnya harus dimulai dari orang-orang Islam itu sendiri sebagai pelaku da’wah sebelum berda’wah kepada orang lain hingga mencangkup lebih luas sesuai Firman Allah “Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu ….” (QS. At-Tahrim, 66: 6). Upaya untuk mewujudkan ajaran Islam dalam kehidupan dilakukan melalui da’wah itu yakni dengan mengajak kepada kebaikan (Amar Ma’ruf), mencegah dari yang mungkar (nahi mungkar) dan mengajak untuk beriman (Tu’minuna Billah) guna terwujudnya ummat yang sebaik-baiknya (Khairu Ummah).

Dengan melihat peluang dari MTDK PP Muhammadiyah dalam melaksanakan Pelatihan Nasional Muballigh Mahasiswa Muhammadiyah (selanjutnya dibaca; PNM3) yang dijadikan sebagai media untuk mempertemukan kader-kader Muhammadiyah dengan maksud dan tujuan agar membentuk wadah da’wah sebagai “tangan lanjutan’ untuk membantu da’wahnya Muhammadiyah dianggap sebagai moment yang tepat. Adapun PNM3 ini sudah berjalan dari tahun 2003 – 2008 atau kurang lebih sudah 6 kali pelaksanaan dan para peserta delegasi zona (D.I. Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Jabodetabek, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Bengkulu).

Setelah pelatihan tersebut para alumni PNM3 sepenuhnya di kembalikan ke wilayah atau daerahnya dan akademik (kampus) masing-masing agar melanjutkan perjuangannya dalam berda’wah. Untuk melaksanakan amanah tersebut, alumni dari zona wilayah D.I. Yogyakarta berinisiatif dan bertekad untuk merealisasikannya.

Dan hendaklah ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar …”. Dan kata ‘ada segolongan umat’ dapat diartikan sebagai kepekaan umat untuk berda’wah secara kolektif (jama’i), sehingga perlu adanya ‘wadah/organisasi’ untuk merealisasikannya. Hal inilah yang dijadikan dasar pijakan betapa pentingnya sebuah wadah atau organisasi sebagai kendaraan untuk berda’wah. Sehingga dengan waktu yang tidak cukup lama para alumni PNM3 berkonsolidasi untuk komitmen membantu da’wah Muhammadiyah dengan membentuk wadah organisasi. Namun, sebelum ke ranah itu para alumni PNM3 membuktikan dirinya terlebih dahulu dengan menawarkan dan merealisasikan program kegiatan da’wahnya. Hal itu dibuktikan dengan kegiatan da’wahnya yang cenderung ke masyarakat seperti; Muballigh Hijrah, membentuk Desa Binaan, pelatihan merawat jenazah, pendampingan Pesantren Kilat, mengadakan Pengajian, dan Diskusi.

Setelah program kegiatan itu dirasa cukup untuk membuktikan komitmen para alumni PNM3 (kader) dalam berda’wah, maka pada tanggal 13 februari 2005 bertepatan dengan 27 Muharram 1426, 8 (delapan) orang dari Koordinator Wilayah Yogyakarta diantaranya Idrus Aqibuddin S.Pd.I, Winarno S.Kom., Ust. Teguh Isnaeni, Abdullah Mu’in S.T., Wiwit Laila Sari A.Md. Keb., Ust. M. Aris Jatmiko, Attmaji Budisatoto S.T. dan Ust. Susanto (adapun yang diutus untuk berangkat Idrus Aqibuddin dan M. Aris Jatmiko) ‘mengetuk pintu’ atau silaturrahmi dengan pihak pengurus MTDK PP Muhammadiyah yang di wakili oleh bapak Drs. H. Yusuf A Hasan M.Ag. dengan tujuan supaya alumni PNM3 memiliki wadah tersendiri agar lebih dan leluasa dalam bergerak. Dan akhirnya ada hasil kesepakatan bahwa:

  1. Pelatihan Nasional Muballigh Mahasiswa Muhammadiyah adalah sebagai media pengkaderan untuk mencetak kader Muballigh-Muballighat Muhammadiyah. Maksudnya pelatihan ini dijadikan sebagai wahana untuk mempertemukan dan mencetak kader dalam berda’wah. Setelah pelatihan tersebut, maka ada tindak lanjut (follow-up) yakni semua kader diharapkan untuk mengembangkan da’wahnya di wilayah/daerah masyarakat dan kampus masing-masing.

  2. Struktur kepengurusan KM3 keseluruhan bersifat sebagai Koordinator Wilayah/Daerah. Maksudnya seluruh jajaran KM3 se-Indonesia memiliki hubungan yang sama atau sederajat yakni sebagai koordinator di wilayah atau daerahnya masing-masing.

  3. Semua bentuk kegiatan atau program KM3 diserahkan sepenuhnya kepada pengurus KM3 itu sendiri. Maksudnya KM3 diharapkan untuk lebih produktif, kreatif dan inovatif dalam menawarkan dan merealisasikan program-program kegiatan yang sudah terencana.

  4. Hubungan KM3 dengan MTDK Muhammadiyah secara struktural bersifat Koordinasi. Artinya setelah terlepas dari Pelatihan Nasional Muballigh Mahasiswa Muhammadiyah, pengurus KM3 dianjurkan untuk berkomunikasi dengan MTDK PWM atau MTDK PDM untuk mensosialisasikan maksud dan tujuan KM3 dan menindaklanjuti program-program yang telah terencana, KM3 bukan Organisasi Otonom (Ortom Muhammadiyah) melainkan berdiri sendiri (independen) dan untuk lingkungan Akademik kampus sepenuhnya diserahkan pada kebijakan (policy) kampus dan pengurus KM3 itu sendiri.

Korps Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah atau di singkat KM3 ini, yang nota-benenya adalah sebagai generasi ummat Islam untuk bisa beramar ma’ruf nahi munkar dan bertu’minuna billah, berusaha untuk membantu meminimalisir dan meluruskan semua problematika yang belum maupun yang sedang dan akan dialami oleh ummat Islam khususnya masyarakat yang masih awam atau buta dengan wacana keagamaan yang sesuai dengan ajaran agama Islam. Tapi semuanya itu apalah artinya kalau dari kalangan internal (sesama muslim) tidak ada keharmonisan dan konsistensi untuk berjihad fi sabilillah. Maka dari itu semua dukungan terutama dari kalangan yang sudah berpengalaman untuk bisa bekerjasama dan berpartisipasi kepada calon generasi penerus da’wah Islam ini. Dan tentunya kita semua juga terus memanjatkan doa kepada Allah SWT Sang pencipta dan penghancur serta Sang Maha segalanya, agar semua tujuan baik, amalan dan ibadah diberi jalan yang lebih lapang dan memudahkan kita untuk terus berjuang dan berjuang di jalan Allah SWT. Amin.